cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar cara membuat link pada gambar

Rere part 3

Part 3

Rere

“LO DAH JANJI!!!… LO BILANG GUE BOLEH BALIK KE SEKOLAH!!!!” teriak Rere histeris dengan suara hampir melengking memprotes keputusan Ben yang ingkar, menagih janjinya yang diberikan beberapa hari lalu bahwa meskipun dia disekap dan ditawan, Ben membolehkan Rere untuk tetap sekolah dan melanjutkan studinya. Tapi kenyataan ketika dia menuntut untuk dapat pergi ke sekolah lagi, janji itu tidak pernah ditepati. Rere meledak…seolah segala sesuatu yang berkecamuk di hatinya semenjak dia ditahan, tumpah dan meruah. “LEPASIN GUE!!!!… LEPASIN GUE!!! LO MANIAK!!!” Dengan segala kekuatan yang ada di tubuh lemahnya Rere melempar dirinya ke hadapan Ben, memukuli dan mencakari Ben sekuat kuku kecilnya dapat melukai, yang ternyata di respon acuh oleh Ben seolah dia tidak merasakan apa-apa. “LEPASIN GUE DARI SINI!!!… GUE GAK MAU DI SINI TERUS!! LO PEMBOHONG!!! KENAPA GAK LO BUNUH AJA GUE SEKALIAN!! HA??!!” Kali ini tidak ada air mata di kedua


kelopaknya, dia benar-benar tidak bisa memaafkan Ben, sehingga kalau dia diberikan kekuatan, meskipun Ben tidak mau, dia ingin membunuh dirinya sendiri. Harapan untuk hidup normal dan bahagia betul-betul sudah sirna dari garis masa depannya. “JANGAN DIAM AJA LO PENGECUT!! APA PENJELASAN LO KALI INI, HA?? DASAR MANIAK!! LEPASIN GU…” Plak!!


“DIAAAAMMM!!!!!” dengan tiba-tiba Ben menampar Rere ketika dia tidak tahan lagi dengan semua teriakan Rere. Rere terlempar keras terjatuh di lantai karpet, wajahnya tidak sengaja menyerempet tepi tempat tidur dan meninggalkan goresan luka di pelipisnya. Darah menetes dari ujung lukanya. Tapi Rere tidak perduli, dia tidak merasakan sakit sama sekali. Diseka pelipisnya dengan punggung tangannya yang menorehkan tinta darah di kulitnya. Dia bangun dan terus menghampiri Ben seolah menantang siap menghadapi apapun yang akan terjadi.


“Tampar gue lagi…” darah itu kini telah menetes sampai di pipinya. “Tampar gue lagi…” Rere sendiri juga terkecoh dengan kelakuannya. Tetapi dia yakin, apapun yang akan terjadi, terjadilah. “Cuma itu aja kan yang lo bisa!? Iya kan ??” Dia memantapkan wajahnya mendekati wajah Ben, membelalakkan matanya.


“Keputusan gue waktu itu klise…” Ben tak kalah sinisnya menghadapi Rere. “Coba lo pikir, apa gue bisa ngelepasin lo gitu sementara gue tau lo pasti masih nyoba cari cara lagi buat lepas dari gue?” Ben mengetuk dahi Rere dengan telunjuknya, “Pikir pake otak dong!! Gue gak sebego yang lo pikir!!” Ben kini menjauh dari Rere, meletakan pantatnya di sofa tepat di belakang Rere. Menyulutkan api ke batang rokok yang sudah dijepit di antara kedua bibirnya. Menghisap rokok itu dalam-dalam ke paru-parunya “Meskipun emang gue punya rekaman porno lo… dan dapet kartu As lo…tapi gue masih gak sudi kalo lo nanti ketemu Albie lagi…” Ben meniupkan asap rokok keluar dari tubuhnya. “Jadi, gue masih mikir-mikir lagi buat ngijinin lo keluar dari sini…” Ben masih terus dengan santai menghisap rokoknya. “Tapi kalo lo masih tetap maksa buat keluar… yaaa… berarti lo maksa gue buat nyebarin film-film panas lo…” katanya menatap ringan lawan bicaranya.


“Basi tau gak lo!!” kali ini Rere betul-betul tidak takut lagi pada Ben. Semua ancaman-ancaman Ben selama ini seperti angin lalu saja. Dia pun menghampiri dan berdiri tepat dihadapannya. “Gue dah gak peduli lo mau ngapain hidup gue… Udah cukup gue selama ini ngalah sama lo!!” Dada Rere naik turun menahan setiap amarah yang keluar dari tiap kata-katanya. “Gak ada hal yang baru lagi apa yang bisa lo lakuin?? Kecuali ancaman basi lo!? Dasar lo pengecut!! Banci banget sih lo!!” Puas rasanya memaki-maki Ben seperti itu. Dan melihat Ben menunduk seperti itu menerima ocehannya, Rere semakin menjadi-jadi mengeluarkan semua unek-uneknya. Tapi tepat ketika Rere akan memulai untuk menumpahkan tentang betapa pengecutnya Ben yang hanya berani pada satu wanita dan harus digawangi oleh ketiga teman-temannya yang lain, Ben tiba-tiba menatap Rere ke atas dari tempat duduknya. Rere tidak bisa mengenali tatapan Ben itu. Dia belum pernah melihat Ben melihatnya seperti itu. Dan perlahan tapi pasti, tatapan buas itu dikembangkan oleh senyuman Ben yang sinis. Mengingatkan Rere pada topeng joker dalam film Batman yang tersenyum tipis berbahaya.


Ben tidak berkata apa-apa, tetapi tiba-tiba dia bangkit berdiri mengagetkan Rere di depannya. Ben beranjak menuju kamar lemarinya dan menguncinya dari luar. Rere tidak mengerti akan apa yang dilakukan Ben sekarang. Lalu Ben berpindah ke sebuah lemari besar di sudut ruangan. Dia menjangkau tas besar di atas lemari tersebut. Membuka tas itu dan meletakan dengan sembarangan di lantai. Kemudian Ben mulai membongkar lemari di mana baju-baju Rere ada di dalamnya. Merampas dengan kasar semua pakaian-pakaian Rere yang ada di dalamnya. Panties, bra, bahkan lingerienya pun dimasukkan ke dalam tas besar tersebut. Dalam 2 menit, Ben sudah mengosongkan seluruh isi lemari yang dulu dibelikannya untuk dipakai Rere. Selesai mengunci pakaian itu, dia menyapu sekeliling kamar dengan pandangannya. Rere tidak mengerti apa sebenarnya yang dilakukan Ben. Setelah selesai menyapu ruangan dengan pandangannya, Ben menarik tas besar tersebut dan membawanya ke luar kamar. Belum selesai Rere memecahkan teka-teki ini, tiba-tiba Ben masuk kembali ke dalam kamar dan memandang Rere penuh arti.


“Apa maksudnya ini??“ Rere mengatakan kalimat yang pertama kali timbul dalam otaknya. Tetapi Ben hanya tersenyum. “Apa kita mau pindah dari sini??” Rere mulai lagi, dia berpikir mungkin Ben sudah mengusirnya pergi dari tempat itu.


“Buka baju lo!!” Ben berkata dengan nada yang seolah memaksa.


“Maksud lo apa?!” spontan Rere memeluk dirinya sendiri, seolah pernyataan Ben seperti mau memerkosanya.


“Udah!! Buka baju lo sini!!” dengan kasar Ben menarik pakaian dari tubuh Rere, berusaha untuk menelanjanginya.


“Enggak!! Ngapain lo!! LEPASIN GUE!!!” Rere berusaha berkutat untuk mempertahankan pakaian yang ada ditubuhnya. Dia tahu keadaan ini tidak mungkin sesuatu yang baik. Dia kembali mengabsorbsi tindakan Ben merampas semua pakaiannya. Nampaknya Rere mulai mengerti.


Tetapi, dengan keadaan tenaga yang sangat kontras antara mereka berdua, Rere mulai terpojok ke sudut ruangan, dengan masih bersandar ke tembok dia terus memeluk pakaian yang ada di tubuhnya seolah itu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya saat ini.


“Jangan!!… Lepasin gue!! Jangan ganggu gue!!!” apapun yang dikatakan Rere tampaknya hanya angin lalu untuk Ben. Tapi, alih-alih melepaskan pakaian Rere, karena perlawanan Rere yang keras, Ben malah mengoyak pakaian Rere dan seperti kerasukan sesuatu, Ben masih saja dengan kesetanan mencabik-cabik pakaian Rere sehingga rusak total.


Sekarang Ben bisa melihat buah dada Rere yang mengkilat karena keringatnya dari perlawanannya –padahal ruangannya itu ber-AC, buah dada itu naik turun mengikuti irama nafas berat siempunya seperti menari ditempatnya. Dan potongan-potongan pakaian yang koyak itu seolah menjadi asesories di sekitar gunung kembar itu. Sesuatu berdenyut di selangkangan Ben. Seringai Ben seolah di-amin-i oleh ‘adik kecil’nya.


“Apa maksud lo!!” walaupun terpojok, Rere terus saja melawan ketika dia sudah dapat mengendalikan nafasnya. “Mau lo apain baju-baju gue!!?” Tapi Ben tidak menjawab. Bahkan seringai mautnya makin berkembang. “Ben, jangan gila!!” teriak Rere ketika dia melihat Ben membuka celananya sendiri.


Tapi Ben hanya tersenyum, dan dia segera mengunci Rere ketembok dengan satu tangannya, tepat ketika Rere ingin menghindarinya. Rere berusaha untuk terus berkutat. Dia sedang tak ingin diperkosa saat itu. Dia tidak mood untuk seks pada saat seperti ini.


“Gak mau…!! Lepasin gue!!!” Ben tetap diam seribu bahasa, dia terus mengunci mahluk cantik di hadapannya ke tembok. Rere terkejut ketika celana dalamnya dikoyak kasar oleh Ben. Kejadian itu begitu cepat sampai akhirnya dia tidak memakai bawahan sama sekali di tubuhnya. Seolah, daerah yang seharusnya vital menjadi kawasan bebas pandangan dengan kostum compang-camping di atasnya. Sedetik kemudian, Ben menempelkan badannya di badan Rere.


Meskipun dalam posisi berdiri, tapi dengan terpepet ke tembok seperti itu, Rere sama sekali tidak bisa berkutik. Juga ketika dia merasakan Ben mengangkat kaki kirinya dan meletakkannya ke pinggul Ben, barulah dia merasakan sesuatu yang panjang dan keras sedang menempel di daerah vitalnya. Ben terus berusaha mengalungkan salah satu kaki Rere ke pinggulnya. Salah satu tangannya mencoba meraih ‘adik kecil’nya yang sudah bangun sementara badannya terus menempel menekan tubuh Rere merapat di tembok. Dia menuntun tubuh kejantanannya untuk mencari lubang di selangkangan tubuh lawannya.


“Gue gak mau!! Jangan di paksa!! Lepasin!!!” Rere terus menghindar manakala Ben berusaha untuk mencium bibirnya. Dia terus membuang wajahnya ke kanan kiri untuk menghindari ciuman Ben. “Jangan…!” teriak Rere ketika salah satu tangan Ben memegang pantatnya dan berusaha mengangkat tubuhnya yang sudah setengah melingkari pinggul Ben.


Tapi Ben seperti kerasukan setan, dengan keras kepala terus mencoba untuk memasuki tubuh Rere dengan batang kemaluannya. Ben sama sekali tidak peduli bahwa lawan mainnya berusaha untuk berontak, bahwa selangkangan gadis itu masih kering dan belum bisa untuk dipenetrasi, bahwa kejadian ini sungguh tidak diinginkan oleh pasangannya atau bahkan si perempuan sedang marah-marah kepadanya. Dengan kekuatan tenaga yang tidak seimbang, Ben dapat menguasai tubuh Rere dan dengan sekuat-kuatnya dia menekankan batang kejantanannya ke dalam kemaluan Rere ketika dirasa sudah menyentuh pintunya.


Tepat ketika batangnya sudah bersarang di tubuh Rere, Ben mengolah ‘adik kecil’nya dengan ritme sedang. Dilihatnya Rere dengan senyum kemenangan. Tubuhnya berusaha untuk mengimbangi tinggi badan Rere sambil terus menggoyangnya maju mundur. Dipandanginya mata Rere yang sekarang berkaca-kaca. Pelipisnya yang tadi terluka sekarang dijilati Ben dengan nafsu seolah menghapus darah yang mengalir kering di pipinya.


Sementara Rere sekarang merasa sangat terhina. Dia tidak bisa menyangka bahwa Ben bisa menyanggamainya seperti itu. Sekuat apapun tenaganya untuk melawan, toh akhirnya dia disetubuhi juga. Rere bertekad untuk tidak menikmati permainan ini. Dia berusaha menolak perasaan bahwa diselangkangannya sekarang terjadi denyut kenikmatan dan sudah basah oleh lendir kewanitaannya, menolak libidonya untuk naik terus saat mendengar Ben mengerang kenikmatan dalam setiap nafas beratnya di telinganya.


Tetapi, tepat ketika Ben melepaskan tangannya dari pinggang yang menahan tubuh Rere agar setara dengan tinggi selangkangannya, Rere mengerang keras saat tubuhnya dengan tiba-tiba merosot sehingga kejantanan yang ada di dalam tubuhnya menyodok begitu dalam di pintu rahimnya. Rasa ngilu menyerang bagian bawahnya. Tapi Ben terus mengocok ‘adik kecil’nya di dalam tubuh Rere. Air mata kemarahan yang tadi bersarang di matanya, sekarang berubah menjadi air mata keputus-asaan dan kesakitan yang sangat mendalam. Sehingga dengan terpaksa, Rere mengalungkan kedua tangannya di leher Ben untuk menjaga selangkangannya setara dengan selangkangan lawan mainnya, dan terus mengalungkan satu kakinya di pinggul Ben sementara kaki yang lain berjinjit menyeimbangi tinggi badan pemuda di hadapannya. Tetapi, jerit kesakitan dan respon Rere dianggap sebagai penyemangat buat Ben untuk terus berperan. Dia bahkan menaikkan ritme goyangannya tanpa sepatah katapun keluar dari


bibirnya. Hanya erangan kenikmatan dan nafas berat yang keluar dari bibirnya sambil meremas buah dada Rere dan membungkukkan badannya mencoba mendekatkan bibirnya dengan benda kembar itu tanpa menghentikan kegiatan si ‘adik kecil’nya.


Mendapat stimulasi seperti itu, Rere semakin tersiksa. Dia merasa tidak bisa terus tetap memerankan sikap menolaknya. Tusukkan Ben dalam tubuhnya sekarang mempunyai rasa nikmat ketika buah dadanya diremas kasar dan dihisap oleh Ben.


“Aaahh… ssshhh… Ben…udah…gak… mau…” desahan Rere dalam setiap masing-masing kocokkan Ben. Tubuhnya terdorong-dorong ke atas mengikuti irama tusukkan Ben diselangkangannya. Dan sekitar 2 menitan berlalu, tiba-tiba Ben mengangkat tubuh Rere dan menggendongnya dari depan tanpa melepaskan kegiatan batangnya di bawah sana . Dia menaik turunkan badan Rere yang masih tetap bersandar ditembok dengan kedua tangannya berusaha mengocok kejantanannya dengan beban itu.


Tidak ada yang bisa dilakukan Rere saat itu kecuali menikmati diam-diam permainan ini. Dia berusaha untuk tetap menjadi korban dalam situasi ini. Dia tidak mau dengan adanya kejadian ini, batal untuk menghirup udara bebas. Dan selama 5 menit berlalu sebelum Ben akhirnya berejakulasi di dalam rahimnya, Rere hanya mengerang dalam diam. Tanpa menunggu waktu, Ben melepaskan gendonganya dan mencabut kemaluannya dari daerah segitiga Rere.


“Fiiuuhh…” nafas dalam Ben berbunyi, “That was really great, wasn’t it??” katanya kemudian duduk di sofa sambil mengambil sebatang rokok untuk dinyalakan. Disebelahnya Rere nampak shock dengan kejadian yang baru saja di alami. Dia tidak tahu harus bagaimana dan hanya terdiam seperti patung sementara cairan kental putih mengalir keluar dari dalam kemaluannya, menetes di bagian dalam kaki jenjangnya, tanda Ben memang berejakulasi di dalam kemaluannya.


“Well,… that was new…“ Ben memulai pembicaraan sambil menyodorkan segelas air putih kepada Rere. Dan dia meletakan kembali gelas itu ke atas meja ketika Rere mengacuhkannya. “Katanya lo mau sesuatu yang ‘baru’…” sindir Ben puas. “Tadinya gue emang mau ngasih lo ngelanjutin sekolah lagi…” kata Ben lagi, “tapi setelah gue pikir-pikir lagi, gue gak mau ngambil resiko” lanjutnya “ntar yang ada malah lo bakal lepas selamanya lagi…tul gak??”


“So… gue kembali ke keputusan awal gue… Lo akan terus disini sampe kita pindah ke tempat lain…” kata Ben santai. “and baju-baju lo bakal gue tahan… just in case… kalo lo kabur diam-diam…”, “jadi, sabar ya sayang… nikmatin aja hari-hari kita…” dan dengan kata-kata itu, Ben memungut sobekan-sobekan pakaian Rere di lantai dan mengambil sisa pakaian yang masih menempel di tubuh Rere. “ Ada handuk kecil di kamar mandi… kalo mau mandi… Jangan coba-coba kabur ya… lo gak mau kan diliat bugil sama orang banyak…” dengan kecupan ringan dan senyuman kecil Ben meninggalkan Rere sendiri di kamar.


Seakan sudah satu atau dua jam Rere terpatung seperti itu. Pikirannya buntu bukan kepalang. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Terkurung di dalam kamar sungguh sangat menyesakkan. Bahkan, air mata serasa sudah kering untuk mengalir. Dengan putus asa, Rere melangkah menuju kamar mandi. Memutar kedua kran air dingin dan panas. Setelah mendapatkan kehangatan yang diinginkan, dia membasuh sisa sperma di sekitar selangkangannya. Rasa perih dirasakan ketika dia mencoba membersihkan kelaminnya. Rupanya, penetrasi kering tadi membuat alat vital Rere menjadi perih dan sedikit memar. Tanpa menggubris rasa tidak nyaman itu, dia langsung membersihkan tubuhnya. Serasa tubuh itu sangat kotor sekali. Serasa banyak noda yang mengganggu di sekitar permukaan kulit mulusnya.


Sekitar 15 menitan, Rere berpikir untuk menyudahi kegiatannya di kamar mandi. Handuk kecil yang tergeletak di wastafel di dalam kamar mandi, memang benar-benar handuk kecil yang sama sekali tidak bisa dililitkan di sekitar tubuhnya. Dengan sedikit kesal, dia membuang handuk yang sudah mengeringkan tubuhnya itu ke sudut ruangan.


Keluar dari kamar mandi, didapati ruangan kamar masih kosong. Rere sudah terbiasa setiap dia keluar dari kamar mandi, pasti Ben sudah ada di kamar menunggunya. Tapi kali ini, dia benar-benar tidak ada dan mungkin pergi entah kemana. Dan sambil berusaha menerima nasib yang akan datang nanti, dia melangkah telanjang ke kamar tidurnya.


Rasanya sudah berhari-hari setelah kejadian perampasan pakaian itu Rere menjalani hari-harinya seperti orang bisu. Tidak banyak kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya. Walaupun melayani dingin semua keinginan seksual Ben, serasa menunjukkan demo halus bahwa dia tidak menikmati semua itu, Rere tetap diam seribu bahasa. Semua dilakukan dalam keadaan bugil. Satu-satunya bahan kain yang dipakai untuk menutupi tubuhnya hanyalah selimut kain halus yang menutupi tempat tidur. Dia tahu, Ben tidak keberatan Rere menggunakan selimut itu untuk menutupi tubuhnya “Buat apa ditutupin, ntar juga dibuka lagi…” itulah yang dikatakan Ben walaupun dia tidak memperlakukan Rere secara kasar lagi.


Rere sedang menunggu Ben membawakan makanan pada suatu siang ketika didengarnya suara bersenandung sambil menyapu di balik pintu keluar yang selalu terkunci itu. “Itu bukan suara Ben… Itu suara perempuan…” Hati Rere seperti bertalu “ Ada orang lain disini…” katanya dalam hati.


“Mbaak… mbaak… “ digedornya pintu itu, dan entah kenapa degup jantung di dadanya terdengar lebih kencang dari biasanya. Dan suara senandung itu berhenti, juga dengan suara kegiatan menyapu. “ Ada orang di luar yaa? Ibu…? Siapa yang di luar…Tolong buka pintu…” Rere melanjutkan dengan mengetuk pintu itu lebih keras lagi.


Bunyi ‘Klik’ terdengar dua kali dari lubang kunci pintu itu. Tanpa sadar Rere mengencangkan lilitan kain selimut di tubuhnya. Dan begitu pintu terbuka, sosok lugu seorang ibu-ibu sederhana terpampang di depannya.


“Lho… Ibu siapa?” Rere berusaha menenangkan suaranya.


“Saya bibi di sini non… Saya baru seminggu kerja di sini…” kata ibu itu dengan rasa hormat luar biasa. Rupanya dia tidak tahu siapa Rere yang sebenarnya. “Non kebangun ya… maaf bibi tidak bermaksud mengganggu non, nanti bibi gak akan nyanyi lagi…” Tetapi Rere tidak sepenuhnya mendengarkan celoteh ibu tua itu. Dia begitu kaget melihat ruangan yang berada di balik pintu kamar yang selama ini menguncinya. Ruangan besar super mewah dengan keramik yang Rere tafsir sangat mahal. Lingkaran tangga marmer spiral meliuk-liuk di sebagian besar ruangan itu. Seperti aula kerajaan di dalam rumah. “Apa non adiknya tuan Ben?? “lanjut Ibu itu “…maaf non, tapi bibi kerja sendiri di rumah sebesar ini…jadi bibi tidak sempat melayani non…tapi kenapa non terkunci dari luar… Lho…Non mau kemana?”


Rere langsung melangkahkan kakinya ketika dia melihat pintu besar yang seperti pintu utama di rumah itu. Hatinya berdegup kencang sekali serasa gumpalan jantungnya ingin meloncat keluar dari songketnya. Dia berharap mudah-mudahan pintu itu tidak terkunci. Seolah rumah ini begitu besar sampai dia membutuhkan beberapa menit setelah menuruni undakan tangga spiral besar itu untuk mencapai pintu. Dan ketika di putar knob berlapis emas pintu itu, ternyata tidak terkunci dan pintu terbuka.


“Non mau kemana…?” Ibu tua itu ternyata mengikuti Rere dari belakang. Tapi Rere tidak menggubrisnya. Tidak ada waktu untuk berhenti. Dia ingin mencapai kebebasannya.


Bahkan, halaman rumah ini juga begitu luas. Rere baru sadar ternyata dia benar-benar di sekap di dalam istana. Dia sedikit berlari untuk mencapai pintu pagar. Jalan aspal sedang ditengah-tengah taman yang terawat menuju pagar besar itu juga begitu panjang. Rere sedikit terengah ketika dia mencapai pagar besar itu. Dibukanya pintu pagar yang kecil di pojok pagar yang ternyata tidak terkunci.


“Non… mau kemana…Apa gak mandi dulu…kenapa nyeker…ayo pake sandal… trus jangan begini keluarnya…” ibu itu memegangi kain putih yang melilit di tubuh Rere.


“Bi… tolong… masuk aja ke dalam… anggap aja bibi gak ketemu saya tadi…” kata Rere tidak sabar. Dia berusaha memperhatikan jalan di luar pagar itu. Hanya jalan kompleks kecil yang memang sangat sepi.


“Tapi non… kenapa gak nunggu tuan Ben saja… biar nanti dia yang antar… jalan ke depan jauh sekali non…emang non mau kemana…” tapi Rere tidak sempat menjawab pertanyaan ibu itu. Matanya menangkap mobil sedan hitam yang tiba-tiba muncul dari tikungan di ujung jalan. Masih sambil menarik kain penutup tubuhnya dari tangan ibu itu, Rere berusaha mengenali siapa yang ada di balik setir mobil itu. Tapi kaca mobil itu begitu gelap.


Hatinya berdegup kencang sekali, sambil terus berkutat halus melepaskan dirinya dari ibu tua yang keras kepala ingin menariknya kembali ke dalam, Rere memperhatikan mobil sedan itu sekarang sudah semakin dekat dengan mereka. Dan dengan perasaan kalut luar biasa di dalam hatinya, dia masih terus berusaha melepaskan diri dari ibu itu. “Bi, tolong… saya harus pergi!!” Dia sekarang memperhatikan mobil itu berhenti beberapa centi di depan mereka. Pintu mobil terbuka. Dengan radar yang luar biasa tanggap Rere langsung melepas kasar tangan ibu tua itu dari tubuhnya dan berlari sekuat tenaga ke arah dimana mobil itu muncul ketika dilihatnya Ben yang terlihat murka berusaha keluar dari mobil dan ternyata dia lupa membuka seatbeltnya sehingga memberikan Rere beberapa detik untuk lari sekuat kakinya bisa membawanya.


“TUNGGU!!! BERHENTI!!!!… RERE!!!!” teriak Ben sambil berlari mengejar gadis yang sekarang sudah berjarak kira-kira 5 meter di depannya. Rere terus berlari. Ini kesempatan emasnya. Dia tidak mau kembali ke tempat neraka itu. Kain putih berkibar di belakangnya melambai-lambai mengiringi pelariannya. Walaupun batu-batuan kecil menyakiti telapak kakinya yang telanjang, Rere tidak perduli. Dia terus berlari. Tahu bahwa Ben tidak jauh di belakangnya, Rere berfokus ke depan. Berusaha menekan otak kecilnya untuk bekerja. Berpikir mencari jalan keluar.


“Rere!!… Mau kemana lo?!… Lo gak tau daerah sini!! Nanti kesasar!! Tunggu!!“ nyanyian Ben di belakang Rere. Dia tahu, Ben pasti marah sekali. Tapi dia tidak perduli.


Rere membelokan dirinya ditikungan jalan tepat dimana mobil Ben tadi muncul. “Kenapa gak ada orang sama sekali!!” kata Rere dalam hati. Lingkungan itu sepi sekali. Dan dia masih saja terus mendengar Ben berteriak-teriak di belakangnya. Langsung saja, ruang hampa menggerogoti paru-parunya. Antara berdegup kencang dan kelelahan, Rere berusaha menarik nafas dalam. Dia tidak boleh berhenti. Dan tepat ketika ujung jalan kecil ini sudah terlihat, Rere melihat jalan kompleks kecil yang sedikit banyak pasti dilewati mobil yang lalu lalang. Ada tikungan kecil tepat di depannya. Apakah Ben akan tahu kalau dia nanti bersembunyi di sana ? Dia memberanikan diri menoleh kebelakang. Ben tepat di belakangnya, “Tunggu!!” Rere mendengarnya berteriak. Sambil terus berlari, terus memegang erat lipatan kain yang melilit di sekitar dadanya, Rere tidak memperhatikan bahwa ada lubang kecil di ujung jalan itu. ”AAHHHH…!!” dan kakinya terjeblos kedalam lubang itu


dan diapun jatuh menggelinding di –yang terlihat seperti—jurang kecil. Dia tidak bisa mengonsentrasikan penglihatannya. Jatuh terus terguling ke bawah. Rasa perih terasa dilengan kirinya ketika duri besar menggores lengannya. Sambil terus terguling ke bawah, Rere berusaha memegang erat kain di tubuhnya. Dan bunyi keresek keras memberitahu Rere bahwa kain itu robek tergores ranting pohon, tapi dia terus terguling ke bawah.


Akhirnya Rere bisa berhenti berguling. Rasa luar biasa pusing terasa sekitar kepalanya. Terhuyung sedikit, dia berusaha untuk bangkit. Dan dengan tanggap melihat ke belakang, berusaha mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Dia terjatuh di ketinggian kurang lebih 1.5 kilo meter dari atas. Kain lilitannya pun sedikit kendur. Tapi dia meyakinkan dirinya, dia tidak apa-apa. Terlihat sosok Ben berdiri mematung di atas sana . Rere tahu, Ben pasti memikirkan cara untuk terjun juga ke bawah dan menangkap dirinya. Tanpa berpikir panjang, Rere membalikkan badannya untuk kembali berlari, tapi…


“REREEEEEE!! “ teriak Ben histeris. Beberapa kejadian beruntun terjadi secara bersamaan. Rere tidak menyadari bahwa di belakangnya adalah jalan aspal kecil, bahwa ada sinar lampu menuju ke arahnya, bahwa ketika Ben memanggil namanya dia seharusnya tidak boleh berlari, Bahwa sinar lampu itu adalah sinar yang datangnya dari sebuah Terano, bahwa Terano itu berusaha untuk mengerem dan berhenti, bahwa sipengemudi terlambat sepersekian detik untuk menginjak remnya dan bahwa Rere melupakan kain kendur di tubuhnya ketika menggunakan kedua tangannya untuk berusaha menghentikan mobil itu menghantam tubuhnya.


Sesuatu yang sangat keras dan berat menghantam perutnya, melempar keras tubuhnya ke belakang. Rere mengejan menahan rasa luar biasa sakit di perut dan tubuhnya. Dia tidak menyadari bahwa setengah tubuhnya sekarang terpampang bebas ketika dia memuntahkan darah segar dari mulutnya yang mungil. Masih terus berusaha berkonsentrasi untuk tetap sadar, Rere berusaha bangkit. Siempunya Terano akhirnya keluar dari mobilnya dan dengan sedikit berlari berusaha untuk menolong Rere.


“Mbak… sorry banget mbak… apa yang sakit… “ seorang pemuda tinggi tegap menghampiri Rere yang masih bersimpuh menahan perutnya yang tadi terhantam. “Ayo mbak, saya antar ke rumah sak—“ tapi pemuda itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Rere pun sadar apa yang membuatnya menjadi bisu. Rere yang sedang menyeka mulutnya dari sisa darah yang dia muntahi tadi pun menyadari bahwa antara terkejut dan bingung, bagian atas tubuhnya terpampang terbuka memperlihatkan buah dadanya yang putih berisi yang sekarang sedikit ternoda merah karena muntahan darahnya. Dengan sigap, dia menaikkan kain yang tergeletak lemas di sekitar perutnya, menutupi kembali buah dadanya. Dan dengan gugup berusaha membalas si pemuda tersebut.


“Enggak mas… saya gak apa-ap—“ terkejut bukan main, Rere kembali sadar dengan situasinya. Dia kembali melihat ke atas kemana Ben tadi diam mematung memanggil dirinya. Ben tidak ada di sana , Rere menyapu lingkungan sekitar, hanya ada dirinya, pemuda yang menabraknya dan mobil Terano yang menabraknya tadi. “—eng… oh iya…” sambung Rere tiba-tiba, “tolong saya mas… antar saya ke… ke rumah sakit…” dan tanpa di suruh, Rere mengerahkan seluruh tenaganya mengangkat tubuhnya dan sedikit tertatih berjalan menuju ke mobil itu. Dan pemuda itu pun dengan tenang melangkah kembali ke mobilnya sambil melirik ke kiri dan kanan mencoba mengenali lingkungan sekitar.


Rere menenggelamkan posisi duduknya ke bawah sehingga sedikit kemungkinan untuk terlihat dari luar. “… Jalan mas…—tolong …” dia menambahkan buru-buru, berusaha untuk ramah agar pemuda itu tidak tersinggung.


Mobilpun melaju, melegakan hatinya dan menyadarkan Rere bahwa ternyata dia sekarang berada di suatu tempat dimana sejauh mata memandang, kebun-kebun teh menghampar di sepanjang jalan.


“ Eng. .. kita ada di mana ya…?” Tanya Rere pelan-pelan, dia sedikit ragu, apakah pertanyaan itu akan menolongnya.


“Kita ada di Puncak… lho emangnya gak tau?” Rere terkejut bukan main. Ternyata pertanyaannya bukan dijawab oleh sipengemudi di sebelahnya melainkan dari seseorang di bangku belakang. Spontan Rere menengok ke belakang. Karena sibuk mengkhawatirkan Ben, dia jadi lupa mengawasi sekitar mobil. Ada 2 pemuda lain di bangku belakang. Masih terlalu dini untuk menunjukkan kekhawatirannya.


“Oh… sorry, saya gak tau kalo ada orang lain…” katanya sambil mengencangkan pegangan kain di dadanya. Perasaannya tidak karuan. Ada kekhawatiran yang tidak ada hubungannya dengan Ben kali ini. Tapi dia berusaha menenangkan hatinya melihat penampilan ketiga pemuda itu, Rere yakin mereka baik. Mereka sangat manis dan berwajah ramah. Mungkin berkisar usia 22 sampai 25 tahunan, tapi si pengemudi tampaknya yang paling muda di antara mereka.


“Oh iya… Gue Bami, itu yang pake baju ijo namanya Firdo, trus yang duduk dibelakang lo persis namanya Michael tapi panggilannya Mika…” kata si pengemudi tiba-tiba melupakan semua tatakrama bahasanya yang tadi begitu sopan ketika menabrak Rere.


“Rere… “ sambil tersenyum Rere membalas singkat, entah kenapa hatinya makin tidak karuan. Apalagi dengan kondisi fisiknya yang sama sekali tidak mengenakan apa-apa di balik kain putih itu. Dan dengan gugup dia memperhatikan jalanan sekitar. Beribu-ribu petak kebun teh masih menghiasi kaca mobil itu. Dia masih jauh dari aman. Jalanan yang berkelok-kelok ternyata sangat jarang dilalui oleh orang lain.


“Kenapa pake ini Re…” tanya Bami tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan sambil menyentuh kain putih yang sekarang berbecak-becak darah yang tumpah dari mulutnya di sekitar pahanya, membuyarkan Rere dari kekhawatirannya. Spontan Rere semakin khawatir. Dia lantas mempererat genggamannya di lipatan dada kain itu. Itu pertanyaan yang tidak sopan. Dia tidak mau menjawabnya. Dan Rere sempat memperhatikan mata lelaki itu menatap penuh arti dari kaca mobil depan ke teman-teman di belakangnya. Rere semakin khawatir dengan keadaan sekitar yang sangat sepi. Nalurinya mengatakan bahwa hatinya salah. Mereka memang bertampang manis, tetapi mereka tidak ramah.


“Eng. .. saya turun di sini aja mas Bami… “ pinta Rere dengan hati-hati mencoba menutupi kegugupannya. “sepertinya saya sudah tidak apa-apa…”


“Lho… katanya mau ke rumah sakit… ayo kita antar ke sana … itu luka goresnya makin biru…” sahut Firdo dari belakang. Yang membuat Rere kaget, pemuda itu mengusap pelipisnya yang terluka dari belakang. Rere semakin kalut.


“Eh… iya gak apa-apa kok… udah bisa jalan sendiri…” balas Rere sambil dengan pelan-pelan menghidari usapan tangan Firdo di wajahnya. Berusaha agar tidak membuat mereka tersinggung. “Tolong stop mas Bami… saya turun di sini aja…” pinta Rere dengan sopan.


Sepertinya Bami tidak mendengar Rere, dia hanya tersenyum sambil memperhatikan jalan. Atau memang dia tidak mendengar?


“Mas Bami… tolong stop mobilnya, saya turun disini saja…” ulang Rere.


“Kirain gue bakal kena masalah… nabrak orang… fiiuuhhh…gak taunya malah dapat durian runtuh…” jawab Bami pura-pura menyeka keringat di dahinya sambil menatap ke kaca depan. Rere tidak mengerti. Dia mencoba memahami apa arti omongan lelaki itu.


“Gue pikir tadi malaikat, hantu ato apalah itu… kok putih-putih berdiri di jalanan… gak taunya bidadari yang terluka… hahaha…” Mika akhirnya mengeluarkan suaranya membalas tatapan Bami dari belakang.


“Puter balik Bam…kita ke vila lagi… “ sambung Firdo tanpa mengurangi maksud nada bicaranya. Akhirnya Rere mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan diapun berusaha membuka pintu mobil yang seharusnya tidak dia naiki untuk terjun ke jalan. Dia tahu dia tidak aman, malah dia dalam bahaya yang sangat besar. Tapi pintu itu terkunci. Dan tepat ketika dia ingin memprotes Bami kenapa pintu itu terkunci, pada saat bersamaan, tangan kasar menariknya ke belakang. Seseorang menyetel kepala bangku mundur ke belakang dan yang lain menyeretnya ke belakang.


Rere berteriak, berontak menggedor-gedor kaca mobil di sampingnya. Dia tidak mau dianiaya lagi. Sudah cukup dia menderita. Alhasil, kaca mobil sama sekali tidak berubah, bahkan retak sedikitpun tidak. Bami menepi mobilnya dan berputar di salah satu blok kebun teh tepat ketika Firdo dan Mika berhasil menarik Rere ke belakang dari bangkunya.


“Mau kemana Re…katanya mau ke rumah sakit… ayo kita antar…” Firdo menyungging senyum ketika menempatkan Rere ditengah-tengah mereka.


“Jangan… please… udah cukup… gue gak bisa lagi… tolong… jangan…” Rere tidak perduli, dia mengiba kepada mereka ketika dia merasa tidak bisa berkutik lagi. Tetapi Firdo dan Mika malah membuka lipatan kain yang ada di tubuh Rere dengan kasar. Rere tidak sempat mempertahankan tubuhnya agar tidak telanjang. Terlambat, kain itu sudah terbuka di bagian dadanya. Senyuman mata Bami terlihat dari kaca depan mobil.


“Cukup??” Mika membalas dengan nakal sambil melirik ke buah dada Rere yang terbuka dan menyentuh darah yang mengering tepat di tengah-tengah buah dadanya. “Kita mau nolong… tenang dikit… tar lagi sampe kok ke rumah sakit…” Rere tahu dia bohong. Terano itu sudah kembali ke arah sebaliknya menuju jalan berliku yang tadi dilewatinya. tanpa berpikir panjang, Rere mendorong tubuh Mika yang tepat di dekat pintu, meng-unlock pengunci pintu. dan mencoba membukanya. Tapi pintu mobil itu masih tetap terkunci.


“Galak juga nih bidadari Do…” canda Mika ketika dia sudah kembali membalikkan tubuh Rere ke tengah-tengah mereka.


Begitu posisi Rere di tengah-tengah mereka, Firdo sama sekali tidak berminat membalas obrolan Mika, dia malah dengan ganas meraba Rere. Meremas buah dada Rere yang ranum terbuka dengan kasar sambil menciumi lehernya dari samping.


“Jangan… LEPASIN!!…” teriak Rere putus asa. Tapi tidak ada yang memedulikan teriakan Rere. Bami tetap melaju mobilnya. “Tolong… jangan… gue udah sakit.. Tolong…jangmmpph…” Mika tiba-tiba melumat bibir Rere dari sisi yang lain. Kali ini Rere benar-benar tidak bisa berkutik, tubuhnya dikunci mati oleh Mika dan Firdo. Hatinya berdegup kencang ketika dirasakannya jari-jari Mika sudah menyusup di selangkangannya. Meraba bibir bawahnya dengan kasar. Rere merasa sangat sakit. Hati dan harga dirinya yang sudah hilang sejak lama kini kembali dikoyak. Dia hanya bisa berteriak dalam dekapan ciuman Mika. Jari-jari Mika masih dengan lincah bermain di selangkangan Rere sementara Firdo masih dengan gemasnya meremas dan menciumi buah dada Rere dan Bami masih melaju mobilnya dengan cepat.


“Sialan lo berdua… gak bisa nunggu sampe vila apa??” gerutu Bami yang entah kenapa Rere merasa tidak ada nada marah di dalam kalimatnya. Masih berusaha melawan, Rere hanya bisa memberontak menggerak-gerakkan badannya, berusaha memelesetkan jari-jari Mika yang sepertinya ingin menyusup kedalam pintu rahimnya. Dan ketika Rere merasa jari-jari itu sudah berada tepat di pintu kelaminnya, dia melihat mata Mika yang penuh nafsu menatapnya kembali, dan ciuman kasar di bibir Rere tiba-tiba berhenti seraya memberikan senyuman yang Rere tahu itu bukan senyuman yang baik tepat ketika dirasakan salah satu jari Mika menerobos masuk ke dalam vaginanya.


Kembali Rere teriak dalam lumatan bibir Mika. Tubuhnya melonjak kesakitan seraya membusungkan dadanya. Hal itu membuat Firdo yang bibirnya tepat di buah dada Rere semakin ganas melumat dan menghisap putting merah muda di sana . Sakit Rere rasakan dalam hatinya. Bahkan dia tidak sempat berpikir betapa malang nasibnya karena Bami sepertinya mendapatkan suatu tempat yang aman untuk memarkirkan mobilnya. Dan menonton aksi kedua temannya pada gadis yang mereka temukan.


“Gila tuh body… killer banget ya…” cetus Bami entah kepada siapa. “Enak susunya Do…?” tapi nama yang diajak bicara tidak menjawab. Rere yang masih terus berontak melihat Bami kini merendahkan punggung bangkunya serasa ingin bergabung ke bangku belakang dan sedetik kemudian membuka seleting celananya dan mengeluarkan batang dan mengelusnya pelan sambil mengocoknya sendiri.


Sementara kocokkan jari Mika di dalam selangkangannya semakin lama semakin cepat. Air mata kini mengalir dari kelopaknya. Dia sungguh tidak menyangka hal ini akan terjadi. Sungguh Rere merasa merana di tengah-tengah ketiga laki-laki ini. Sepertinya nafsu mereka tidak bisa dibendung. Dan hisapan mulut Firdo di buah dadanya juga tidak pernah puas.


Rere masih berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan ketiga orang itu, mencoba meminta belas kasihan dari mereka. Hisapan ganas bibir Mika akhirnya berpindah ke belakang telinganya, masih sambil menggosok-gosokkan jarinya di dalam rahim Rere. Kini, batang kelamin Bami semakin keras. Rere sedikit ngeri melihat ukuran batang itu. Sungguh besar kemaluan Bami. Batang kejantanan ke-enam yang pernah Rere lihat dalam hidupnya. Dan dia yakin sebentar lagi akan melihat batang yang ke-tujuh dan ke-delapan. Membayangkan jumlah itu membuat Rere semakin putus asa. Dia terus menangis.


“Tolooong… jangan… lepasin…udah… cukup…” entah kenapa Rere merasa sama sekali tidak punya kekuatan lagi. Kocokkan, jilatan dan hisapan-hisapan di sekitar tubuhnya membuatnya dilemma. Rere berusaha menolak perasaan nafsu yang sepertinya muncul dari dalam dirinya. Dia merasa marah pada dirinya sendiri jika libidonya tumbuh. Bahkan luka-luka ditubuhnya sekarang sudah tidak terasa lagi.


Setelah beberapa saat berlalu, Rere kembali merasakan Firdo menunjukkan nafsunya yang sudah tinggi. Dia menghentikan segala kegiatannya dan langsung membuka celana panjangnya. Mengeluarkan kemaluannya yang ternyata sudah tegak menjulang. Sambil mengocoknya pelan, dia mencoba mengajak temannya berbicara.


“Mik, gue mau masuk… “ Spontan Rere melihat ke arahnya ketika Mika melepaskan segala aktivitasnya pada tubuh Rere. Mahluk kecil itu sudah bangun dari tidurnya dan sekarang berdiri dengan kokoh ditengah-tengah pangkal paha Firdo. Segera saja, ketakutan melanda pikiran Rere melihat ukuran bena itu yang lebih besar dari pada ukuran Bami. Daerah segitiganya masih sakit dan trauma dengan segala kejadian yang menimpanya, dan sekarang dia harus menghadapi benda yang lebih besar di atas ukuran rata-rata masuk ke dalam tubuhnya.


“Enggak… jangan!!… Tolong…” kembali Rere berusaha kabur setelah merasa tubuhnya sudah terbebas. Tapi pintu masih terkunci dan Mika dengan santai memegangi Rere. Mendorong Rere kembali keposisi awalnya.


PLAK!! Tamparan keras menghantam pipi kirinya. Bukan sakit yang dirasakan Rere, tapi rasa terkejut yang hampir membuat jantungnya berhenti. “tidak…” dalam hati Rere. Dia melihat Firdo dengan tampang geram, serasa melihat sosok Ben yang lain. Rere tidak bisa menerima ada sosok lain yang seperti Ben. Sosok yang ringan tangan dengan nafsu yang tinggi.


“Jangan ngelawan!! Atau lo gue bunuh…” ancam Firdo. Dengan kecut Rere merespon ancaman Firdo. Sudah terlalu sering di dalam pikirannya muncul pikiran itu. Kalau bisa memang dia lebih baik mati. Firdo menarik kasar kedua kaki Rere agar mendekat kepadanya sehingga membuat badan Rere terlentang di bangku tengah itu. Mika membuat pahanya menjadi bantalan untuk kepala Rere, sementara itu Bami masih saja menonton mereka sambil memainkan ‘adik kecil’nya dan juga sambil mengawasi daerah sekitar, menjaga agar tetap aman. Firdo dengan tidak sabar membuka kedua paha Rere yang sekarang sudah ada di hadapannya. Rere memperhatikannya Firdo tertegun sebentar ketika melihat kemaluan Rere yang sudah terbuka. Dan tanpa basa-basi lagi, dia mengarahkan adik kecilnya ke lubang kecil di daerah terlarang Rere.


Kini Rere sudah menyerah ketika dirasakannya benda lunak dan tumpul itu sekarang menempel di bibir kemaluannya. Dengan hampa dia merasakan Firdo menggesek-gesekkan kepala penisnya di sekitar klit Rere sebelum memasukkan benda besar itu ke dalam rahimnya. Dia sedikit mengernyit merasakan sakit yang amat sangat ketika Firdo memaksakan penetrasi kering pada adik kecilnya ke dalam vaginanya. Sungguh sesak terasa di dalam kemaluannya. Begitu juga di dalam mobil ini. Dia terhimpit di antara 3 lelaki. Tepat ketika Firdo menggoyangkan kemaluannya, air mata Rere kembali menetes. Dia menangis tanpa suara. Mika mencoba menghapus air matanya sambil membelai rambutnya.


Firdo terus menggenjotnya, ritmenya sedang dan teratur. Rere mengerti kalau dia berusaha menahan durasi permainannya.


“Jangan diem aja dong Re… “ kata Bami tiba-tiba. Tanpa Rere sadari, Bami sekarang sudah berada dekat sekali dengannya, ternyata Bami berpindah ke bangku depan di sebelah setir yang punggung bangkunya sudah di sejajarkan dengan bangku belakang. Sambil menyodorkan ‘adik kecil’nya yang sudah membesar itu ke mulut Rere. “Hisap Re…” itu perintah kalau Rere dengar dari nadanya, tapi Rere enggan mengoral orang yang sudah menabraknya. Dia memalingkan wajahnya, tetapi Mika menahan wajahnya dan membuka paksa mulut Rere dengan menekan rahang Rere membuat bibir Rere membentuk huruf O. Bami pun memasukkan batang kejantanannya ke dalam mulut Rere yang sekarang sudah terbuka. Dan mengocoknya di sana .


Kembali Rere teringat kepada memori 4 bulan yang lalu di ruang BP sekolahnya. Dia teringat ketika pertama kalinya harus mengoral Ben dengan terpaksa sementara entah kemaluan Zack, Dave atau Sam yang sedang mengocok bagian bawahnya. Sama dengan keadaan yang sekarang. Bami pun menahan dan menggerakkan kepala Rere maju mundur seraya menciptakan pijatan yang enak untuk ‘adik kecil’nya dan Firdo masih dengan semangatnya mengosok kemaluannya di dalam kemaluan Rere.


“Curang lo semua… gue juga mau masuk…” Mika memprotes kedua temannya. Firdo yang mendengarnya langsung menghentikan aksinya. Tapi Bami mengacuhkan mereka masih dengan terus menggoyang selangkangannya di mulut Rere.


“Masih ada satu lubang lagi kan Mik…” Rere tahu maksud Bami, spontan dia teriak, tetapi teriakannya teredam batang kejantanan Bami yang masih saja ada di dalam mulutnya. Akhirnya Bami mengeluarkan batangnya dari mulut Rere. Rere terbatuk-batuk merasakan nafas lega kini mengisi lubang hidungnya. Tetapi belum sempat dia mengatur nafasnya, mereka kembali menjamah tubuhnya. Rere berontak keras ketika dengan kasar mereka memaksanya untuk duduk dan menungging.


PLAK!! Kali ini panasnya tamparan Firdo dapat dirasakan di pipi kirinya. Membuatnya kepalanya membentur bangku tengah.


“Diam!!” teriak Firdo. “turutin kita ato gue buang lo ke dalam jurang!!” Rere memang tadi melihat ada banyak jurang di sekitar sini. Alangkah senangnya jika ada seseorang yang menjatuhkannya ke jurang sana . Mungkin mati jatuh dengan kepala lebih dulu dan pecah, tidak begitu sakit rasanya. Tapi tetap saja Firdo tidak melakukannya, dia malah memaksa tubuh Rere untuk menungging dan bertumpu di kedua tangannya.


“Jangan!! Gak mau di situ…Jangan!!!” berontak Rere ketika dirasakan seseorang meraba lubang belakangnya. Meraba-raba dengan kasar lubang dubur Rere seperti ingin membuatnya licin. Seseorang –entah siapa— juga meludahi lubang anusnya dan meratakan cairannya. Rere menggigit bibirnya. Dia tahu rasa sakit akan dirasakannya sebentar lagi. Dan sepertinya ketiga orang itu tidak memberikan kesempatan sama sekali pada Rere. Bami dengan segera menyusupkan kembali batang kemaluannya ke dalam mulut Rere. Rasa takut yang teramat-sangat menjalari pikiran Rere. Dia tidak mau dikeroyok beramai-ramai. Mungkin sedikit melawan akan membuat Firdo benar-benar mau membunuhnya. Tapi, apakah setelah mati mereka masih akan menggaulinya? Dan setelah melayani mereka, apakah setelah selesai mereka akan membunuhnya atau malah menahannya sama seperti Ben menahan dirinya. Rere merasa dunia ini sudah runtuh di atas tubuhnya sendiri. Dia jadi teringat kata pepatah tentang ‘keluar dari kandang macan, masuk ke kandang harimau’.


Benda tumpul yang keras sekarang menyeruak masuk ke dalam lubang duburnya. Rere tidak mau perduli milik siapa benda itu. Dia juga tidak bisa berkonsentrasi dan pasrah dengan kocokkan penis Bami di dalam mulutnya. Dan sekarang, penis seseorang sudah masuk sepenuhnya ke dalam lubang duburnya. Walaupun anal bukan hal pertama kali untuk Rere, tapi dia merasa merana sekali. Setiap gesekan penis itu bergerak di dalam duburnya, seolah menyayat setiap inci dinding lubang belakangnya.


“engh…” rintihannya tertahan batang penis Bami yang terus saja memperkosa mulutnya. Keringat mulai menetes disetiap pori-pori kulitnya. Serasa Rere dapat melihat endapan hawa di setiap pojok-pojok kaca mobil. Entah kenapa air matanya terus mengalir, dia berpikir seharusnya stok air matanya sudah habis. Tapi semua itu belum selesai, karena tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya, membuat hisapan mulutnya di kejantanan Bami terlepas dan menelentangkan dirinya menindih seseorang di belakangnya dengan kejantanan yang masih terus menancap di bagian belakang tubuhnya. Sedetik kemudian, Rere sadar kalau itu adalah Firdo yang sedang menyanggamai lubang belakangnya ketika Mika sekarang muncul di hadapannya. Dia tidak begitu heran kenapa rasa benda itu begitu besar dan menyakiti tubuhnya.


Di posisi seperti itu, Rere sama sekali tidak berusaha untuk menyelamatkan diri lagi. Lingkungan sekitar yang sejak tadi diperhatikannya benar-benar sepi, dia sama sekali tidak melihat ada seseorang yang berlalu lalang sejak Terano itu terparkir. Tapi Rere masih bisa melihat dengan jelas hamparan kebun teh yang luar biasa luas. Kini Mika mengambil ancang-ancang di depannya. Rere tahu apa yang akan dilakukannya, dia pernah melihat adegan itu di salah satu video porno milik Ben. Tapi dia sama sekali tidak berpikir bahwa suatu saat akan mengalaminya, karena Ben sama sekali tidak menyukai permainan dan posisi seperti itu. Ben lebih mengerti kalau Rere hanya bisa satu lawan satu, walaupun sekeji apa sifat dan siksaannya pada Rere, Rere yakin bahwa Ben tidak akan pernah berbuat keji secara seksual.


“Please… jangan begitu…” iba Rere ketika dilihatnya Mika mencoba untuk berpenetrasi dari depan. Tidak ada yang mau merespon Rere, mereka seperti terserang penyakit tuli atau lebih parah lagi dari libido tinggi. “Aaahhh…” teriak Rere merasakan sekarang Mika sudah memasuki tubuhnya. Kini posisi Rere tepat ditengah-tengah Firdo dan Mika, dia sungguh merana. Dia merasa terhina diperlakukan seperti itu. Tubuhnya seolah menciut dan terdesak ke dalam lubang karet sempit ketika kedua pemuda itu memperkosanya secara bersamaan. Walaupun mereka menggoyang dengan tempo pelan, Rere masih saja merasa tersiksa. Teriakan dan erangannya terdengar menyayat hati siapa saja yang mendengarnya, tapi Bami hanya tersenyum. Kini, keringat membasahi sekujur tubuh Rere, wajah dan dadanya terlihat mengkilat di tengah-tengah laki-laki yang menyanggamainya.


Rere sadar, seberapapun keras teriakannya, tidak akan ada yang bisa menolongnya. Remasan dan hisapan Mika dikedua buah dadanya pun sama sekali tidak membantunya untuk menikmati permainan mereka. Tidak ada rangsangan sama sekali yang Rere rasakan. Ciuman Bami pun di bibirnya di tolak dengan tegas. Rere melengoskan kepalanya ketika Bami ingin menciumnya. Tapi, Rere menyadari, tidak ada hal apapun yang bisa menghalangi keinginan mereka. Dengan kasar Bami memaksa wajah Rere menghadap wajahnya dan dengan ganas menciumi bibirnya. Jijik dirasakan Rere ketika lidah Bami bermain di dinding atas mulutnya. Hanya air mata yang keluar dari kelopak matanya yang indah yang menunjukkan betapa menderitanya dia sekarang. Selangkangannya terasa panas, lubang duburnya perih, tapi Firdo masih dengan kencang memeluk perutnya yang masih sakit dari belakang dan menekan-nekan kejantanannya menusuk bagian dalam belakang Rere, menguntungkan Mika yang otomatis juga terstimulasi


oleh kemaluan Rere. Kini Bami menghentikan ciumannya dan mengambil posisi tepat di samping kepala Rere, dia tersenyum sambil menyodorkan —entah bagaimana caranya— ‘adik kecil’nya untuk di hisap Rere. Ternyata, bagian tengah mobil yang sekecil ini bisa memuat 4 insan yang melakukan aktivitas maksiat di dalamnya walaupun keadaan itu harus membuat mereka berhimpitan.


Kembali Rere merasakan Bami menekan kedua sisi rahangnya ketika dengan tegas dia menolak untuk mengoral batang kejantanannya. Membuat —dengan kasar— bentuk O yang indah di mulut Rere dan menyulutkan kejantanannya masuk ke dalam mulutnya. Rere berusaha teriak, dia tidak mau diperlakukan seperti itu. Dia sungguh terhina, dia merasa sakit sekali. Seluruh tubuhnya habis disisipi setiap batang kejantanan ketiga pemuda itu. Rere menangis dalam diam, dia tahu, dia hanya bisa berharap semua itu akan segera berakhir.


Tepat ketika 3 menitan berlalu, Rere mendengar Firdo mulai mengerang berat di belakang telinganya, kembali lubang duburnya terasa nyeri luar biasa ketika Firdo mempercepat ritme goyangannya. Rere hanya bisa memejamkan mata, berusaha untuk tidak merasakan sakit yang teramat sangat di bagian bawahnya. Sampai beberapa saat kemudian, Firdo menyemprotkan spermanya di dalam anus Rere. Dan terkulai lemas melepaskan pelukan eratnya di perut Rere. Tetap saja, Rere belum bisa bernafas dengan bebas karena kejantanan Bami masih terus menggenjot mulutnya. Tepat ketika Mika mempercepat goyangannya, Bami berejakulasi menyemprotkan cairannya di mulut Rere. Rere tidak mau menelannya, dia segera memuntahkan sperma itu keluar dan mengalir ke lehernya yang putih mengkilap.


“Tolong… jangan buang di dalam… “ keluh Rere berharap Mika masih mau mendengarnya. “Tolong… gue lagi subur…”


“Ok…” kata Mika akhirnya. “Buka mulut lo…” lanjutnya seraya mencabut batangnya dari tubuh Rere dan menyarungkannya kembali ke mulut Rere. Rere masih harus mengoral Mika sebentar sebelum akhirnya dia dia merasakan laki-laki itu berejakulasi di dalam mulutnya. kembali Rere memuntahkan cairan itu yang akhirnya mengalir ke bagian leher dan dadanya.


Bami entah sejak kapan sudah kembali ke balik setirnya. Apakah ini artinya mereka sudah selesai? Rere berharap dalam hati ketika didengarnya dari bawah telinganya Firdo berkata


“Lo boleh turun dari gue…” sedikit terkejut, dia tidak menyadari bahwa ternyata dia masih terlentang di atas tubuh Firdo. Penis Firdo yang sekarang sudah melembek, terlepas lemas dari dalam duburnya ketika Rere mengangkat tubuhnya sendiri untuk duduk di sebelah. Dirasakan sperma kental mengalir keluar dari anusnya yang terluka menandakan bahwa pemuda itu memang berejakulasi di dalam. Dilihatnya ketiga lelaki itu kembali merapikan penampilan mereka. Bami melempar kain putih berbercak darah dari bangku depan ke pangkuan Rere. Dan berdasarkan insting, dengan cepat Rere melilitkan kembali kain itu menutupi tubuhnya. Tidak tahu harus berbuat apa, Rere memikirkan nasibnya, seraya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Lo boleh pergi sekarang…” kata Firdo santai. Rere tidak mengerti, dia merasa tidak akan semudah itu mereka menyuruhnya pergi. “Lo bilang lo mau turun… lo boleh turun sekarang…sekarang! sebelum gue berubah pikiran…” masih dengan nada santai.


Tanpa berpikir lagi, Rere segera mengangkat tubuhnya keluar dari mobil itu. Mungkin sudah terlambat, tapi dia memang ingin pergi dan menjauhi mereka sebelum segala sesuatunya menjadi lebih buruk.


Telapak kakinya yang telanjang kembali menapaki lantai aspal yang kasar. Hawa dingin sekarang bertiup dari segala arah. Tanpa melihat ke belakang Rere menapaki kebun teh, berusaha menjauh dari jalan aspal yang ternyata sangat mengerikan itu. Dia masih bisa mendengar derum mobil sekarang menjauhinya. Perasaan lega luar biasa mengisi hatinya sekarang. Dia aman… at least, for now… Di pelajari lingkungan sekelilingnya, ribuan petak kebun teh itu benar-benar sepi. Entah kenapa pikirannya sekarang buntu. Hatinya hancur, harga dirinya sudah benar-benar hilang. Harapan untuk hidupnya sekarang sama sekali tidak ada. Pikiran buntu dalam dirinya mencuil menggoda Rere untuk mengakhiri segala sesuatu yang menimpanya sekarang. “come on Re…” katanya dalam hati, “banyak jurang di sini…terjun aja…” goda sisi jahatnya. Kalau boleh jujur, Rere sangat ingin mengakhiri semua penderitaannya. Dia terus melangkah tanpa memperhatikan sekitarnya. Kain putih yang sekarang tidak putih lagi meliliti tubuhnya tanpa bisa mengurangi hawa dingin yang menerpa tubuhnya.


Hari sudah semakin gelap, Rere masih bingung apa yang harus dilakukannya. “Minta pertolongan orang..” katanya dalam hati, tapi kemudian dia berpikir kembali, siapakah yang akan menolongnya dengan keadaan setengah telanjang seperti ini. Bahkan mungkin dia akan menemui orang yang sama seperti Bami dan kawan-kawannya. Tanpa disadari, jurang terjal sekarang ada di depannya. Sedikit terpeleset, dia mengukuhkan dirinya agar tidak terjatuh. Gemeretak giginya menandakan bahwa seluruh tubuhnya menggigil kedinginan. Dia berusaha memfokuskan pandangannya. Sama sekali tidak terlihat di matanya dasar dari jurang di depannya itu. Apakah kalau dia loncat sekarang dia akan langsung mati? Apakah kalau terjun nanti dia bisa merasakan perihnya kematian? Atau hanya terluka dan akhirnya cacat seumur hidup? Dia tidak mau cacat, dia mau mati saja. Badannya sudah kotor sekali penuh dosa. Atau mungkin nanti Sang Pencipta bahkan tidak mau menerimanya? Ah, biarlah. Rere


berpikir, mungkin rohnya yang gentayangan akan mengganggu Ben seumur hidupnya. Karena tidak mungkin ada orang atau mahluk apapun yang bisa hidup jika terjun ke dalam jurang itu, Rere memperhatikan, surau hitam nan kelam mewarnai dasar jurang yang Rere tidak tahu sedalam apa. Sore ini langit masih jingga, tetapi dasar jurang itu begitu kelam.


Kembali, air mata menetes di kedua pipinya yang sekarang kotor penuh peluh dan luka gores. Melayang sosok Albie di pelupuk matanya ketika dia memejamkan mata.


“Met tinggal Albie…” katanya kemudian. Masih dengan memejamkan mata, Rere kembali berpikir ke orangtuanya. “Met tinggal Ma… Pa. .. maafin Rere…” rintih Rere terisak. Air matanya deras mengaliri wajahnya. “Lola…” Rere teringat sahabatnya dan sama sekali tidak bisa membuat air matanya berhenti. “Seandainya…..kalo gue punya kesempatan… gue mau minta maaf sama lo… gue dah nyakitin elo…Tapi…” sesegukan Rere berusaha memantapkan dirinya. “Mudah-mudahan Albie akan sadar… begitu gue gak ada… mudah-mudahan dia akan sadar kalo elo tuh cewe yang manis… kalo lo tuh cewe yang pantes untuk di sayangi…” mengakhiri kata-katanya, Rere melangkahkan kaki beberapa inci ke depan. Tanah lunak dipijakannya berjatuhan ke bawah jurang. “Met tinggal semuanya…” Kali ini dia sudah mantap, bertekad mengakhiri hidupnya. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa mengobati lukanya. Rere sudah bersiap untuk menjatuhkan tubuhnya untuk


bertemu dasar jurang ketika dengan tiba-tiba tangan seseorang dengan kuat menangkap dan memeluk tubuhnya dari belakang, menahan berat badan Rere agar tidak terjatuh ke bawah.


“RERE!!!” suara laki-laki yang tak asing berteriak tepat di belakang telinganya. Rere memalingkan wajahnya untuk melihat ke belakang. Sepintas dia merasa bahwa Albie yang akan datang dan menolongnya lagi. Tapi, setelah memfokuskan pandangannya pada raut muka di dekatnya, Ben dengan tampang pucat ketakutan yang membalas tatapan matanya. Memegangi dirinya dari belakang menarik tubuhnya agar menjauhi tepi jurang. Rere berontak, berkutat lemah dalam pelukan Ben yang sangat kuat.


“LEPASIN GUE LO BAJINGAN!!! LEPASIN GUE!!” teriak Rere histeris. Ben adalah orang terakhir yang Rere harapkan untuk bertemu di saat-saat seperti ini. “JANGAN SIKSA GUE LAGI!! PLEASE… BIARIN GUE PERGI!!!” berontak Rere sambil menangis histeris. Dia merasa semua ini adalah kesalahan Ben sejak awal, bahkan ketika ketiga pemuda tadi yang memperkosanya itu juga termasuk kesalahan Ben. Tapi Ben masih dengan sangat kuat terus memeluknya dari belakang, berusaha membawanya menjauh dari jurang, tidak menghiraukan teriakan-teriakan dan pukulan-pukulan kecil Rere di tubuhnya.


Merasa sudah aman dari jarak tepi jurang, Ben akhirnya membalikkan tubuh Rere dan memeluknya dari depan dengan erat. Ada sesuatu yang aneh yang Ben temukan dari Rere, pelukannya terasa lengket dan dingin. Dan Ben dapat mencium sesuatu yang dia kenal dari tubuh Rere. Ben menjulurkan Rere ke depan sambil terus memegang pundaknya menahan agar Rere tetap berdiri. Memeriksa mata Rere yang merah menahan air mata dan amarah, banyak luka gores di sekitar kening dan pelipisnya, pipinya merah, sedikit sisa-sisa darah kering masih melekat di wajah, pinggir bibir dan lehernya, Rere masih sangat cantik pikir Ben dalam hati, dan apa itu? Ben mencoba menyentuh sesuatu yang putih kering, berkerak yang sekarang terasa lembab terkena keringat Rere di sekitar mulut, leher dan dada gadis itu. “Sperma kering…” kata Ben dalam hati. “Oh tidak… Rere…” sambungnya menyadari apa yang telah terjadi pada tawanannya itu beberapa saat lalu.


“Yeah!!…” cetus Rere sinis, “Puas lo sekarang!! Hah?!!…” sambungnya marah, “Puas Lo!??… Lo dah bikin hidup gue ancur!! ITU YANG LO MAU KAN ??!” nada Rere kini semakin tinggi, dia sadar badannya sudah sangat lemah, mungkin kalau memancing amarah Ben, dia akan membuangnya ke dalam jurang itu.


Sementara Ben masih memegangi Rere di pundaknya. Sedikit shock mendengar perkataan Rere.


“SENENG KAN LO??” masih dengan teriakan Rere


“Apa yang terjadi…” Tanya Ben sedikit datar.


“Apa yang terjadi?” balik Rere bertanya, “APA YANG TERJADI!!…. MEREKA PERKOSA GUE!! ITU YANG TERJADI!! NGERTI LO!!” entah kenapa tiba-tiba air matanya menghilang, rasa amarahnya sekarang berkobar-kobar melebihi rasa putus asa yang tadi dirasakannya. Bahkan hawa dingin tadi sekarang tidak dirasakannya. “Sekarang…” sambung Rere lagi, “mendingan lo lepasin gue… jangan ganggu hidup gue lagi…”


“Siapa mereka…” tanya Ben lagi.


“Siapa mereka???” Rere tidak habis pikir dengan pertanyaan Ben, “HOW THE FUCK SHOULD I KNOW?!!” bibirnya hampir bergetar menjawab pertanyaan Ben tadi. Dia marah sekali. Rasanya tidak etis Ben bertanya siapa mereka yang telah memperkosa dan membuangnya di jalanan seperti ini.


Sepintas, Rere bisa melihat Ben yang berwajah hampa dan pucat. Tapi tiba-tiba “PLAK!!” tamparannya menghantam pipi kiri Rere. Dengan badan yang sudah lemah seperti itu, Rere tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan lagi, dia kembali jatuh ke lantai aspal. Sama sekali tidak ada rasa sakit dalam tamparan itu. Mungkin kulitnya sudah kebal karena udara dingin dan amarahnya.


“Siapa mereka, lo harus tau!!” Ben berkata kemudian, nada itu perasaan marah dan terluka. Rere bisa merasakannya. “Biar gue bisa cari mereka dan bunuh mereka semua!!” Rere bisa melihat tangan kanan Ben kini mengepal. Mendengar Ben membelanya, Rere tidak bisa menahan rasa sedihnya. Kini air matanya kembali mengalir, badannya bergetar hebat, menggigil kedinginan.


“Lo gak perlu repot-repot bunuh mereka…” balas Rere dari jalanan aspal yang sekarang merasa energinya sudah habis semua, “mendingan lo bunuh gue aja…” sambungnya lagi, “please Ben… gue udah gak tahan lagi…” rintih Rere.


“Jangan ngaco lo Re…” seru Ben sambil kini berjalan menghampiri Rere, mengangkat tubuh Rere dari tanah aspal dan menggendongnya. “Buat apa gue capek-capek nyulik lo, kalo cuman untuk ngeliat lo mati…” kini dia membawa Rere menuju sedan hitam yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka, “Mendingan gue langsung bunuh lo waktu pertama kali gue ngeliat lo…” lalu Ben meletakan Rere di bangku depan di samping setir, mengeluarkan selimut tebal dari bangku belakang dan menyelimuti Rere yang menggigil hebat seraya membungkusnya seperti bayi. Setelah itu, Ben berlari kecil mengitari mobil menuju pintu sisi yang lain. Duduk di sebelah Rere, Ben memasangkan seatbelt pada Rere dan dirinya sendiri. Membelai rambut Rere dan mengecup keningnya pelan sebelum memacu mobilnya. “Ayo… kita pulang…”.


Semilir angin sejuk dirasakan Rere ketika mobil sudah berjalan. Dia sama sekali tidak bisa mencerna semua kejadian 10 menit yang lalu. Tamparan Ben di pipinya sekarang terasa panas, namun entah kenapa rasa itu sekarang menghangatkan hatinya. Perilaku Ben yang kasar sekaligus lembut tadi benar-benar menggugahnya. Rere juga tidak bisa memutar otaknya untuk bertindak lebih lanjut. Rasa luar biasa lelah menggerogoti tubuhnya sekarang. Kedua kelopak matanya yang indah itu sekarang terasa berkilo-kilo beratnya. Rere memejamkan mata mencoba mempelajari apa yang sekarang dirasakannya dalam hati. Dia bahkan sempat merasakan Ben membelai rambutnya sambil berbisik “I’m really sorry Re…” sebelum dia terlelap tertidur terbawa alam bawah sadarnya untuk mengistirahatkan hati dan tubuhnya.
Cheers…..

TAMAT
Part 3

Rere

“LO DAH JANJI!!!… LO BILANG GUE BOLEH BALIK KE SEKOLAH!!!!” teriak Rere histeris dengan suara hampir melengking memprotes keputusan Ben yang ingkar, menagih janjinya yang diberikan beberapa hari lalu bahwa meskipun dia disekap dan ditawan, Ben membolehkan Rere untuk tetap sekolah dan melanjutkan studinya. Tapi kenyataan ketika dia menuntut untuk dapat pergi ke sekolah lagi, janji itu tidak pernah ditepati. Rere meledak…seolah segala sesuatu yang berkecamuk di hatinya semenjak dia ditahan, tumpah dan meruah. “LEPASIN GUE!!!!… LEPASIN GUE!!! LO MANIAK!!!” Dengan segala kekuatan yang ada di tubuh lemahnya Rere melempar dirinya ke hadapan Ben, memukuli dan mencakari Ben sekuat kuku kecilnya dapat melukai, yang ternyata di respon acuh oleh Ben seolah dia tidak merasakan apa-apa. “LEPASIN GUE DARI SINI!!!… GUE GAK MAU DI SINI TERUS!! LO PEMBOHONG!!! KENAPA GAK LO BUNUH AJA GUE SEKALIAN!! HA??!!” Kali ini tidak ada air mata di kedua


kelopaknya, dia benar-benar tidak bisa memaafkan Ben, sehingga kalau dia diberikan kekuatan, meskipun Ben tidak mau, dia ingin membunuh dirinya sendiri. Harapan untuk hidup normal dan bahagia betul-betul sudah sirna dari garis masa depannya. “JANGAN DIAM AJA LO PENGECUT!! APA PENJELASAN LO KALI INI, HA?? DASAR MANIAK!! LEPASIN GU…” Plak!!


“DIAAAAMMM!!!!!” dengan tiba-tiba Ben menampar Rere ketika dia tidak tahan lagi dengan semua teriakan Rere. Rere terlempar keras terjatuh di lantai karpet, wajahnya tidak sengaja menyerempet tepi tempat tidur dan meninggalkan goresan luka di pelipisnya. Darah menetes dari ujung lukanya. Tapi Rere tidak perduli, dia tidak merasakan sakit sama sekali. Diseka pelipisnya dengan punggung tangannya yang menorehkan tinta darah di kulitnya. Dia bangun dan terus menghampiri Ben seolah menantang siap menghadapi apapun yang akan terjadi.


“Tampar gue lagi…” darah itu kini telah menetes sampai di pipinya. “Tampar gue lagi…” Rere sendiri juga terkecoh dengan kelakuannya. Tetapi dia yakin, apapun yang akan terjadi, terjadilah. “Cuma itu aja kan yang lo bisa!? Iya kan ??” Dia memantapkan wajahnya mendekati wajah Ben, membelalakkan matanya.


“Keputusan gue waktu itu klise…” Ben tak kalah sinisnya menghadapi Rere. “Coba lo pikir, apa gue bisa ngelepasin lo gitu sementara gue tau lo pasti masih nyoba cari cara lagi buat lepas dari gue?” Ben mengetuk dahi Rere dengan telunjuknya, “Pikir pake otak dong!! Gue gak sebego yang lo pikir!!” Ben kini menjauh dari Rere, meletakan pantatnya di sofa tepat di belakang Rere. Menyulutkan api ke batang rokok yang sudah dijepit di antara kedua bibirnya. Menghisap rokok itu dalam-dalam ke paru-parunya “Meskipun emang gue punya rekaman porno lo… dan dapet kartu As lo…tapi gue masih gak sudi kalo lo nanti ketemu Albie lagi…” Ben meniupkan asap rokok keluar dari tubuhnya. “Jadi, gue masih mikir-mikir lagi buat ngijinin lo keluar dari sini…” Ben masih terus dengan santai menghisap rokoknya. “Tapi kalo lo masih tetap maksa buat keluar… yaaa… berarti lo maksa gue buat nyebarin film-film panas lo…” katanya menatap ringan lawan bicaranya.


“Basi tau gak lo!!” kali ini Rere betul-betul tidak takut lagi pada Ben. Semua ancaman-ancaman Ben selama ini seperti angin lalu saja. Dia pun menghampiri dan berdiri tepat dihadapannya. “Gue dah gak peduli lo mau ngapain hidup gue… Udah cukup gue selama ini ngalah sama lo!!” Dada Rere naik turun menahan setiap amarah yang keluar dari tiap kata-katanya. “Gak ada hal yang baru lagi apa yang bisa lo lakuin?? Kecuali ancaman basi lo!? Dasar lo pengecut!! Banci banget sih lo!!” Puas rasanya memaki-maki Ben seperti itu. Dan melihat Ben menunduk seperti itu menerima ocehannya, Rere semakin menjadi-jadi mengeluarkan semua unek-uneknya. Tapi tepat ketika Rere akan memulai untuk menumpahkan tentang betapa pengecutnya Ben yang hanya berani pada satu wanita dan harus digawangi oleh ketiga teman-temannya yang lain, Ben tiba-tiba menatap Rere ke atas dari tempat duduknya. Rere tidak bisa mengenali tatapan Ben itu. Dia belum pernah melihat Ben melihatnya seperti itu. Dan perlahan tapi pasti, tatapan buas itu dikembangkan oleh senyuman Ben yang sinis. Mengingatkan Rere pada topeng joker dalam film Batman yang tersenyum tipis berbahaya.


Ben tidak berkata apa-apa, tetapi tiba-tiba dia bangkit berdiri mengagetkan Rere di depannya. Ben beranjak menuju kamar lemarinya dan menguncinya dari luar. Rere tidak mengerti akan apa yang dilakukan Ben sekarang. Lalu Ben berpindah ke sebuah lemari besar di sudut ruangan. Dia menjangkau tas besar di atas lemari tersebut. Membuka tas itu dan meletakan dengan sembarangan di lantai. Kemudian Ben mulai membongkar lemari di mana baju-baju Rere ada di dalamnya. Merampas dengan kasar semua pakaian-pakaian Rere yang ada di dalamnya. Panties, bra, bahkan lingerienya pun dimasukkan ke dalam tas besar tersebut. Dalam 2 menit, Ben sudah mengosongkan seluruh isi lemari yang dulu dibelikannya untuk dipakai Rere. Selesai mengunci pakaian itu, dia menyapu sekeliling kamar dengan pandangannya. Rere tidak mengerti apa sebenarnya yang dilakukan Ben. Setelah selesai menyapu ruangan dengan pandangannya, Ben menarik tas besar tersebut dan membawanya ke luar kamar. Belum selesai Rere memecahkan teka-teki ini, tiba-tiba Ben masuk kembali ke dalam kamar dan memandang Rere penuh arti.


“Apa maksudnya ini??“ Rere mengatakan kalimat yang pertama kali timbul dalam otaknya. Tetapi Ben hanya tersenyum. “Apa kita mau pindah dari sini??” Rere mulai lagi, dia berpikir mungkin Ben sudah mengusirnya pergi dari tempat itu.


“Buka baju lo!!” Ben berkata dengan nada yang seolah memaksa.


“Maksud lo apa?!” spontan Rere memeluk dirinya sendiri, seolah pernyataan Ben seperti mau memerkosanya.


“Udah!! Buka baju lo sini!!” dengan kasar Ben menarik pakaian dari tubuh Rere, berusaha untuk menelanjanginya.


“Enggak!! Ngapain lo!! LEPASIN GUE!!!” Rere berusaha berkutat untuk mempertahankan pakaian yang ada ditubuhnya. Dia tahu keadaan ini tidak mungkin sesuatu yang baik. Dia kembali mengabsorbsi tindakan Ben merampas semua pakaiannya. Nampaknya Rere mulai mengerti.


Tetapi, dengan keadaan tenaga yang sangat kontras antara mereka berdua, Rere mulai terpojok ke sudut ruangan, dengan masih bersandar ke tembok dia terus memeluk pakaian yang ada di tubuhnya seolah itu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya saat ini.


“Jangan!!… Lepasin gue!! Jangan ganggu gue!!!” apapun yang dikatakan Rere tampaknya hanya angin lalu untuk Ben. Tapi, alih-alih melepaskan pakaian Rere, karena perlawanan Rere yang keras, Ben malah mengoyak pakaian Rere dan seperti kerasukan sesuatu, Ben masih saja dengan kesetanan mencabik-cabik pakaian Rere sehingga rusak total.


Sekarang Ben bisa melihat buah dada Rere yang mengkilat karena keringatnya dari perlawanannya –padahal ruangannya itu ber-AC, buah dada itu naik turun mengikuti irama nafas berat siempunya seperti menari ditempatnya. Dan potongan-potongan pakaian yang koyak itu seolah menjadi asesories di sekitar gunung kembar itu. Sesuatu berdenyut di selangkangan Ben. Seringai Ben seolah di-amin-i oleh ‘adik kecil’nya.


“Apa maksud lo!!” walaupun terpojok, Rere terus saja melawan ketika dia sudah dapat mengendalikan nafasnya. “Mau lo apain baju-baju gue!!?” Tapi Ben tidak menjawab. Bahkan seringai mautnya makin berkembang. “Ben, jangan gila!!” teriak Rere ketika dia melihat Ben membuka celananya sendiri.


Tapi Ben hanya tersenyum, dan dia segera mengunci Rere ketembok dengan satu tangannya, tepat ketika Rere ingin menghindarinya. Rere berusaha untuk terus berkutat. Dia sedang tak ingin diperkosa saat itu. Dia tidak mood untuk seks pada saat seperti ini.


“Gak mau…!! Lepasin gue!!!” Ben tetap diam seribu bahasa, dia terus mengunci mahluk cantik di hadapannya ke tembok. Rere terkejut ketika celana dalamnya dikoyak kasar oleh Ben. Kejadian itu begitu cepat sampai akhirnya dia tidak memakai bawahan sama sekali di tubuhnya. Seolah, daerah yang seharusnya vital menjadi kawasan bebas pandangan dengan kostum compang-camping di atasnya. Sedetik kemudian, Ben menempelkan badannya di badan Rere.


Meskipun dalam posisi berdiri, tapi dengan terpepet ke tembok seperti itu, Rere sama sekali tidak bisa berkutik. Juga ketika dia merasakan Ben mengangkat kaki kirinya dan meletakkannya ke pinggul Ben, barulah dia merasakan sesuatu yang panjang dan keras sedang menempel di daerah vitalnya. Ben terus berusaha mengalungkan salah satu kaki Rere ke pinggulnya. Salah satu tangannya mencoba meraih ‘adik kecil’nya yang sudah bangun sementara badannya terus menempel menekan tubuh Rere merapat di tembok. Dia menuntun tubuh kejantanannya untuk mencari lubang di selangkangan tubuh lawannya.


“Gue gak mau!! Jangan di paksa!! Lepasin!!!” Rere terus menghindar manakala Ben berusaha untuk mencium bibirnya. Dia terus membuang wajahnya ke kanan kiri untuk menghindari ciuman Ben. “Jangan…!” teriak Rere ketika salah satu tangan Ben memegang pantatnya dan berusaha mengangkat tubuhnya yang sudah setengah melingkari pinggul Ben.


Tapi Ben seperti kerasukan setan, dengan keras kepala terus mencoba untuk memasuki tubuh Rere dengan batang kemaluannya. Ben sama sekali tidak peduli bahwa lawan mainnya berusaha untuk berontak, bahwa selangkangan gadis itu masih kering dan belum bisa untuk dipenetrasi, bahwa kejadian ini sungguh tidak diinginkan oleh pasangannya atau bahkan si perempuan sedang marah-marah kepadanya. Dengan kekuatan tenaga yang tidak seimbang, Ben dapat menguasai tubuh Rere dan dengan sekuat-kuatnya dia menekankan batang kejantanannya ke dalam kemaluan Rere ketika dirasa sudah menyentuh pintunya.


Tepat ketika batangnya sudah bersarang di tubuh Rere, Ben mengolah ‘adik kecil’nya dengan ritme sedang. Dilihatnya Rere dengan senyum kemenangan. Tubuhnya berusaha untuk mengimbangi tinggi badan Rere sambil terus menggoyangnya maju mundur. Dipandanginya mata Rere yang sekarang berkaca-kaca. Pelipisnya yang tadi terluka sekarang dijilati Ben dengan nafsu seolah menghapus darah yang mengalir kering di pipinya.


Sementara Rere sekarang merasa sangat terhina. Dia tidak bisa menyangka bahwa Ben bisa menyanggamainya seperti itu. Sekuat apapun tenaganya untuk melawan, toh akhirnya dia disetubuhi juga. Rere bertekad untuk tidak menikmati permainan ini. Dia berusaha menolak perasaan bahwa diselangkangannya sekarang terjadi denyut kenikmatan dan sudah basah oleh lendir kewanitaannya, menolak libidonya untuk naik terus saat mendengar Ben mengerang kenikmatan dalam setiap nafas beratnya di telinganya.


Tetapi, tepat ketika Ben melepaskan tangannya dari pinggang yang menahan tubuh Rere agar setara dengan tinggi selangkangannya, Rere mengerang keras saat tubuhnya dengan tiba-tiba merosot sehingga kejantanan yang ada di dalam tubuhnya menyodok begitu dalam di pintu rahimnya. Rasa ngilu menyerang bagian bawahnya. Tapi Ben terus mengocok ‘adik kecil’nya di dalam tubuh Rere. Air mata kemarahan yang tadi bersarang di matanya, sekarang berubah menjadi air mata keputus-asaan dan kesakitan yang sangat mendalam. Sehingga dengan terpaksa, Rere mengalungkan kedua tangannya di leher Ben untuk menjaga selangkangannya setara dengan selangkangan lawan mainnya, dan terus mengalungkan satu kakinya di pinggul Ben sementara kaki yang lain berjinjit menyeimbangi tinggi badan pemuda di hadapannya. Tetapi, jerit kesakitan dan respon Rere dianggap sebagai penyemangat buat Ben untuk terus berperan. Dia bahkan menaikkan ritme goyangannya tanpa sepatah katapun keluar dari


bibirnya. Hanya erangan kenikmatan dan nafas berat yang keluar dari bibirnya sambil meremas buah dada Rere dan membungkukkan badannya mencoba mendekatkan bibirnya dengan benda kembar itu tanpa menghentikan kegiatan si ‘adik kecil’nya.


Mendapat stimulasi seperti itu, Rere semakin tersiksa. Dia merasa tidak bisa terus tetap memerankan sikap menolaknya. Tusukkan Ben dalam tubuhnya sekarang mempunyai rasa nikmat ketika buah dadanya diremas kasar dan dihisap oleh Ben.


“Aaahh… ssshhh… Ben…udah…gak… mau…” desahan Rere dalam setiap masing-masing kocokkan Ben. Tubuhnya terdorong-dorong ke atas mengikuti irama tusukkan Ben diselangkangannya. Dan sekitar 2 menitan berlalu, tiba-tiba Ben mengangkat tubuh Rere dan menggendongnya dari depan tanpa melepaskan kegiatan batangnya di bawah sana . Dia menaik turunkan badan Rere yang masih tetap bersandar ditembok dengan kedua tangannya berusaha mengocok kejantanannya dengan beban itu.


Tidak ada yang bisa dilakukan Rere saat itu kecuali menikmati diam-diam permainan ini. Dia berusaha untuk tetap menjadi korban dalam situasi ini. Dia tidak mau dengan adanya kejadian ini, batal untuk menghirup udara bebas. Dan selama 5 menit berlalu sebelum Ben akhirnya berejakulasi di dalam rahimnya, Rere hanya mengerang dalam diam. Tanpa menunggu waktu, Ben melepaskan gendonganya dan mencabut kemaluannya dari daerah segitiga Rere.


“Fiiuuhh…” nafas dalam Ben berbunyi, “That was really great, wasn’t it??” katanya kemudian duduk di sofa sambil mengambil sebatang rokok untuk dinyalakan. Disebelahnya Rere nampak shock dengan kejadian yang baru saja di alami. Dia tidak tahu harus bagaimana dan hanya terdiam seperti patung sementara cairan kental putih mengalir keluar dari dalam kemaluannya, menetes di bagian dalam kaki jenjangnya, tanda Ben memang berejakulasi di dalam kemaluannya.


“Well,… that was new…“ Ben memulai pembicaraan sambil menyodorkan segelas air putih kepada Rere. Dan dia meletakan kembali gelas itu ke atas meja ketika Rere mengacuhkannya. “Katanya lo mau sesuatu yang ‘baru’…” sindir Ben puas. “Tadinya gue emang mau ngasih lo ngelanjutin sekolah lagi…” kata Ben lagi, “tapi setelah gue pikir-pikir lagi, gue gak mau ngambil resiko” lanjutnya “ntar yang ada malah lo bakal lepas selamanya lagi…tul gak??”


“So… gue kembali ke keputusan awal gue… Lo akan terus disini sampe kita pindah ke tempat lain…” kata Ben santai. “and baju-baju lo bakal gue tahan… just in case… kalo lo kabur diam-diam…”, “jadi, sabar ya sayang… nikmatin aja hari-hari kita…” dan dengan kata-kata itu, Ben memungut sobekan-sobekan pakaian Rere di lantai dan mengambil sisa pakaian yang masih menempel di tubuh Rere. “ Ada handuk kecil di kamar mandi… kalo mau mandi… Jangan coba-coba kabur ya… lo gak mau kan diliat bugil sama orang banyak…” dengan kecupan ringan dan senyuman kecil Ben meninggalkan Rere sendiri di kamar.


Seakan sudah satu atau dua jam Rere terpatung seperti itu. Pikirannya buntu bukan kepalang. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Terkurung di dalam kamar sungguh sangat menyesakkan. Bahkan, air mata serasa sudah kering untuk mengalir. Dengan putus asa, Rere melangkah menuju kamar mandi. Memutar kedua kran air dingin dan panas. Setelah mendapatkan kehangatan yang diinginkan, dia membasuh sisa sperma di sekitar selangkangannya. Rasa perih dirasakan ketika dia mencoba membersihkan kelaminnya. Rupanya, penetrasi kering tadi membuat alat vital Rere menjadi perih dan sedikit memar. Tanpa menggubris rasa tidak nyaman itu, dia langsung membersihkan tubuhnya. Serasa tubuh itu sangat kotor sekali. Serasa banyak noda yang mengganggu di sekitar permukaan kulit mulusnya.


Sekitar 15 menitan, Rere berpikir untuk menyudahi kegiatannya di kamar mandi. Handuk kecil yang tergeletak di wastafel di dalam kamar mandi, memang benar-benar handuk kecil yang sama sekali tidak bisa dililitkan di sekitar tubuhnya. Dengan sedikit kesal, dia membuang handuk yang sudah mengeringkan tubuhnya itu ke sudut ruangan.


Keluar dari kamar mandi, didapati ruangan kamar masih kosong. Rere sudah terbiasa setiap dia keluar dari kamar mandi, pasti Ben sudah ada di kamar menunggunya. Tapi kali ini, dia benar-benar tidak ada dan mungkin pergi entah kemana. Dan sambil berusaha menerima nasib yang akan datang nanti, dia melangkah telanjang ke kamar tidurnya.


Rasanya sudah berhari-hari setelah kejadian perampasan pakaian itu Rere menjalani hari-harinya seperti orang bisu. Tidak banyak kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya. Walaupun melayani dingin semua keinginan seksual Ben, serasa menunjukkan demo halus bahwa dia tidak menikmati semua itu, Rere tetap diam seribu bahasa. Semua dilakukan dalam keadaan bugil. Satu-satunya bahan kain yang dipakai untuk menutupi tubuhnya hanyalah selimut kain halus yang menutupi tempat tidur. Dia tahu, Ben tidak keberatan Rere menggunakan selimut itu untuk menutupi tubuhnya “Buat apa ditutupin, ntar juga dibuka lagi…” itulah yang dikatakan Ben walaupun dia tidak memperlakukan Rere secara kasar lagi.


Rere sedang menunggu Ben membawakan makanan pada suatu siang ketika didengarnya suara bersenandung sambil menyapu di balik pintu keluar yang selalu terkunci itu. “Itu bukan suara Ben… Itu suara perempuan…” Hati Rere seperti bertalu “ Ada orang lain disini…” katanya dalam hati.


“Mbaak… mbaak… “ digedornya pintu itu, dan entah kenapa degup jantung di dadanya terdengar lebih kencang dari biasanya. Dan suara senandung itu berhenti, juga dengan suara kegiatan menyapu. “ Ada orang di luar yaa? Ibu…? Siapa yang di luar…Tolong buka pintu…” Rere melanjutkan dengan mengetuk pintu itu lebih keras lagi.


Bunyi ‘Klik’ terdengar dua kali dari lubang kunci pintu itu. Tanpa sadar Rere mengencangkan lilitan kain selimut di tubuhnya. Dan begitu pintu terbuka, sosok lugu seorang ibu-ibu sederhana terpampang di depannya.


“Lho… Ibu siapa?” Rere berusaha menenangkan suaranya.


“Saya bibi di sini non… Saya baru seminggu kerja di sini…” kata ibu itu dengan rasa hormat luar biasa. Rupanya dia tidak tahu siapa Rere yang sebenarnya. “Non kebangun ya… maaf bibi tidak bermaksud mengganggu non, nanti bibi gak akan nyanyi lagi…” Tetapi Rere tidak sepenuhnya mendengarkan celoteh ibu tua itu. Dia begitu kaget melihat ruangan yang berada di balik pintu kamar yang selama ini menguncinya. Ruangan besar super mewah dengan keramik yang Rere tafsir sangat mahal. Lingkaran tangga marmer spiral meliuk-liuk di sebagian besar ruangan itu. Seperti aula kerajaan di dalam rumah. “Apa non adiknya tuan Ben?? “lanjut Ibu itu “…maaf non, tapi bibi kerja sendiri di rumah sebesar ini…jadi bibi tidak sempat melayani non…tapi kenapa non terkunci dari luar… Lho…Non mau kemana?”


Rere langsung melangkahkan kakinya ketika dia melihat pintu besar yang seperti pintu utama di rumah itu. Hatinya berdegup kencang sekali serasa gumpalan jantungnya ingin meloncat keluar dari songketnya. Dia berharap mudah-mudahan pintu itu tidak terkunci. Seolah rumah ini begitu besar sampai dia membutuhkan beberapa menit setelah menuruni undakan tangga spiral besar itu untuk mencapai pintu. Dan ketika di putar knob berlapis emas pintu itu, ternyata tidak terkunci dan pintu terbuka.


“Non mau kemana…?” Ibu tua itu ternyata mengikuti Rere dari belakang. Tapi Rere tidak menggubrisnya. Tidak ada waktu untuk berhenti. Dia ingin mencapai kebebasannya.


Bahkan, halaman rumah ini juga begitu luas. Rere baru sadar ternyata dia benar-benar di sekap di dalam istana. Dia sedikit berlari untuk mencapai pintu pagar. Jalan aspal sedang ditengah-tengah taman yang terawat menuju pagar besar itu juga begitu panjang. Rere sedikit terengah ketika dia mencapai pagar besar itu. Dibukanya pintu pagar yang kecil di pojok pagar yang ternyata tidak terkunci.


“Non… mau kemana…Apa gak mandi dulu…kenapa nyeker…ayo pake sandal… trus jangan begini keluarnya…” ibu itu memegangi kain putih yang melilit di tubuh Rere.


“Bi… tolong… masuk aja ke dalam… anggap aja bibi gak ketemu saya tadi…” kata Rere tidak sabar. Dia berusaha memperhatikan jalan di luar pagar itu. Hanya jalan kompleks kecil yang memang sangat sepi.


“Tapi non… kenapa gak nunggu tuan Ben saja… biar nanti dia yang antar… jalan ke depan jauh sekali non…emang non mau kemana…” tapi Rere tidak sempat menjawab pertanyaan ibu itu. Matanya menangkap mobil sedan hitam yang tiba-tiba muncul dari tikungan di ujung jalan. Masih sambil menarik kain penutup tubuhnya dari tangan ibu itu, Rere berusaha mengenali siapa yang ada di balik setir mobil itu. Tapi kaca mobil itu begitu gelap.


Hatinya berdegup kencang sekali, sambil terus berkutat halus melepaskan dirinya dari ibu tua yang keras kepala ingin menariknya kembali ke dalam, Rere memperhatikan mobil sedan itu sekarang sudah semakin dekat dengan mereka. Dan dengan perasaan kalut luar biasa di dalam hatinya, dia masih terus berusaha melepaskan diri dari ibu itu. “Bi, tolong… saya harus pergi!!” Dia sekarang memperhatikan mobil itu berhenti beberapa centi di depan mereka. Pintu mobil terbuka. Dengan radar yang luar biasa tanggap Rere langsung melepas kasar tangan ibu tua itu dari tubuhnya dan berlari sekuat tenaga ke arah dimana mobil itu muncul ketika dilihatnya Ben yang terlihat murka berusaha keluar dari mobil dan ternyata dia lupa membuka seatbeltnya sehingga memberikan Rere beberapa detik untuk lari sekuat kakinya bisa membawanya.


“TUNGGU!!! BERHENTI!!!!… RERE!!!!” teriak Ben sambil berlari mengejar gadis yang sekarang sudah berjarak kira-kira 5 meter di depannya. Rere terus berlari. Ini kesempatan emasnya. Dia tidak mau kembali ke tempat neraka itu. Kain putih berkibar di belakangnya melambai-lambai mengiringi pelariannya. Walaupun batu-batuan kecil menyakiti telapak kakinya yang telanjang, Rere tidak perduli. Dia terus berlari. Tahu bahwa Ben tidak jauh di belakangnya, Rere berfokus ke depan. Berusaha menekan otak kecilnya untuk bekerja. Berpikir mencari jalan keluar.


“Rere!!… Mau kemana lo?!… Lo gak tau daerah sini!! Nanti kesasar!! Tunggu!!“ nyanyian Ben di belakang Rere. Dia tahu, Ben pasti marah sekali. Tapi dia tidak perduli.


Rere membelokan dirinya ditikungan jalan tepat dimana mobil Ben tadi muncul. “Kenapa gak ada orang sama sekali!!” kata Rere dalam hati. Lingkungan itu sepi sekali. Dan dia masih saja terus mendengar Ben berteriak-teriak di belakangnya. Langsung saja, ruang hampa menggerogoti paru-parunya. Antara berdegup kencang dan kelelahan, Rere berusaha menarik nafas dalam. Dia tidak boleh berhenti. Dan tepat ketika ujung jalan kecil ini sudah terlihat, Rere melihat jalan kompleks kecil yang sedikit banyak pasti dilewati mobil yang lalu lalang. Ada tikungan kecil tepat di depannya. Apakah Ben akan tahu kalau dia nanti bersembunyi di sana ? Dia memberanikan diri menoleh kebelakang. Ben tepat di belakangnya, “Tunggu!!” Rere mendengarnya berteriak. Sambil terus berlari, terus memegang erat lipatan kain yang melilit di sekitar dadanya, Rere tidak memperhatikan bahwa ada lubang kecil di ujung jalan itu. ”AAHHHH…!!” dan kakinya terjeblos kedalam lubang itu


dan diapun jatuh menggelinding di –yang terlihat seperti—jurang kecil. Dia tidak bisa mengonsentrasikan penglihatannya. Jatuh terus terguling ke bawah. Rasa perih terasa dilengan kirinya ketika duri besar menggores lengannya. Sambil terus terguling ke bawah, Rere berusaha memegang erat kain di tubuhnya. Dan bunyi keresek keras memberitahu Rere bahwa kain itu robek tergores ranting pohon, tapi dia terus terguling ke bawah.


Akhirnya Rere bisa berhenti berguling. Rasa luar biasa pusing terasa sekitar kepalanya. Terhuyung sedikit, dia berusaha untuk bangkit. Dan dengan tanggap melihat ke belakang, berusaha mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Dia terjatuh di ketinggian kurang lebih 1.5 kilo meter dari atas. Kain lilitannya pun sedikit kendur. Tapi dia meyakinkan dirinya, dia tidak apa-apa. Terlihat sosok Ben berdiri mematung di atas sana . Rere tahu, Ben pasti memikirkan cara untuk terjun juga ke bawah dan menangkap dirinya. Tanpa berpikir panjang, Rere membalikkan badannya untuk kembali berlari, tapi…


“REREEEEEE!! “ teriak Ben histeris. Beberapa kejadian beruntun terjadi secara bersamaan. Rere tidak menyadari bahwa di belakangnya adalah jalan aspal kecil, bahwa ada sinar lampu menuju ke arahnya, bahwa ketika Ben memanggil namanya dia seharusnya tidak boleh berlari, Bahwa sinar lampu itu adalah sinar yang datangnya dari sebuah Terano, bahwa Terano itu berusaha untuk mengerem dan berhenti, bahwa sipengemudi terlambat sepersekian detik untuk menginjak remnya dan bahwa Rere melupakan kain kendur di tubuhnya ketika menggunakan kedua tangannya untuk berusaha menghentikan mobil itu menghantam tubuhnya.


Sesuatu yang sangat keras dan berat menghantam perutnya, melempar keras tubuhnya ke belakang. Rere mengejan menahan rasa luar biasa sakit di perut dan tubuhnya. Dia tidak menyadari bahwa setengah tubuhnya sekarang terpampang bebas ketika dia memuntahkan darah segar dari mulutnya yang mungil. Masih terus berusaha berkonsentrasi untuk tetap sadar, Rere berusaha bangkit. Siempunya Terano akhirnya keluar dari mobilnya dan dengan sedikit berlari berusaha untuk menolong Rere.


“Mbak… sorry banget mbak… apa yang sakit… “ seorang pemuda tinggi tegap menghampiri Rere yang masih bersimpuh menahan perutnya yang tadi terhantam. “Ayo mbak, saya antar ke rumah sak—“ tapi pemuda itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Rere pun sadar apa yang membuatnya menjadi bisu. Rere yang sedang menyeka mulutnya dari sisa darah yang dia muntahi tadi pun menyadari bahwa antara terkejut dan bingung, bagian atas tubuhnya terpampang terbuka memperlihatkan buah dadanya yang putih berisi yang sekarang sedikit ternoda merah karena muntahan darahnya. Dengan sigap, dia menaikkan kain yang tergeletak lemas di sekitar perutnya, menutupi kembali buah dadanya. Dan dengan gugup berusaha membalas si pemuda tersebut.


“Enggak mas… saya gak apa-ap—“ terkejut bukan main, Rere kembali sadar dengan situasinya. Dia kembali melihat ke atas kemana Ben tadi diam mematung memanggil dirinya. Ben tidak ada di sana , Rere menyapu lingkungan sekitar, hanya ada dirinya, pemuda yang menabraknya dan mobil Terano yang menabraknya tadi. “—eng… oh iya…” sambung Rere tiba-tiba, “tolong saya mas… antar saya ke… ke rumah sakit…” dan tanpa di suruh, Rere mengerahkan seluruh tenaganya mengangkat tubuhnya dan sedikit tertatih berjalan menuju ke mobil itu. Dan pemuda itu pun dengan tenang melangkah kembali ke mobilnya sambil melirik ke kiri dan kanan mencoba mengenali lingkungan sekitar.


Rere menenggelamkan posisi duduknya ke bawah sehingga sedikit kemungkinan untuk terlihat dari luar. “… Jalan mas…—tolong …” dia menambahkan buru-buru, berusaha untuk ramah agar pemuda itu tidak tersinggung.


Mobilpun melaju, melegakan hatinya dan menyadarkan Rere bahwa ternyata dia sekarang berada di suatu tempat dimana sejauh mata memandang, kebun-kebun teh menghampar di sepanjang jalan.


“ Eng. .. kita ada di mana ya…?” Tanya Rere pelan-pelan, dia sedikit ragu, apakah pertanyaan itu akan menolongnya.


“Kita ada di Puncak… lho emangnya gak tau?” Rere terkejut bukan main. Ternyata pertanyaannya bukan dijawab oleh sipengemudi di sebelahnya melainkan dari seseorang di bangku belakang. Spontan Rere menengok ke belakang. Karena sibuk mengkhawatirkan Ben, dia jadi lupa mengawasi sekitar mobil. Ada 2 pemuda lain di bangku belakang. Masih terlalu dini untuk menunjukkan kekhawatirannya.


“Oh… sorry, saya gak tau kalo ada orang lain…” katanya sambil mengencangkan pegangan kain di dadanya. Perasaannya tidak karuan. Ada kekhawatiran yang tidak ada hubungannya dengan Ben kali ini. Tapi dia berusaha menenangkan hatinya melihat penampilan ketiga pemuda itu, Rere yakin mereka baik. Mereka sangat manis dan berwajah ramah. Mungkin berkisar usia 22 sampai 25 tahunan, tapi si pengemudi tampaknya yang paling muda di antara mereka.


“Oh iya… Gue Bami, itu yang pake baju ijo namanya Firdo, trus yang duduk dibelakang lo persis namanya Michael tapi panggilannya Mika…” kata si pengemudi tiba-tiba melupakan semua tatakrama bahasanya yang tadi begitu sopan ketika menabrak Rere.


“Rere… “ sambil tersenyum Rere membalas singkat, entah kenapa hatinya makin tidak karuan. Apalagi dengan kondisi fisiknya yang sama sekali tidak mengenakan apa-apa di balik kain putih itu. Dan dengan gugup dia memperhatikan jalanan sekitar. Beribu-ribu petak kebun teh masih menghiasi kaca mobil itu. Dia masih jauh dari aman. Jalanan yang berkelok-kelok ternyata sangat jarang dilalui oleh orang lain.


“Kenapa pake ini Re…” tanya Bami tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan sambil menyentuh kain putih yang sekarang berbecak-becak darah yang tumpah dari mulutnya di sekitar pahanya, membuyarkan Rere dari kekhawatirannya. Spontan Rere semakin khawatir. Dia lantas mempererat genggamannya di lipatan dada kain itu. Itu pertanyaan yang tidak sopan. Dia tidak mau menjawabnya. Dan Rere sempat memperhatikan mata lelaki itu menatap penuh arti dari kaca mobil depan ke teman-teman di belakangnya. Rere semakin khawatir dengan keadaan sekitar yang sangat sepi. Nalurinya mengatakan bahwa hatinya salah. Mereka memang bertampang manis, tetapi mereka tidak ramah.


“Eng. .. saya turun di sini aja mas Bami… “ pinta Rere dengan hati-hati mencoba menutupi kegugupannya. “sepertinya saya sudah tidak apa-apa…”


“Lho… katanya mau ke rumah sakit… ayo kita antar ke sana … itu luka goresnya makin biru…” sahut Firdo dari belakang. Yang membuat Rere kaget, pemuda itu mengusap pelipisnya yang terluka dari belakang. Rere semakin kalut.


“Eh… iya gak apa-apa kok… udah bisa jalan sendiri…” balas Rere sambil dengan pelan-pelan menghidari usapan tangan Firdo di wajahnya. Berusaha agar tidak membuat mereka tersinggung. “Tolong stop mas Bami… saya turun di sini aja…” pinta Rere dengan sopan.


Sepertinya Bami tidak mendengar Rere, dia hanya tersenyum sambil memperhatikan jalan. Atau memang dia tidak mendengar?


“Mas Bami… tolong stop mobilnya, saya turun disini saja…” ulang Rere.


“Kirain gue bakal kena masalah… nabrak orang… fiiuuhhh…gak taunya malah dapat durian runtuh…” jawab Bami pura-pura menyeka keringat di dahinya sambil menatap ke kaca depan. Rere tidak mengerti. Dia mencoba memahami apa arti omongan lelaki itu.


“Gue pikir tadi malaikat, hantu ato apalah itu… kok putih-putih berdiri di jalanan… gak taunya bidadari yang terluka… hahaha…” Mika akhirnya mengeluarkan suaranya membalas tatapan Bami dari belakang.


“Puter balik Bam…kita ke vila lagi… “ sambung Firdo tanpa mengurangi maksud nada bicaranya. Akhirnya Rere mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan diapun berusaha membuka pintu mobil yang seharusnya tidak dia naiki untuk terjun ke jalan. Dia tahu dia tidak aman, malah dia dalam bahaya yang sangat besar. Tapi pintu itu terkunci. Dan tepat ketika dia ingin memprotes Bami kenapa pintu itu terkunci, pada saat bersamaan, tangan kasar menariknya ke belakang. Seseorang menyetel kepala bangku mundur ke belakang dan yang lain menyeretnya ke belakang.


Rere berteriak, berontak menggedor-gedor kaca mobil di sampingnya. Dia tidak mau dianiaya lagi. Sudah cukup dia menderita. Alhasil, kaca mobil sama sekali tidak berubah, bahkan retak sedikitpun tidak. Bami menepi mobilnya dan berputar di salah satu blok kebun teh tepat ketika Firdo dan Mika berhasil menarik Rere ke belakang dari bangkunya.


“Mau kemana Re…katanya mau ke rumah sakit… ayo kita antar…” Firdo menyungging senyum ketika menempatkan Rere ditengah-tengah mereka.


“Jangan… please… udah cukup… gue gak bisa lagi… tolong… jangan…” Rere tidak perduli, dia mengiba kepada mereka ketika dia merasa tidak bisa berkutik lagi. Tetapi Firdo dan Mika malah membuka lipatan kain yang ada di tubuh Rere dengan kasar. Rere tidak sempat mempertahankan tubuhnya agar tidak telanjang. Terlambat, kain itu sudah terbuka di bagian dadanya. Senyuman mata Bami terlihat dari kaca depan mobil.


“Cukup??” Mika membalas dengan nakal sambil melirik ke buah dada Rere yang terbuka dan menyentuh darah yang mengering tepat di tengah-tengah buah dadanya. “Kita mau nolong… tenang dikit… tar lagi sampe kok ke rumah sakit…” Rere tahu dia bohong. Terano itu sudah kembali ke arah sebaliknya menuju jalan berliku yang tadi dilewatinya. tanpa berpikir panjang, Rere mendorong tubuh Mika yang tepat di dekat pintu, meng-unlock pengunci pintu. dan mencoba membukanya. Tapi pintu mobil itu masih tetap terkunci.


“Galak juga nih bidadari Do…” canda Mika ketika dia sudah kembali membalikkan tubuh Rere ke tengah-tengah mereka.


Begitu posisi Rere di tengah-tengah mereka, Firdo sama sekali tidak berminat membalas obrolan Mika, dia malah dengan ganas meraba Rere. Meremas buah dada Rere yang ranum terbuka dengan kasar sambil menciumi lehernya dari samping.


“Jangan… LEPASIN!!…” teriak Rere putus asa. Tapi tidak ada yang memedulikan teriakan Rere. Bami tetap melaju mobilnya. “Tolong… jangan… gue udah sakit.. Tolong…jangmmpph…” Mika tiba-tiba melumat bibir Rere dari sisi yang lain. Kali ini Rere benar-benar tidak bisa berkutik, tubuhnya dikunci mati oleh Mika dan Firdo. Hatinya berdegup kencang ketika dirasakannya jari-jari Mika sudah menyusup di selangkangannya. Meraba bibir bawahnya dengan kasar. Rere merasa sangat sakit. Hati dan harga dirinya yang sudah hilang sejak lama kini kembali dikoyak. Dia hanya bisa berteriak dalam dekapan ciuman Mika. Jari-jari Mika masih dengan lincah bermain di selangkangan Rere sementara Firdo masih dengan gemasnya meremas dan menciumi buah dada Rere dan Bami masih melaju mobilnya dengan cepat.


“Sialan lo berdua… gak bisa nunggu sampe vila apa??” gerutu Bami yang entah kenapa Rere merasa tidak ada nada marah di dalam kalimatnya. Masih berusaha melawan, Rere hanya bisa memberontak menggerak-gerakkan badannya, berusaha memelesetkan jari-jari Mika yang sepertinya ingin menyusup kedalam pintu rahimnya. Dan ketika Rere merasa jari-jari itu sudah berada tepat di pintu kelaminnya, dia melihat mata Mika yang penuh nafsu menatapnya kembali, dan ciuman kasar di bibir Rere tiba-tiba berhenti seraya memberikan senyuman yang Rere tahu itu bukan senyuman yang baik tepat ketika dirasakan salah satu jari Mika menerobos masuk ke dalam vaginanya.


Kembali Rere teriak dalam lumatan bibir Mika. Tubuhnya melonjak kesakitan seraya membusungkan dadanya. Hal itu membuat Firdo yang bibirnya tepat di buah dada Rere semakin ganas melumat dan menghisap putting merah muda di sana . Sakit Rere rasakan dalam hatinya. Bahkan dia tidak sempat berpikir betapa malang nasibnya karena Bami sepertinya mendapatkan suatu tempat yang aman untuk memarkirkan mobilnya. Dan menonton aksi kedua temannya pada gadis yang mereka temukan.


“Gila tuh body… killer banget ya…” cetus Bami entah kepada siapa. “Enak susunya Do…?” tapi nama yang diajak bicara tidak menjawab. Rere yang masih terus berontak melihat Bami kini merendahkan punggung bangkunya serasa ingin bergabung ke bangku belakang dan sedetik kemudian membuka seleting celananya dan mengeluarkan batang dan mengelusnya pelan sambil mengocoknya sendiri.


Sementara kocokkan jari Mika di dalam selangkangannya semakin lama semakin cepat. Air mata kini mengalir dari kelopaknya. Dia sungguh tidak menyangka hal ini akan terjadi. Sungguh Rere merasa merana di tengah-tengah ketiga laki-laki ini. Sepertinya nafsu mereka tidak bisa dibendung. Dan hisapan mulut Firdo di buah dadanya juga tidak pernah puas.


Rere masih berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan ketiga orang itu, mencoba meminta belas kasihan dari mereka. Hisapan ganas bibir Mika akhirnya berpindah ke belakang telinganya, masih sambil menggosok-gosokkan jarinya di dalam rahim Rere. Kini, batang kelamin Bami semakin keras. Rere sedikit ngeri melihat ukuran batang itu. Sungguh besar kemaluan Bami. Batang kejantanan ke-enam yang pernah Rere lihat dalam hidupnya. Dan dia yakin sebentar lagi akan melihat batang yang ke-tujuh dan ke-delapan. Membayangkan jumlah itu membuat Rere semakin putus asa. Dia terus menangis.


“Tolooong… jangan… lepasin…udah… cukup…” entah kenapa Rere merasa sama sekali tidak punya kekuatan lagi. Kocokkan, jilatan dan hisapan-hisapan di sekitar tubuhnya membuatnya dilemma. Rere berusaha menolak perasaan nafsu yang sepertinya muncul dari dalam dirinya. Dia merasa marah pada dirinya sendiri jika libidonya tumbuh. Bahkan luka-luka ditubuhnya sekarang sudah tidak terasa lagi.


Setelah beberapa saat berlalu, Rere kembali merasakan Firdo menunjukkan nafsunya yang sudah tinggi. Dia menghentikan segala kegiatannya dan langsung membuka celana panjangnya. Mengeluarkan kemaluannya yang ternyata sudah tegak menjulang. Sambil mengocoknya pelan, dia mencoba mengajak temannya berbicara.


“Mik, gue mau masuk… “ Spontan Rere melihat ke arahnya ketika Mika melepaskan segala aktivitasnya pada tubuh Rere. Mahluk kecil itu sudah bangun dari tidurnya dan sekarang berdiri dengan kokoh ditengah-tengah pangkal paha Firdo. Segera saja, ketakutan melanda pikiran Rere melihat ukuran bena itu yang lebih besar dari pada ukuran Bami. Daerah segitiganya masih sakit dan trauma dengan segala kejadian yang menimpanya, dan sekarang dia harus menghadapi benda yang lebih besar di atas ukuran rata-rata masuk ke dalam tubuhnya.


“Enggak… jangan!!… Tolong…” kembali Rere berusaha kabur setelah merasa tubuhnya sudah terbebas. Tapi pintu masih terkunci dan Mika dengan santai memegangi Rere. Mendorong Rere kembali keposisi awalnya.


PLAK!! Tamparan keras menghantam pipi kirinya. Bukan sakit yang dirasakan Rere, tapi rasa terkejut yang hampir membuat jantungnya berhenti. “tidak…” dalam hati Rere. Dia melihat Firdo dengan tampang geram, serasa melihat sosok Ben yang lain. Rere tidak bisa menerima ada sosok lain yang seperti Ben. Sosok yang ringan tangan dengan nafsu yang tinggi.


“Jangan ngelawan!! Atau lo gue bunuh…” ancam Firdo. Dengan kecut Rere merespon ancaman Firdo. Sudah terlalu sering di dalam pikirannya muncul pikiran itu. Kalau bisa memang dia lebih baik mati. Firdo menarik kasar kedua kaki Rere agar mendekat kepadanya sehingga membuat badan Rere terlentang di bangku tengah itu. Mika membuat pahanya menjadi bantalan untuk kepala Rere, sementara itu Bami masih saja menonton mereka sambil memainkan ‘adik kecil’nya dan juga sambil mengawasi daerah sekitar, menjaga agar tetap aman. Firdo dengan tidak sabar membuka kedua paha Rere yang sekarang sudah ada di hadapannya. Rere memperhatikannya Firdo tertegun sebentar ketika melihat kemaluan Rere yang sudah terbuka. Dan tanpa basa-basi lagi, dia mengarahkan adik kecilnya ke lubang kecil di daerah terlarang Rere.


Kini Rere sudah menyerah ketika dirasakannya benda lunak dan tumpul itu sekarang menempel di bibir kemaluannya. Dengan hampa dia merasakan Firdo menggesek-gesekkan kepala penisnya di sekitar klit Rere sebelum memasukkan benda besar itu ke dalam rahimnya. Dia sedikit mengernyit merasakan sakit yang amat sangat ketika Firdo memaksakan penetrasi kering pada adik kecilnya ke dalam vaginanya. Sungguh sesak terasa di dalam kemaluannya. Begitu juga di dalam mobil ini. Dia terhimpit di antara 3 lelaki. Tepat ketika Firdo menggoyangkan kemaluannya, air mata Rere kembali menetes. Dia menangis tanpa suara. Mika mencoba menghapus air matanya sambil membelai rambutnya.


Firdo terus menggenjotnya, ritmenya sedang dan teratur. Rere mengerti kalau dia berusaha menahan durasi permainannya.


“Jangan diem aja dong Re… “ kata Bami tiba-tiba. Tanpa Rere sadari, Bami sekarang sudah berada dekat sekali dengannya, ternyata Bami berpindah ke bangku depan di sebelah setir yang punggung bangkunya sudah di sejajarkan dengan bangku belakang. Sambil menyodorkan ‘adik kecil’nya yang sudah membesar itu ke mulut Rere. “Hisap Re…” itu perintah kalau Rere dengar dari nadanya, tapi Rere enggan mengoral orang yang sudah menabraknya. Dia memalingkan wajahnya, tetapi Mika menahan wajahnya dan membuka paksa mulut Rere dengan menekan rahang Rere membuat bibir Rere membentuk huruf O. Bami pun memasukkan batang kejantanannya ke dalam mulut Rere yang sekarang sudah terbuka. Dan mengocoknya di sana .


Kembali Rere teringat kepada memori 4 bulan yang lalu di ruang BP sekolahnya. Dia teringat ketika pertama kalinya harus mengoral Ben dengan terpaksa sementara entah kemaluan Zack, Dave atau Sam yang sedang mengocok bagian bawahnya. Sama dengan keadaan yang sekarang. Bami pun menahan dan menggerakkan kepala Rere maju mundur seraya menciptakan pijatan yang enak untuk ‘adik kecil’nya dan Firdo masih dengan semangatnya mengosok kemaluannya di dalam kemaluan Rere.


“Curang lo semua… gue juga mau masuk…” Mika memprotes kedua temannya. Firdo yang mendengarnya langsung menghentikan aksinya. Tapi Bami mengacuhkan mereka masih dengan terus menggoyang selangkangannya di mulut Rere.


“Masih ada satu lubang lagi kan Mik…” Rere tahu maksud Bami, spontan dia teriak, tetapi teriakannya teredam batang kejantanan Bami yang masih saja ada di dalam mulutnya. Akhirnya Bami mengeluarkan batangnya dari mulut Rere. Rere terbatuk-batuk merasakan nafas lega kini mengisi lubang hidungnya. Tetapi belum sempat dia mengatur nafasnya, mereka kembali menjamah tubuhnya. Rere berontak keras ketika dengan kasar mereka memaksanya untuk duduk dan menungging.


PLAK!! Kali ini panasnya tamparan Firdo dapat dirasakan di pipi kirinya. Membuatnya kepalanya membentur bangku tengah.


“Diam!!” teriak Firdo. “turutin kita ato gue buang lo ke dalam jurang!!” Rere memang tadi melihat ada banyak jurang di sekitar sini. Alangkah senangnya jika ada seseorang yang menjatuhkannya ke jurang sana . Mungkin mati jatuh dengan kepala lebih dulu dan pecah, tidak begitu sakit rasanya. Tapi tetap saja Firdo tidak melakukannya, dia malah memaksa tubuh Rere untuk menungging dan bertumpu di kedua tangannya.


“Jangan!! Gak mau di situ…Jangan!!!” berontak Rere ketika dirasakan seseorang meraba lubang belakangnya. Meraba-raba dengan kasar lubang dubur Rere seperti ingin membuatnya licin. Seseorang –entah siapa— juga meludahi lubang anusnya dan meratakan cairannya. Rere menggigit bibirnya. Dia tahu rasa sakit akan dirasakannya sebentar lagi. Dan sepertinya ketiga orang itu tidak memberikan kesempatan sama sekali pada Rere. Bami dengan segera menyusupkan kembali batang kemaluannya ke dalam mulut Rere. Rasa takut yang teramat-sangat menjalari pikiran Rere. Dia tidak mau dikeroyok beramai-ramai. Mungkin sedikit melawan akan membuat Firdo benar-benar mau membunuhnya. Tapi, apakah setelah mati mereka masih akan menggaulinya? Dan setelah melayani mereka, apakah setelah selesai mereka akan membunuhnya atau malah menahannya sama seperti Ben menahan dirinya. Rere merasa dunia ini sudah runtuh di atas tubuhnya sendiri. Dia jadi teringat kata pepatah tentang ‘keluar dari kandang macan, masuk ke kandang harimau’.


Benda tumpul yang keras sekarang menyeruak masuk ke dalam lubang duburnya. Rere tidak mau perduli milik siapa benda itu. Dia juga tidak bisa berkonsentrasi dan pasrah dengan kocokkan penis Bami di dalam mulutnya. Dan sekarang, penis seseorang sudah masuk sepenuhnya ke dalam lubang duburnya. Walaupun anal bukan hal pertama kali untuk Rere, tapi dia merasa merana sekali. Setiap gesekan penis itu bergerak di dalam duburnya, seolah menyayat setiap inci dinding lubang belakangnya.


“engh…” rintihannya tertahan batang penis Bami yang terus saja memperkosa mulutnya. Keringat mulai menetes disetiap pori-pori kulitnya. Serasa Rere dapat melihat endapan hawa di setiap pojok-pojok kaca mobil. Entah kenapa air matanya terus mengalir, dia berpikir seharusnya stok air matanya sudah habis. Tapi semua itu belum selesai, karena tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya, membuat hisapan mulutnya di kejantanan Bami terlepas dan menelentangkan dirinya menindih seseorang di belakangnya dengan kejantanan yang masih terus menancap di bagian belakang tubuhnya. Sedetik kemudian, Rere sadar kalau itu adalah Firdo yang sedang menyanggamai lubang belakangnya ketika Mika sekarang muncul di hadapannya. Dia tidak begitu heran kenapa rasa benda itu begitu besar dan menyakiti tubuhnya.


Di posisi seperti itu, Rere sama sekali tidak berusaha untuk menyelamatkan diri lagi. Lingkungan sekitar yang sejak tadi diperhatikannya benar-benar sepi, dia sama sekali tidak melihat ada seseorang yang berlalu lalang sejak Terano itu terparkir. Tapi Rere masih bisa melihat dengan jelas hamparan kebun teh yang luar biasa luas. Kini Mika mengambil ancang-ancang di depannya. Rere tahu apa yang akan dilakukannya, dia pernah melihat adegan itu di salah satu video porno milik Ben. Tapi dia sama sekali tidak berpikir bahwa suatu saat akan mengalaminya, karena Ben sama sekali tidak menyukai permainan dan posisi seperti itu. Ben lebih mengerti kalau Rere hanya bisa satu lawan satu, walaupun sekeji apa sifat dan siksaannya pada Rere, Rere yakin bahwa Ben tidak akan pernah berbuat keji secara seksual.


“Please… jangan begitu…” iba Rere ketika dilihatnya Mika mencoba untuk berpenetrasi dari depan. Tidak ada yang mau merespon Rere, mereka seperti terserang penyakit tuli atau lebih parah lagi dari libido tinggi. “Aaahhh…” teriak Rere merasakan sekarang Mika sudah memasuki tubuhnya. Kini posisi Rere tepat ditengah-tengah Firdo dan Mika, dia sungguh merana. Dia merasa terhina diperlakukan seperti itu. Tubuhnya seolah menciut dan terdesak ke dalam lubang karet sempit ketika kedua pemuda itu memperkosanya secara bersamaan. Walaupun mereka menggoyang dengan tempo pelan, Rere masih saja merasa tersiksa. Teriakan dan erangannya terdengar menyayat hati siapa saja yang mendengarnya, tapi Bami hanya tersenyum. Kini, keringat membasahi sekujur tubuh Rere, wajah dan dadanya terlihat mengkilat di tengah-tengah laki-laki yang menyanggamainya.


Rere sadar, seberapapun keras teriakannya, tidak akan ada yang bisa menolongnya. Remasan dan hisapan Mika dikedua buah dadanya pun sama sekali tidak membantunya untuk menikmati permainan mereka. Tidak ada rangsangan sama sekali yang Rere rasakan. Ciuman Bami pun di bibirnya di tolak dengan tegas. Rere melengoskan kepalanya ketika Bami ingin menciumnya. Tapi, Rere menyadari, tidak ada hal apapun yang bisa menghalangi keinginan mereka. Dengan kasar Bami memaksa wajah Rere menghadap wajahnya dan dengan ganas menciumi bibirnya. Jijik dirasakan Rere ketika lidah Bami bermain di dinding atas mulutnya. Hanya air mata yang keluar dari kelopak matanya yang indah yang menunjukkan betapa menderitanya dia sekarang. Selangkangannya terasa panas, lubang duburnya perih, tapi Firdo masih dengan kencang memeluk perutnya yang masih sakit dari belakang dan menekan-nekan kejantanannya menusuk bagian dalam belakang Rere, menguntungkan Mika yang otomatis juga terstimulasi


oleh kemaluan Rere. Kini Bami menghentikan ciumannya dan mengambil posisi tepat di samping kepala Rere, dia tersenyum sambil menyodorkan —entah bagaimana caranya— ‘adik kecil’nya untuk di hisap Rere. Ternyata, bagian tengah mobil yang sekecil ini bisa memuat 4 insan yang melakukan aktivitas maksiat di dalamnya walaupun keadaan itu harus membuat mereka berhimpitan.


Kembali Rere merasakan Bami menekan kedua sisi rahangnya ketika dengan tegas dia menolak untuk mengoral batang kejantanannya. Membuat —dengan kasar— bentuk O yang indah di mulut Rere dan menyulutkan kejantanannya masuk ke dalam mulutnya. Rere berusaha teriak, dia tidak mau diperlakukan seperti itu. Dia sungguh terhina, dia merasa sakit sekali. Seluruh tubuhnya habis disisipi setiap batang kejantanan ketiga pemuda itu. Rere menangis dalam diam, dia tahu, dia hanya bisa berharap semua itu akan segera berakhir.


Tepat ketika 3 menitan berlalu, Rere mendengar Firdo mulai mengerang berat di belakang telinganya, kembali lubang duburnya terasa nyeri luar biasa ketika Firdo mempercepat ritme goyangannya. Rere hanya bisa memejamkan mata, berusaha untuk tidak merasakan sakit yang teramat sangat di bagian bawahnya. Sampai beberapa saat kemudian, Firdo menyemprotkan spermanya di dalam anus Rere. Dan terkulai lemas melepaskan pelukan eratnya di perut Rere. Tetap saja, Rere belum bisa bernafas dengan bebas karena kejantanan Bami masih terus menggenjot mulutnya. Tepat ketika Mika mempercepat goyangannya, Bami berejakulasi menyemprotkan cairannya di mulut Rere. Rere tidak mau menelannya, dia segera memuntahkan sperma itu keluar dan mengalir ke lehernya yang putih mengkilap.


“Tolong… jangan buang di dalam… “ keluh Rere berharap Mika masih mau mendengarnya. “Tolong… gue lagi subur…”


“Ok…” kata Mika akhirnya. “Buka mulut lo…” lanjutnya seraya mencabut batangnya dari tubuh Rere dan menyarungkannya kembali ke mulut Rere. Rere masih harus mengoral Mika sebentar sebelum akhirnya dia dia merasakan laki-laki itu berejakulasi di dalam mulutnya. kembali Rere memuntahkan cairan itu yang akhirnya mengalir ke bagian leher dan dadanya.


Bami entah sejak kapan sudah kembali ke balik setirnya. Apakah ini artinya mereka sudah selesai? Rere berharap dalam hati ketika didengarnya dari bawah telinganya Firdo berkata


“Lo boleh turun dari gue…” sedikit terkejut, dia tidak menyadari bahwa ternyata dia masih terlentang di atas tubuh Firdo. Penis Firdo yang sekarang sudah melembek, terlepas lemas dari dalam duburnya ketika Rere mengangkat tubuhnya sendiri untuk duduk di sebelah. Dirasakan sperma kental mengalir keluar dari anusnya yang terluka menandakan bahwa pemuda itu memang berejakulasi di dalam. Dilihatnya ketiga lelaki itu kembali merapikan penampilan mereka. Bami melempar kain putih berbercak darah dari bangku depan ke pangkuan Rere. Dan berdasarkan insting, dengan cepat Rere melilitkan kembali kain itu menutupi tubuhnya. Tidak tahu harus berbuat apa, Rere memikirkan nasibnya, seraya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Lo boleh pergi sekarang…” kata Firdo santai. Rere tidak mengerti, dia merasa tidak akan semudah itu mereka menyuruhnya pergi. “Lo bilang lo mau turun… lo boleh turun sekarang…sekarang! sebelum gue berubah pikiran…” masih dengan nada santai.


Tanpa berpikir lagi, Rere segera mengangkat tubuhnya keluar dari mobil itu. Mungkin sudah terlambat, tapi dia memang ingin pergi dan menjauhi mereka sebelum segala sesuatunya menjadi lebih buruk.


Telapak kakinya yang telanjang kembali menapaki lantai aspal yang kasar. Hawa dingin sekarang bertiup dari segala arah. Tanpa melihat ke belakang Rere menapaki kebun teh, berusaha menjauh dari jalan aspal yang ternyata sangat mengerikan itu. Dia masih bisa mendengar derum mobil sekarang menjauhinya. Perasaan lega luar biasa mengisi hatinya sekarang. Dia aman… at least, for now… Di pelajari lingkungan sekelilingnya, ribuan petak kebun teh itu benar-benar sepi. Entah kenapa pikirannya sekarang buntu. Hatinya hancur, harga dirinya sudah benar-benar hilang. Harapan untuk hidupnya sekarang sama sekali tidak ada. Pikiran buntu dalam dirinya mencuil menggoda Rere untuk mengakhiri segala sesuatu yang menimpanya sekarang. “come on Re…” katanya dalam hati, “banyak jurang di sini…terjun aja…” goda sisi jahatnya. Kalau boleh jujur, Rere sangat ingin mengakhiri semua penderitaannya. Dia terus melangkah tanpa memperhatikan sekitarnya. Kain putih yang sekarang tidak putih lagi meliliti tubuhnya tanpa bisa mengurangi hawa dingin yang menerpa tubuhnya.


Hari sudah semakin gelap, Rere masih bingung apa yang harus dilakukannya. “Minta pertolongan orang..” katanya dalam hati, tapi kemudian dia berpikir kembali, siapakah yang akan menolongnya dengan keadaan setengah telanjang seperti ini. Bahkan mungkin dia akan menemui orang yang sama seperti Bami dan kawan-kawannya. Tanpa disadari, jurang terjal sekarang ada di depannya. Sedikit terpeleset, dia mengukuhkan dirinya agar tidak terjatuh. Gemeretak giginya menandakan bahwa seluruh tubuhnya menggigil kedinginan. Dia berusaha memfokuskan pandangannya. Sama sekali tidak terlihat di matanya dasar dari jurang di depannya itu. Apakah kalau dia loncat sekarang dia akan langsung mati? Apakah kalau terjun nanti dia bisa merasakan perihnya kematian? Atau hanya terluka dan akhirnya cacat seumur hidup? Dia tidak mau cacat, dia mau mati saja. Badannya sudah kotor sekali penuh dosa. Atau mungkin nanti Sang Pencipta bahkan tidak mau menerimanya? Ah, biarlah. Rere


berpikir, mungkin rohnya yang gentayangan akan mengganggu Ben seumur hidupnya. Karena tidak mungkin ada orang atau mahluk apapun yang bisa hidup jika terjun ke dalam jurang itu, Rere memperhatikan, surau hitam nan kelam mewarnai dasar jurang yang Rere tidak tahu sedalam apa. Sore ini langit masih jingga, tetapi dasar jurang itu begitu kelam.


Kembali, air mata menetes di kedua pipinya yang sekarang kotor penuh peluh dan luka gores. Melayang sosok Albie di pelupuk matanya ketika dia memejamkan mata.


“Met tinggal Albie…” katanya kemudian. Masih dengan memejamkan mata, Rere kembali berpikir ke orangtuanya. “Met tinggal Ma… Pa. .. maafin Rere…” rintih Rere terisak. Air matanya deras mengaliri wajahnya. “Lola…” Rere teringat sahabatnya dan sama sekali tidak bisa membuat air matanya berhenti. “Seandainya…..kalo gue punya kesempatan… gue mau minta maaf sama lo… gue dah nyakitin elo…Tapi…” sesegukan Rere berusaha memantapkan dirinya. “Mudah-mudahan Albie akan sadar… begitu gue gak ada… mudah-mudahan dia akan sadar kalo elo tuh cewe yang manis… kalo lo tuh cewe yang pantes untuk di sayangi…” mengakhiri kata-katanya, Rere melangkahkan kaki beberapa inci ke depan. Tanah lunak dipijakannya berjatuhan ke bawah jurang. “Met tinggal semuanya…” Kali ini dia sudah mantap, bertekad mengakhiri hidupnya. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa mengobati lukanya. Rere sudah bersiap untuk menjatuhkan tubuhnya untuk


bertemu dasar jurang ketika dengan tiba-tiba tangan seseorang dengan kuat menangkap dan memeluk tubuhnya dari belakang, menahan berat badan Rere agar tidak terjatuh ke bawah.


“RERE!!!” suara laki-laki yang tak asing berteriak tepat di belakang telinganya. Rere memalingkan wajahnya untuk melihat ke belakang. Sepintas dia merasa bahwa Albie yang akan datang dan menolongnya lagi. Tapi, setelah memfokuskan pandangannya pada raut muka di dekatnya, Ben dengan tampang pucat ketakutan yang membalas tatapan matanya. Memegangi dirinya dari belakang menarik tubuhnya agar menjauhi tepi jurang. Rere berontak, berkutat lemah dalam pelukan Ben yang sangat kuat.


“LEPASIN GUE LO BAJINGAN!!! LEPASIN GUE!!” teriak Rere histeris. Ben adalah orang terakhir yang Rere harapkan untuk bertemu di saat-saat seperti ini. “JANGAN SIKSA GUE LAGI!! PLEASE… BIARIN GUE PERGI!!!” berontak Rere sambil menangis histeris. Dia merasa semua ini adalah kesalahan Ben sejak awal, bahkan ketika ketiga pemuda tadi yang memperkosanya itu juga termasuk kesalahan Ben. Tapi Ben masih dengan sangat kuat terus memeluknya dari belakang, berusaha membawanya menjauh dari jurang, tidak menghiraukan teriakan-teriakan dan pukulan-pukulan kecil Rere di tubuhnya.


Merasa sudah aman dari jarak tepi jurang, Ben akhirnya membalikkan tubuh Rere dan memeluknya dari depan dengan erat. Ada sesuatu yang aneh yang Ben temukan dari Rere, pelukannya terasa lengket dan dingin. Dan Ben dapat mencium sesuatu yang dia kenal dari tubuh Rere. Ben menjulurkan Rere ke depan sambil terus memegang pundaknya menahan agar Rere tetap berdiri. Memeriksa mata Rere yang merah menahan air mata dan amarah, banyak luka gores di sekitar kening dan pelipisnya, pipinya merah, sedikit sisa-sisa darah kering masih melekat di wajah, pinggir bibir dan lehernya, Rere masih sangat cantik pikir Ben dalam hati, dan apa itu? Ben mencoba menyentuh sesuatu yang putih kering, berkerak yang sekarang terasa lembab terkena keringat Rere di sekitar mulut, leher dan dada gadis itu. “Sperma kering…” kata Ben dalam hati. “Oh tidak… Rere…” sambungnya menyadari apa yang telah terjadi pada tawanannya itu beberapa saat lalu.


“Yeah!!…” cetus Rere sinis, “Puas lo sekarang!! Hah?!!…” sambungnya marah, “Puas Lo!??… Lo dah bikin hidup gue ancur!! ITU YANG LO MAU KAN ??!” nada Rere kini semakin tinggi, dia sadar badannya sudah sangat lemah, mungkin kalau memancing amarah Ben, dia akan membuangnya ke dalam jurang itu.


Sementara Ben masih memegangi Rere di pundaknya. Sedikit shock mendengar perkataan Rere.


“SENENG KAN LO??” masih dengan teriakan Rere


“Apa yang terjadi…” Tanya Ben sedikit datar.


“Apa yang terjadi?” balik Rere bertanya, “APA YANG TERJADI!!…. MEREKA PERKOSA GUE!! ITU YANG TERJADI!! NGERTI LO!!” entah kenapa tiba-tiba air matanya menghilang, rasa amarahnya sekarang berkobar-kobar melebihi rasa putus asa yang tadi dirasakannya. Bahkan hawa dingin tadi sekarang tidak dirasakannya. “Sekarang…” sambung Rere lagi, “mendingan lo lepasin gue… jangan ganggu hidup gue lagi…”


“Siapa mereka…” tanya Ben lagi.


“Siapa mereka???” Rere tidak habis pikir dengan pertanyaan Ben, “HOW THE FUCK SHOULD I KNOW?!!” bibirnya hampir bergetar menjawab pertanyaan Ben tadi. Dia marah sekali. Rasanya tidak etis Ben bertanya siapa mereka yang telah memperkosa dan membuangnya di jalanan seperti ini.


Sepintas, Rere bisa melihat Ben yang berwajah hampa dan pucat. Tapi tiba-tiba “PLAK!!” tamparannya menghantam pipi kiri Rere. Dengan badan yang sudah lemah seperti itu, Rere tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan lagi, dia kembali jatuh ke lantai aspal. Sama sekali tidak ada rasa sakit dalam tamparan itu. Mungkin kulitnya sudah kebal karena udara dingin dan amarahnya.


“Siapa mereka, lo harus tau!!” Ben berkata kemudian, nada itu perasaan marah dan terluka. Rere bisa merasakannya. “Biar gue bisa cari mereka dan bunuh mereka semua!!” Rere bisa melihat tangan kanan Ben kini mengepal. Mendengar Ben membelanya, Rere tidak bisa menahan rasa sedihnya. Kini air matanya kembali mengalir, badannya bergetar hebat, menggigil kedinginan.


“Lo gak perlu repot-repot bunuh mereka…” balas Rere dari jalanan aspal yang sekarang merasa energinya sudah habis semua, “mendingan lo bunuh gue aja…” sambungnya lagi, “please Ben… gue udah gak tahan lagi…” rintih Rere.


“Jangan ngaco lo Re…” seru Ben sambil kini berjalan menghampiri Rere, mengangkat tubuh Rere dari tanah aspal dan menggendongnya. “Buat apa gue capek-capek nyulik lo, kalo cuman untuk ngeliat lo mati…” kini dia membawa Rere menuju sedan hitam yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka, “Mendingan gue langsung bunuh lo waktu pertama kali gue ngeliat lo…” lalu Ben meletakan Rere di bangku depan di samping setir, mengeluarkan selimut tebal dari bangku belakang dan menyelimuti Rere yang menggigil hebat seraya membungkusnya seperti bayi. Setelah itu, Ben berlari kecil mengitari mobil menuju pintu sisi yang lain. Duduk di sebelah Rere, Ben memasangkan seatbelt pada Rere dan dirinya sendiri. Membelai rambut Rere dan mengecup keningnya pelan sebelum memacu mobilnya. “Ayo… kita pulang…”.


Semilir angin sejuk dirasakan Rere ketika mobil sudah berjalan. Dia sama sekali tidak bisa mencerna semua kejadian 10 menit yang lalu. Tamparan Ben di pipinya sekarang terasa panas, namun entah kenapa rasa itu sekarang menghangatkan hatinya. Perilaku Ben yang kasar sekaligus lembut tadi benar-benar menggugahnya. Rere juga tidak bisa memutar otaknya untuk bertindak lebih lanjut. Rasa luar biasa lelah menggerogoti tubuhnya sekarang. Kedua kelopak matanya yang indah itu sekarang terasa berkilo-kilo beratnya. Rere memejamkan mata mencoba mempelajari apa yang sekarang dirasakannya dalam hati. Dia bahkan sempat merasakan Ben membelai rambutnya sambil berbisik “I’m really sorry Re…” sebelum dia terlelap tertidur terbawa alam bawah sadarnya untuk mengistirahatkan hati dan tubuhnya.
Cheers…..

TAMAT
Detail

Rere Part 2

Part 2
Rere sedang terduduk di kursi malas sambil membaca-baca tabloid gossip seputar selebritis. Nana Mirdad sekarang sedang hamil tua. Kok secepat itu ya? Apakah memang dia betul-betul MBA (married by accident) seperti yang orang-orang gosipin?. Rere terus membalik-balikkan lembaran demi lembaran tabloid ketika seseorang membuka pintu, dilihatnya Ben menghambur masuk ke kamarnya. Sosok laki-laki tampan, tinggi dan putih tetapi sangat di Benci Rere, kenapa ada disini? Kenapa dia bisa masuk ke kamarnya sementara mama-papanya saja harus mengetuk dahulu dan meminta ijinnya sebelum masuk ke kamarnya.
“Hallo sayang…” Ben menyapanya sambil mengecup keningnya. “Kamu dah makan belum?” Seolah tanpa salah, Rere mengelak kecupan di keningnya itu.
“Ngapain Lo ke sini?!… Ngapain Lo ke kamar gue!!… PERGI LO!!! KELUAR DARI KAMAR GUE!!!… PERGIIIIIIIII!!!” Teriak Rere kasar. Dia masih ingat ketika Ben dan ketiga kawannya memperkosanya beramai-ramai di sekolah.
“Kamu ngomong apa sih sayang???? Ini kan kamar kita berdua, jadi ini kamar aku juga” Jawab Ben kelihatan khawatir dengan sikap Rere.
“JANGAN MIMPI LO!!!! PERGI LO SANA!! KELUAR DARI KAMAR GUE!!” teriak Rere histeris.
“Kamu kenapa sih Re?? Ini aku Ben… Suami kamu… Kamu kenapa? Kamu demam ya?“ Ben berusaha meraba kening Rere, tetapi Rere dengan cepat mengelak.
“APA?! SUAMI?! CUIH! MANA BISA LO JADI SUAMI GUE!!! SAMPE MATI GUE GAK MAU JADI ISTRI LO!! JANGAN MIMPI LO!!” masih dengan nada tinggi, Rere seakan mendengar suaranya melengking saking marahnya.
“Re, kamu ngomong apa? Jangan gitu!! Ingat kamu lagi hamil tua… itu anak kita… anak aku, suami kamu…“ Ben berusaha menjelaskan dan menenangkan Rere. Tetapi setelah mendengar perkataan Ben, Rere bukannya tenang melainkan bingung. Suami? Hamil? Anak?? Spontan dia melihat ke bawah. Dilihatnya gelembung besar di daerah perutnya. Rere meraba perutnya. Memang dia sedang hamil. Hamil besar. Apakah ini hasil dari pemerkosaan waktu itu? Dia tidak mau anak ini. Lalu dengan keras dia memukul perutnya, mencoba membunuh mahluk hidup yang ada di dalamnya. Rere kesakitan. Sakit tepat ketika dia memukul perutnya. Sekejap kemudian dia terbangun dari kursi malasnya.
Alih-alih kursi malas, ternyata Rere masih tergeletak di suatu ruangan. Rupanya dia tadi bermimpi. Dilihat sekelilingnya gelap gulita, didapati dirinya masih telanjang bulat. Perutnya sakit akibat pukulan tanpa sadar di mimpinya sendiri. Tubuhnya basah bermandikan keringat. Rere berusaha memfokuskan pandangannya yang buram. Dia meraba sesuatu di sebelahnya. Dilihatnya samar-samar, itu Albie. Rere terkejut ketika melihat Albie pun tertidur telanjang bulat seperti dirinya. Rere melihat sekelilingnya. Sepertinya dia kenal ruangan ini. Rere bangkit berdiri. Tetapi tiba-tiba kakinya sakit luar biasa. Sekujur tubuhnya sakit. Selangkangannya terasa perih dan panas.
Akhirnya Rere ingat. Dia masih diruangan BP sekolahnya. Kembali dia tersadar atas apa yang baru saja menimpanya. Tertatih-tatih Rere berjalan sambil mencoba meraba ke tembok-tembok berusaha meraih electricity outlet untuk menghidupkan lampu atau mencari penerangan. Ditemukan electricity outlet dan dihidupkan lampu. Ketika ruangan sudah terang, dilihatnya ruangan itu, masih segar dalam ingatannya ketika Albie merenggut keperawanannya di sofa sana , juga ketika Ben, Dave, Sam dan Zack yang menyetubuhinya beramai-ramai. Dan Rere juga teringat karena merekalah dia jatuh pingsan. Dilihatnya jam yang ada di tangannya. “Jam 9 malam…” katanya dalam hati. Pasti mama sudah mencari-carinya. Mungkin sudah menelepon ke HPnya untuk menyuruh pulang.
Rere tidak ingat dimana tasnya, dimana semua barang-barang bawaannya. “dingin…” Rere berseru pelan kepada dirinya sendiri. Rere berusaha mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Tetapi setelah dia sadar bahwa tidak ada sehelai Benang pun untuk menutupi keterlanjangannya, Rere pun merosot terduduk. Jongkok sambil memeluk kakinya. Membenamkan wajahnya di kedua lututnya yang masih sakit, terisak-isak menangis.
Rere tak tahu sudah berapa lama dia tersedu-sedu ketika didengarnya disudut ruangan Albie mengerang pelan. Rupanya Albie sudah sadarkan diri. Rere melihat Albie memegangi kepalanya yang beberapa jam lalu dihantam keras oleh Sam sampai dia jatuh pingsan. Beberapa saat kemudian Albie pun menyadari sesenggukan Rere di tempat Rere membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Albie bangkit berdiri dan menghampiri Rere.
“Re… kamu masih disini? Aku pikir kamu udah dibawa mereka… Kamu gak apa-apa kan?” Albie membelai rambut Rere yang sudah awut-awutan itu.
“Apanya yang gak apa-apa Bie??“ seru Rere sambil menangis. “Kamu udah liat apa yang terjadi!!“
“Sorry Re, aku gak tahu… si bangsat itu mukul aku dari belakang… Apa yang terjadi Re??“ tanya Albie sambil terus membelai rambut Rere, berusaha menenangkan suaranya meskipun dia bisa menebak apa yang akan dijawab Rere.
“AKU DIPERKOSA BIE!!!!“ Rere menepis tangan Albie dari kepalanya. “ABIS KAMU PINGSAN AKU DIPERKOSA RAME-RAME SAMA MEREKA!!“ teriak Rere histeris, seolah itu adalah kesalahan Albie. “MEREKA MENGGILIR AKU BIE!! MEREKA MAKE AKU RAME-RAME… DI SANA! MEREKA BUANG DI DALAM PERUT AKU BIE!!“ sambil menunjuk sofa tempat perbuatan maksiat itu terjadi. Albie pun tahu, ketika melihat tempat yang ditunjuk Rere, dilihatnya darah kering tercetak di cover sofa itu. Albie sadar itu adalah darah perawan Rere yang sudah diteguknya.
“Ok Re, aku minta maaf… aku terpaksa… aku dipaksa mereka…“ Albie seolah kehabisan kata-kata, menyadari kesalahan itu pantas dibebankan kepada dirinya. Bingung harus berbuat apa-apa, Albie pun memeluk erat Rere yang masih terduduk di lantai.
“Seperti kata-kataku tadi, aku mau tanggung jawab Re, aku gak akan meninggalkan kamu.. Aku akan terus berada disisi kamu… Swear! Aku janji… Aku akan terus menyayangi kamu apa adanya…“
“Aku…aku takut Bie… Aku takut…“ Rere membalas pelukan Albie, dia menggigil hebat. Menggigil kedinginan atau ketakutan? Albie tidak bisa mengenalinya. Sekejap kemudian Albie beranjak dari pelukan Rere, mencoba mencari pakaiannya, tapi tidak ditemukannya.
Rupanya Albie tidak kehilangan akal. Dia segera menuju meja di dalam ruangan itu. Membuka lacinya dan merogoh-rogoh mencari sesuatu. Rere melihat Albie mengeluarkan gunting besar dari laci itu. Lalu Albie berjalan menuju Sofa panjang. Diguntingnya sofa tersebut mencoba mengambil kulit penutupnya. Setelah itu di gunting menjadi dua. Salah satu dari kain bahan sofa itu diselimutkan ke Rere, dan yang lainnya dililitkan ke tubuhnya menutupi setengah bagian bawah tubuh Albie.
“kamu mau ke mana Bie?“ Tanya Rere ketika dilihatnya Albie memegang daun pintu dan membukanya.
“Aku mau cari sesuatu buat kamu pakai Re, biar kita pergi dari tempat ini…mungkin di ruang laboratorium ada seragam workshop…“ jelas Albie.
“laboratorium pasti udah dikunci Bie… Di mobil ku ada baju serep… tapi aku gak tau kuncinya ada di mana…” Rere berfikir keras dimana dia meninggalkan tas sekolahnya. Apa masih di dalam kelas? Tidak mungkin! Tadi ketika dia keluar dari kelas, dia sudah menjinjing tas sekolahnya. Juga ketika dia ijin kepada Ika untuk ke toilet, dia juga masih bawa tas sekolahnya itu.
Tiba-tiba Rere ingat, Ben membuang tas sekolahnya ketika dia berusaha meraih Hpnya.
“Toilet perempuan… Bie, tas aku ada di toilet anak perempuan…”
“OK Re, aku ambilin. Kamu tunggu di sini…”
“Enggak Bie, aku takut… aku ikut kamu aja… aku gak mau ditinggal sendiri…“
Albie pun melilitkan kain bahan sofa ke tubuh Rere. Ketika Rere mengangkat tubuhnya sendiri untuk mencoba berdiri, Albie melihat buah dada Rere yang ranum dan putih menggantung indah. Dan ketika Rere berusaha berdiri dan tertatih menahan berat tubuhnya dengan satu kakinya yang masih sehat, buah dada itu bergoyang-goyang dengan indahnya, membuat darah Albie berdesir, berputar di otaknya turun ke bawah menghantarkan darah hangat ke selangkangannya. Albie berusaha untuk tetap berkonsentrasi menguatkan akal sehatnya. Tetapi ketika Rere berdiri, dia juga melihat kemaluan Rere yang terpampang dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya membuatnya tidak bisa menahan ereksinya.
“Ayo Re, aku bantuin jalan…“ tawar Albie mengalihkan perhatiannya.
Mereka berjalan dalam kegelapan gedung sekolah menuju ke lantai dua tempat toilet perempuan dimana Rere meninggalkan tas sekolahnya. Pikiran Albie terus melayang kepada pandangannya beberapa menit lalu. Tubuh telanjang Rere yang indah terus menari-nari didalam pikirannya sementara dia membopong Rere menaiki tangga. Tiba di toilet perempuan mereka langsung mendapatkan tas sekolah Rere yang tergeletak berantakan di ujung sudut pojok koridor. Langsung saja Rere meraih tasnya sendiri dan mereka bergegas ke pelataran parkiran sekolah.
Rere langsung membuka kunci mobilnya dan berjalan untuk membuka pintu belakang. Albie membantunya masuk ke back seat mobil. Memang menurut Albie Honda Jazz Rere seperti ’mobilku, rumahku’ dimana bangku belakangnya sangat berantakan. Baju Rere berserakan dimana-mana, tetapi anehnya hal itu tidak di anggap ’messy’ oleh Albie. Malah, ada perasaan aneh terlintas dipikiran Albie. Celana pendek, baju you can see, tanktop bahkan Bra Rere pun tergeletak sembarangan di bangku belakang. Boneka bantal Winnie The Pooh besar menghiasi bangku belakangnya. Hal ini membuat Albie merasa seperti berada di ’kamar’ Rere. Sekejap saja, hal ini membuat darah Albie kembali berdesir apalagi melihat kekasihnya setengah telanjang terbaring lemah tak berdaya dengan bercucuran keringat dan sedikit bekas darah di pinggir bibirnya.
Albie mengambil tissue yang terletak di dashboard mobil dan air mineral di botol yang ada di bangku depan. Di basahkannya tissue itu dengan air sebelum Albie membasuh wajah Rere.
“Aku bersihin dulu Re, baru kamu pake bajunya… biar seger dikit…“ Albie mengelap wajah Rere, membersihkan sisa darah yang mengering, kening dan lehernya pun di basuh. Tetapi ketika Albie membasuh leher Rere yang jenjang, putih dan mulus itu, dia tidak bisa menahan untuk tidak mengecupnya. Tanpa sadar Albie mendekatkan bibirnya ke leher Rere, memberikan kecupan lembut di sana. Rere sedikit terkejut. Refleks Rere mengelak dan mencoba menghindar. Hal ini membuat lilitan bahan sofa yang ada di tubuhnya mengendur dan terbuka.
Waktu seperti terhenti, kurang lebih semenit mereka hanya berpandangan. Dengan dada yang terbuka, Albie bisa melihat dengan jelas tanpa gangguan keempat orang beberapa saat lalu bahwa buah dada Rere sungguhlah indah dan ranum. Bra ukuran 34 B yang beberapa jam yang lalu menopangnya, sekarang tidak tahu ada di mana. Kencang dan sangat merangsang. Menantang orang yang melihatnya untuk menjamahnya atau paling sedikit menyentuhnya. Albie ingin sekali menyentuhnya lagi, menciuminya lagi. Hasratnya menunjukkan untuk mendekatkan wajahnya ke buah dada Rere, tetapi hatinya mengatakan bahwa Albie seharusnya memulai dari atas dulu.
Perlahan tetapi pasti Albie mendekatkan wajahnya ke wajah Rere, memiringkan mukanya sedikit ke kanan dan entah perasaannya atau bukan, dilihatnya Rere juga memiringkan wajahnya ke arah sebaliknya mendekatkan wajahnya ke wajah Albie.
Bibir mereka bertemu, saling melumat satu sama lain. Sekarang Rere membuka bibirnya, Albie tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan lembut dia menyapu dinding-dinding rongga mulut Rere dengan lidahnya. Mecoba melilitkan lidahnya dengan lidah Rere.
Di lain pihak, Rere merasa ciuman ini adalah ciuman rasa terima kasihnya ke Albie karena sudah menolongnya. Rere berpikir sekarang dia sudah aman dan bisa pulang. Atau memang dia menginginkan ciuman itu? Tetapi Rere Benar-Benar sadar ketika dia mengalungkan lengannya melingkar di leher Albie. Menikmati pagutan mesra di bibirnya. Albie pun sekarang memulai mengaktifkan tangannya. Di peluk mesra gadis di depannya itu. Dibukanya lilitan bahan sofa dari tubuh Rere yang membuat Rere sekarang kembali telanjang bulat. Tanpa melihat dan sambil berciuman, Albie meremas kedua buah dada Rere. Dia semakin bersemangat dan terangsang ketika didengarnya Rere mendesah pelan dan bernafas berat di wajahnya.
Ciuman berpindah dari bibir turun ke leher. Albie merasa tanpa perlawanan Rere yang berarti menjelaskan bahwa Rere pun menikmatinya. Kembali Albie mencoba turun lebih ke bawah lagi. Kali ini remasan di dada Rere berubah menjadi jilatan dan gigitan kecil yang merangsang Rere menjadi tinggi. Rere memejamkan matanya. Tangannya meremas rambut Albie yang ada di dadanya. Merasa puas menggumuli buah dada Rere, dengan hati-hati Albie merebahkan Rere di bangku. Winnie The pooh sekarang berubah menjadi bantal, menahan baringan tubuh Rere di atasnya. Albie turun lebih ke bawah lagi menuju selangkangan Rere. Menjilat dan menekan-nekan tonjolan kecil di sana. Rere terkejut hebat dan menggelinjang tetapi di saat yang sama dia merasakan sensasi yang luar biasa di tubuhnya. “Aaacchhhhh… Bie…“ racau Rere terangsang berat. Cairan Bening kental mulai keluar dari lubang kemaluan Rere. Albie terus menjalankan jurusnya di selangkangan Rere. Jilatan di segitiga Rere sekarang berubah menjadi hisapan kecil. Masing-masing hisapan Albie di kemaluannya membuat Rere tak bisa menahan rangsangan yang bergejolak di tubuhnya.
“Aaaaccchhhhhhhhhhh… Bie… masukin Bie… Aku udah gak tahan…“ Rere heran mendengar dirinya berkata seperti itu. Tetapi itu bukan dirinya yang bicara. Tetapi perasaan hawa nafsu di luar kendali Rere. Albie pun mengambil posisi. Seakan lupa dengan luka di sekujur tubuhnya dan sakit di perutnya, Rere membuka kakinya memberikan posisi mudah Albie untuk berpenetrasi di dalam rongga kewanitaannya.
Peluh keringat menetes di dada Rere ketika jatuh dari dahi Albie saat dia berusaha menaikinya. Kembali mereka berciuman mesra sambil berpelukan seolah badan mereka serasa ingin menyatu. Albie menuntun batang kemaluannya di mulut kemaluan kekasihnya. Menusuk pelan-pelan agar sensasi yang didapatkannya dapat dinikmatinya. Jepitan demi jepitan di setiap inci batangnya sungguh terasa luar biasa. Permainan kali ini betul-betul lepas buat Albie. Respons luar biasa dari Rere pun membuatnya terangsang lebih tinggi.
Habis tertelan kemaluan Rere, Albie mulai menggenjotnya naik turun. Seperti tanpa lelah, ritme kali ini betul-betul teratur. Perlahan tapi pasti, dorongan-dorongan dikemaluan Rere semakin cepat dan sensasional. Rere hampir menggigit bibir Albie yang menempel di bibirnya. Pelukannya semakin kencang seakan tak mau menyudahi kejadian ini. Tak lama kemudian Rere merasakan otot pada batang yang ada di dalam kemaluannya semakin kencang dan berdenyut keras. Tak berapa lama kemudian, Albie menyemprotkan spermanya, dia berejakulasi di dalam kemaluan Rere. Sengaja tertanam lebih dalam, Albie membiarkan batangnya tertelan beberapa saat sampai batang itu mengecil dengan sendirinya. Menyudahi dengan mengecup kening Rere, Albie mencabut kemaluannya di ikuti aliran spermanya yang mengalir keluar dari kewanitaan Rere.
“Re…” Albie tak tahu harus bicara apa, “Makasih ya…”
Rere pun hanya diam saja. Bahkan ketika dia memakai celana pendek dan memungut baju ’serep’ dari jok mobilnya, dia diam seribu bahasa saat memakainya. Albie tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Tetapi dengan mantap dia kembali melilitkan bahan sofa yang tadi terlepas ke bagian bawah tubuhnya.
“Kamu tunggu sini ya… Aku mau cari kunci gerbang dulu. Mungkin aku bisa cari di tempat pak somad…“ Kembali Rere diam seribu bahasa, tetapi dia menganggukan kepalanya tanda setuju.
Albie pun keluar dan berlari kecil menuju belakang sekolah. Rere terus melihatnya sampai Albie menghilang tertelan gelapnya gedung sekolah.
Tidak sampai 10 menit berlalu Albie kembali dengan mimik lega. Sepertinya dia berhasil menemukan kunci yang dimaksud. Tidak langsung menghampiri Rere, Albie menuju gerbang sekolah, membiarkannya terbuka lebar dan menghampiri Rere.
“Ayo kita ke pergi dari sini…” Katanya sambil membopong Rere pindah ke bangku depan mobil. Rere pun mengangguk kuat seakan kata-kata itulah yang ditunggunya sejak bel pulang sekolah berbunyi.. Albie menstater mobil dan meluncurkannya keluar dari pelataran sekolah menuju keramaian di luar sana.
“Kita ke dokter dulu ya Re… kamu harus periksa luka kamu…“Albie menyarankan. “Apanya yang sakit?” tanya Albie kembali.
“Tadi perut aku sakit banget, but it’s ok now tapi My leg is killing me right now… gak tau, mungkin patah atau apa… hidung aku juga gak jelas patah ato enggak…” jawab Rere. Hal ini melegakan Albie. Menandakan dengan menjawab itu berarti Rere sudah tenang dan tidak marah kepadanya.
“Kok kamu bisa datang ke sini??“ Tanya Rere tiba-tiba ditengah-tengah perjalanan mereka.
“Aku emang belum niat pulang… suntuk banget abisnya. Tadi pulang sekolah aku sengaja tunggu kamu di kios samping sekolah. Aku masih liat mobil kamu di parkiran… jadi aku tungguin aja sambil ngobrol sama si Gondrong yang jaga kios…“
“Trus, kok bisa masuk ke dalam kan ke kunci…?“ selidik Rere tiba-tiba.
“aku manjat tembok…Aku emang niat belum pulang dulu sebelum liat kamu pulang trus selamat sampe rumah. Aku pikir kamu ada tugas penting di sekolah sampe lama belum pulang. Kirain juga kamu lagi ngerjain apa di Lab biologi ato di lab komputer gitu…“ “Sampe aku denger ada yang gedor-gedor gerbang trus denger kamu teriak minta tolong…“ “si Gondrong bilang itu cuma halusinasi aku aja karena aku kelewat khawatir and tergila-gila ama kamu…“ jadi aku ngecek sendiri ke sekolah, aku liat kamu udah mulai di tindihin sama si bangsat itu… jadi otak udah gak mikir panjang langsung aku manjat tembok…“ Gerutu Albie ketika mengingat bagaimana gadis impiannya di perlakukan oleh Ben dan teman-temannya.
Rere sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dia sungguh takjub mendengar bahwa Albie setiap hari selalu memastikannya selamat sampai rumah sebelum dia sendiri pulang ke rumahnya. Entah apa yang akan terjadi kalau Ben tidak datang pada saat itu. Mengulur waktu sebelum Ben dan kawan-kawan memperoksanya? Toh akhirnya dia juga diperoksa beramai-ramai. Tetapi setidaknya dia memberikan sesuatu yang berharga miliknya kepada orang yang disayanginya. Dan perasaan lega ketika dia mengetahui bahwa bukan Albie yang menjebaknya. Tetapi siapa? Ika? Tetapi kenapa Ika bisa setega itu? Salah apa dia sama Ika?
Sesaat dia memikirkan bagaimana persahabatannya dengan Lola. Mungkin sekarang saatnya dia mengesampingkan persahabatan dan mulai mengutamakan perasaan hatinya. Mungkinkah?
——————————–
A little preview:
Biodata Rere:
Full Name : Renata Bargen
Nick name : Rere
Nama Ayah : Andy Bargen
Nama Ibu : Kinanti
Nama sahabat : Lola
Umur : 16 tahun
Tinggi / berat : 168 cm / 50 kg
Ukuran Bra : 34 B
Hobby : Hanging out, music, movie (any things involved in entertainment).
Ciri-ciri : Rambut lurus panjang di bawah bahu (toning burgundy mengikuti fash)
Hidung mancung mungil (mixed ibu dan ayah), mata bulat sedikit besar, bibir mungil berisi, kulit putih mulus terurus. (gorgeous).
——————————–
Rere dijebak temannya Ika sehingga dia perkosa oleh empat pemuda berseragam putih abu-abu (tidak tahu dari sekolah mana) Ben, Zack, Sam dan Dave. Dengan segala perlawanannya, Rere berusaha untuk menyelamatkan diri sehingga menyebabkan beberapa luka di sekujur tubuhnya.
Albie laki-laki yang disukainya ternyata juga disukai sahabatnya. Datang menolong pada saat Rere betul-betul tidak berkutik lagi. Tetapi akhirnya pemerkosaan terus berlangsung dengan Albie memetik keperawanan Rere lebih dahulu.
“Pak Somad masih pingsan… tapi aku pikir besok dia udah sadar…“ kata Albie tiba-tiba membuyarkan lamunan Rere.
“Ooo…“ seru Rere sekenanya, dia jadi teringat bahwa pak Somad memang tak sadarkan diri ketika dia meminta pertolongannya.
Honda Jazz Rere meluncur ke kawasan perumahan di daerah Bintaro. Rere tahu itu adalah jalan menuju rumah Albie. Tiba di sana Albie memarkirkan mobilnya di depan rumah.
“kamu tunggu sini ya Re, aku ganti baju dulu“ katanya sambil melirik sepotong bahan yang melilit di pinggangnya. “Abis itu aku anterin kamu ke dokter…” Rere mengangguk pelan dan Albie pun langsung keluar dari mobil masuk ke rumahnya. Rere memperhatikan kompleks di perumahan tersebut memang sangat sunyi. Dia tahu Albie memang tinggal sendiri di rumahnya, seorang anak tunggal yang ditinggal kerja kedua orangtuanya di luar kota. Rumah Albie besar, tetapi sedikit tak terurus. Banyak rumput liar tumbuh lebih panjang di sekitar halaman depan rumahnya. 3 menit kemudian Albie muncul dari dalam rumah mengenakan pakaian lengkap. Jeans biru dan kaus denim warna merah ditutupi jacket jeans berwarna cream.
Mereka pun langsung meluncur kembali ke jalan besar. Albie membelokkan mobil tepat ketika Rere melihat gedung sedang yang berplang tertulis ’klinik 24 jam’.
“Cuma sedikit memar di pelipis dan bibir robek sedikit…“ demikian kata dokter jaga yang memeriksa Rere di klinik tersebut. “Ini tulang kering sepertinya tidak patah, cuma sedikit retak saja… ringanlah, tapi kamu harus istirahat dan pakai gibs sampai kurang lebih 1 seminggu… gimana? kok bisa jatuh sih? Kecelakaan di mana?“ selidik dokter.
“Cuma jatuh dari tangga aja kok dok, saya kepeleset abis tangganya licin…“ Rere berbohong kepada dokter, rupanya dia dan Albie sepakat untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya. Ada nada lega di setiap kata-kata Rere, mengetahui bahwa dia tidak mengalami patah tulang. Bagaimana nantinya kalau tulangnya patah nanti…
Setelah menyelesaikan segala sesuatu di klinik, Albie mengantar Rere pulang ke rumahnya. Rere juga berencana untuk membohongi orangtuanya dengan cerita yang sama yang diceritakan ke dokter. Dan Albie pun langsung mengemudikan mobil Rere menuju ke rumah sang pemilik.
*********
Seminggu setelah kejadian yang menyedihkan itu, Rere akhirnya kembali masuk sekolah. Desas-desus di sekolah selama Rere istirahat di rumah mengatakan bahwa (dari versi pak Somad) ada sekawanan pelajar dari sekolah lain yang menyerbu sekolah. Mereka (masih versi pak Somad) rupanya rival dari sekolah ini, mau menghancurkan sekolah dengan mengacaukan ruangan sekolah. Merusak apa saja yang mereka lihat dan karena hanya salah satu ruang kelas saja yang terbuka dan juga ruang BP yang kebetulan pada saat itu tidak terkunci.
Tidak ada yang mencurigai kenapa Rere harus istirahat selama seminggu dan datang dengan menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Rere pun juga bungkam seribu bahasa. Dia sudah memperingatkan Albie untuk merahasiakannya juga. Albie bersikeras untuk meminta Rere melaporkan ke pihak yang berwajib. Tapi entah karena hal apa, Rere lebih memilih diam. Mungkin dalam pikirannya, jika semua khalayak sekolah mengetahui kejadian itu, apa tanggapan mereka. Kasihankah? Jijikkah? Support positifkah? Atau malah melecehkan dia karena sudah di ’pake’ beramai-ramai. Tetapi siapapun yang menjebaknya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda. Ika juga sungguh tidak tahu mengenai air mineral itu. Dia sendiripun meminumnya dan pingsan di mobil tepat ketika supirnya mengantarkan pulang. Rere juga mendengar bahwa teman sekelasnya itu di bawa ke rumah sakit dan dokter memprediksinya hanya kebanyakan minum obat tidur saja.
Lola masih tidak mau di ajak bicara, Rere berfikir kenapa dia cepat sekali menghilang. Lola terlihat semakin menjauhi Rere ketika dilihatnya Albie semakin dekat dengan Rere. Rere sendiri juga sungguh merana, semenjak kejadian itu dia jadi sangat pendiam. Selalu murung dan tidak pernah meninggalkan bangku kelasnya selain bel sekolah yang memulangkan semua siswa. Tetapi sekali-sekali Rere masih menyempatkan diri untuk meng-sms Lola, mungkin suatu saat dia mau mereplynya. Sepertinya usaha Rere sia-sia, dia semakin merana. Rere merasa bahwa hari-harinya di sekolah semakin membosankan saja. Dia merasa sangat kesepian. Kecuali Albie (yang terus memperhatikannya), Rere merasa tidak punya hiburan sama-sekali. Dia mau Lola ada di sampingnya, hang out bersama, nonton bersama atau tertawa-tawa bersama seperti dulu lagi.
Kesepian Rere semakin menjadi ketika papa dan mamanya harus pergi ke Glasgow, Scotlandia untuk tugas kantor, “maybe three years, or four… We don’t know… depends on the duty dear…” papanya menjelaskan. “But, we’re going to pick you up right on your graduation, sweetheart...” Orang tuanya memang menyarankan Rere untuk menyelesaikan sekolahnya lebih dahulu di Jakarta . Dan mereka akan memboyongnya untuk kuliah di sana .
Sebenarnya Rere ingin ikut papa-mamanya, tetapi memang dia harus menyelesaikan pendidikannya dulu yang tinggal dua semester lagi. Sudah empat minggu berlalu Rere tinggal sendiri di rumah hanya di temani pembantunya. Sekarang dia sudah pulih seperti semula, tidak perlu menggunakan tongkat lagi. Albie pun sering berkunjung kerumahnya hampir setiap hari. Rere tidak mengerti, sekarang semenjak dia hidup mandiri, kehidupan seks sepertinya sudah menjadi hal yang biasa saat Albie berkunjung. Mereka pasti melakukannya jika ada kesempatan. Rere pun tidak kuasa menolaknya. Sebenarnya Rere juga tidak kuasa menolak kehadiran Albie ke rumahnya. Kadang dia merasa jenuh padanya. Tetapi sekali lagi, dia memutuskan untuk menjalaninya pelan-pelan.
*********
Hari ini cuaca panas sekali. Di dalam kelas pun Rere merasakan udara pengap yang luar biasa. Dia berharap pelajaran cepat selesai dan segera menuju mobilnya untuk menghidupkan ACnya dan mungkin alunan coldplay bisa mendamaikannya. Tetapi saat yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Lagi-lagi Pak Burhan tak henti-hentinya menerangkan sejarah tentang The Great War (War World One), War World Two dan prediksinya tentang War World Three semenjak kejadian 11 September di Twin Towers WTC, US. Rere sungguh bosan luar biasa. Entah kenapa dia paling Benci pelajaran sejarah walaupun dia tahu suatu saat pasti ada manfaatnya. “Who cares…” katanya dalam hati. Bell berbunyi tepat ketika pak Burhan menceritakan tentang kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan para pengamat dan peneliti dunia saat kejadian 11 September tersebut. Sebenarnya hal ini mungkin bisa dibilang menarik. Tetapi rupanya bukan hanya Rere yang merasa bosan, teman-teman sekelasnya pun langsung membenahkan buku-buku mereka dan segera berhambur keluar. “Kita sambung minggu depan…” teriak pak Burhan agak keras. Memang suaranya kalah keras dengan kebisingan aktivitas siswa-siswi pasca bell pulang.
Seperti yang dilamuni Rere, dia segera menuju pelataran parkir sekolah untuk menghidupkan AC dan menyetel musik di mobilnya. Rere tahu, Albie pasti lagi main basket bersama teman-temannya. Seakan tak perduli karena panas yang menyengat, Rere sedikit berlari menuju mobilnya. Dia sedang merogoh tasnya untuk mencari kunci mobil ketika tiba-tiba mobil Carry hitam berhenti mendadak di depannya hampir menyerempetnya, menggeser pintunya terbuka dan seorang pria tak di kenal mencondongkan badannya, mendekap mulut Rere dan menariknya masuk ke dalam mobil. Rere tidak menyangka hal ini akan terjadi. Kejadiannya begitu cepat, sampai dia tak sempat untuk berteriak. “Now what…” gerutunya dalam hati. Sampai di dalam mobil mereka langsung melaju mobil dengan kecepatan sedang sehingga tidak ada orang yang curiga.
Rere hanya melihat 2 orang ketika dia terduduk di dalam mobil, satu memegang kemudi dan yang satu lagi duduk di bangku tengah sebelahnya yang tadi membekap Rere. Dia tidak bisa melihat siapa yang mengemudi. Tetapi rasanya dia pernah melihat mata yang balik menatapnya dari kaca di dalam mobil. Rere juga tidak bisa mengenali orang yang duduk di sebelahnya, dia sungguh besar, dengan kulit coklat dan beberapa brewok yang tak tercukur rapi. Jantung Rere berdegup kencang.
Rere berusaha kabur tetapi Carry ini hanya mempunyai satu pintu samping yang di geser dan di jaga oleh orang di sebelahnya.
“Siapa lo??!! Ngapain lo bawa gue!!! Buka pintunya!!” Teriak Rere sambil mencoba meraih pintu mobil untuk menariknya terbuka. Tetapi tubuh lawan di depannya sungguhlah kuat. Dia menghadang dan membekap Rere yang melawannya.
“Hallo Re…pa kabar…” sapa tiba-tiba orang di depannya. Rere terkejut melihat sosok yang sekarang menghentikan mobil dan memalingkan wajahnya ke belakang untuk menyapa Rere. “Ben…” seru Rere dalam hati. Spontan Rere menjadi pucat, teringat kembali bayangan-bayangan menyakitkan yang terjadi 2 bulan yang lalu.
“Mau kemana sih? Kok buru-buru banget??” senyum Ben masih sama seperti dulu. Sinis dan menakutkan. Senyum itu membuat wajah tampannya menjadi tak berarti sama sekali.
“Ben…” Rere menyerukan nama itu tanpa sadar.
“Masih inget ya say… aku pikir kamu udah lupa… Oia, kenalin tuh namanya Tony… aku minta bantuan dia buat ngambil kamu…” seakan hal ini sudah biasa, Ben mengenalkan temannya yang langsung tersenyum sinis pada Rere.
“Gue pikir semuanya udah selesai Ben… Lo mau apa lagi?? Lo udah dapetin semua!!! Kenapa lo ganggu gue lagi!!?“ Teriak Rere hampir menangis.
“Tadinya emang gitu say… tapi engga tau kenapa, semenjak kejadian itu aku kebayang-bayang kamu terus…, kok kayaknya aku jatuh cinta ya…” Rere merasa nada itu seakan melecehkannya. “Sayang ya papa-mama kamu lagi di luar negeri… kalo enggak kan aku bisa dateng ngapelin kamu… kali aja bisa ngelamar kamu… he..he..he…” spontan Rere terkejut bukan main. Dia tahu itu kalimat sindiran. Dari mana Ben tahu kalo orangtuanya memang sudah pindah keluar negeri.
“Ngomong apa sih lo… Bokap-nyokap gue ada di rumah. Kalo mereka tau gue gak pulang mereka akan lapor ke polisi. Gue udah ceritain semuanya sama mereka, kalo ada apa-apa sama gue, gue udah mastiin ke mereka kalo lo yang ngapa-ngapain gue!!” Rere berbohong. Dia berharap Ben mempercayai kata-katanya dan melepaskannya sehingga kejadian ini tidak akan terjadi lagi.
“Aduuuh, kamu gak cocok banget ya kalo ngebo’ong…” balas Ben. “Aku tau papa-mama kamu udah pindah ke luar negeri. Aku kan tiap hari ngawasin kamu!! Lagian kalo emang bener cerita kamu. Emang orangtua kamu tau siapa aku?? Dari mana dia bisa ngelacak aku… say.. kalo mau bo’ong yang cantik donk…” celetuk Ben dengan nada malas dan kembali menyetir mobil tanpa memperhatikan reaksi Rere.
Seakan sudah di vonis mati, Rere terkejut bukan main. Kembali perasaan takut mengisi kepalanya. Spontan dengan segala upaya dia mendorong tubuhnya ke depan. Meraih kemudi dan membelokkannya ke kiri, ke tepi jalan berharap mobil ini akan menabrak sesuatu dan orang-orang sekitar akan menolongnya “Lepasin gue!!!” teriaknya. Tetapi rupanya Ben lebih tanggap. Dia segera menahan kemudi yang tak kalah kuatnya dengan tarikan Rere. Tony pun langsung beriisiatif untuk menarik Rere ke belakang dan menahannya.
“Lepasin gue lo bajingan!!! Lepasin gue!!!!“ Rere meronta dalam dekapan Tony yang kuat. Kakinya menendang-nendang Ben di depan, tangannya menggedor-gedor kaca berharap kaca itu akan pecah sehingga dia bisa berteriak minta tolong. Tetapi ketika dia berupaya dengan sekuat tenaga dari arah depan Rere merasa hidungnya ditutup dengan saputangan. Seakan dunia tidak berudara. Rere sulit bernafas. Bau obat bius sangat menyengat langsung mengalir masuk ke otaknya. Membuat dia pusing bukan kepalang. Rere melihat seakan-akan seluruh isi di dalam mobil berputar-putar di kepalanya dan tiba-tiba kepalanya berat luar biasa. Tubuhnya lemas tak berdaya, dan akhirnya Rere jatuh terkulai tak sadarkan diri.
Rere tidak bisa mengingat berapa lama dia pingsan, tetapi ketika dia tersadar, dia berada di ranjang besar dan empuk berkerangka besi ukiran yang indah di tata dengan beberapa bantal besar diselimuti bed cover. Spontan Rere meraba tubuhnya. Lega, pakaiannya masih lengkap. Sejenak dia memperhatikan ruangan sekitarnya. Sungguh mewah ruangan ini, dengan home theatre lengkap di sudut ruangan beserta koleksi dvd bertumpuk-tumpuk di sebelahnya. Dia bangkit turun dari tempat tidur berjalan mengitari kamar berusaha mencari pintu untuk pergi dari tempat ini. Ada beberapa pintu di sana. Rere menarik daun pintu dari salah satu pintu itu. Ketika terbuka, ruangan disebelahnya adalah kamar mandi besar dilengkapi dengan shower dan bathupnya. Hal ini biasa, yang membuat unik kamar mandi ini dilengkapi dengan jacuzzi bulat dengan gelembung air menguap dari bawah tak henti-hentinya. Rere menutup kembali pintu itu. Dia sedang tidak ingin mandi meskipun dia tergoda untuk mencoba menenggelamkan dirinya di jacuzzi itu, untuk menghilangkan penatnya.
Kembali dia membuka salah satu pintu yang lain. Ternyata pintu itu adalah pintu lemari pakaian dan sepatu. Bertumpuk-tumpuk sepatu tersusun rapi di raknya. Baju-baju, kemeja dan kaos terlipat dan tergantung rapi di salah satu sudut. Rere menyadari. Semua itu adalah ukuran dan model untuk laki-laki. Berarti dia ada di kamar laki-laki. Tetapi kamar siapa? Ben?
Rere menutupnya lagi dan membuka satu pintu yang tersisa. “Terkunci!!” hatinya melengos. “Di mana ini…” kembali dia mencoba untuk melihat sekelilingnya. Rere berkomentar kenapa kamar sebagus dan semewah ini tidak mempunyai jendela satupun. Tiba-tiba dari pintu yang terkunci terbuka menjeblak mengagetkan Rere yang terbengong takut di dalamnya. Ben muncul dan masuk ke dalam kamar. Menutup kamar dan menguncinya dari dalam.
“Udah bangun ya say… enak tidurnya??” Sapa Ben ramah. Rere tidak percaya dengan mimik Ben. Spontan dia mundur berusaha menjauh dari Ben. Rere melihat Ben hanya mengenakan celana pendek selutut dengan kaos oblong warna putih dengan sebatang rokok yang menyala dan asbak di tangan kanan, sementara di tangan kirinya dia menenteng paper bag besar yang Rere tidak tahu apa isinya. Ben menghampiri Rere, tetapi Rere lagi-lagi menjauhinya.
“Kamu kok kaya orang jauh aja sih say… takut?… apa malu? Gak usah malu dong say…kita kan udah kenal luar dalem…” Ben tersenyum, tetapi entah kenapa Rere tidak merasakan kesan manis di senyum itu.
“Pergi lo dari gue!!!! PERGI!!!!… TOLONG…TOLONG…TOLONG…!!” Rere berteriak ke dalam tembok. Berharap suara itu bisa menembus tembok dan memanggil orang dari luar. Tetapi dengan tenang Ben menghisap rokoknya, menghembus asapnya dan berjalan menuju tempat tidur, meletakkan paper bag yang dibawanya tadi di atasnya.
“Percuma say, kamu mau teriak sekencang apa juga gak bakal ada yang denger… Sekarang kita lagi ada di villaku, letaknya jauh dari perumahan… tapi jangan kebanyakan teriak… Aku pusing dengernya…” lagi-lagi Rere merasakan nada dingin yang mengancam di setiap kata-kata Ben.
“Di dalam paper bag itu ada baju ganti buat kamu… baru sebagian sih… ntar aku beliin lagi…mulai sekarang kamu tinggal disini sama aku sampai kita pindah ke tempat lain…” Ben bicara lantang seraya berjalan ke arah pintu seakan tak peduli dengan tawanannya. Rere tahu Ben mau keluar dari kamar ini. Dia sendiri heran dengan apa yang akan dilakukannya. Dia berlari ke arah pintu. Menghadang Ben di depan pintu tepat ketika Ben akan menarik gagangnya.
“A..aa..Apa maksud lo…? Selamanya? Disini…? Sama lo??” Rere gugup dan bingung dengan pertanyaannya.
“Denger ya re…” sambil mengapit dagu Rere dengan punggung telunjuk dan ibu jari tangan kanannya, Ben menengadahkan wajah Rere ke arahnya dan mendekatkan hidungnya tidak lebih dari seinci dengan hidung Rere. “Gue selalu ngedapetin apa yang gue mau… kalo gue bilang gue mau lo… gue pasti ngedapetin lo walaupun dengan cara apapun… mendingan lo mandi sana ganti baju biar seger… gue males maen sama orang yang loyo…” Rere merasakan tangan Ben di dagunya dingin sedingin kata-katanya. Tetapi bukan saatnya buat Rere untuk melempem. Dengan masih menghadang Ben di pintu Rere berusaha bicara dengan lantang.
“Gue gak takut sama lo Ben…ato siapapun nama lo!!…Lo lepasin gue sekarang ato gu…” belum sempat Rere menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba ‘PLAK’
Dengan Rokok dan asbak di tangan kiri, Ben menampar keras Rere dengan tangan kanannya dan langsung mencekik leher Rere yang jenjang. Spontan Rere tidak bisa apa-apa lagi. Tanpa sadar Rere memegang tangan Ben dengan kedua tangannya seolah ingin melepaskan cekikan Ben yang ternyata sangat kuat. Wajahnya yang putih lambat laun menjadi kemerahan. Matanya berair menahan nafas yang rasanya sudah 1 jam lamanya seiring dengan cekikan Ben di lehernya.
“Jangan pernah lo ngancem gue… Lo gak tau siapa gue!!! Mulai sekarang gue yang nentuin apa yang boleh and yang gak boleh lo lakuin!! Mulai sekarang lo harus nurutin semua perkataan gue… mulai sekarang nasib lo ada di tangan gue…” sungguh-sungguh Ben berbicara seakan ingin menunjukkan ke gadis ditangannya bahwa dia tidak main-main. Sambil mencekik leher Rere, Ben menarik Rere menjauh dari pintu. “mendingan lo mandi sekarang…” Ben melepaskan cekikannya, spontan Rere langsung terjatuh bersimpuh di lantai karpet, lepas keseimbangan dan terbatuk-batuk seakan udara yang masuk ke paru-parunya terasa sesak dan sedikit.
Ben kembali menghisap rokoknya dengan tenang. “Gue mau pesen makanan… sebentar lagi gue kesini… jangan pernah lo berani macem-macem…” kembali ucapan Ben dingin seperti es bagi Rere. Akhirnya Ben membuka pintu dan berjalan keluar. Rere tidak melihat Ben menutup pintunya, tetapi dia mendengar tanda klik arti pintu kembali terkunci. Tanpa sadar Rere mengisak, air matanya menetes di kedua pipinya yang putih mulus, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Bagaimana nasibnya nanti. Apakah Albie menyadari kalau dirinya sudah pergi ke tempat yang Rere gak tahu ada dimana. Tas sekolah dan telepon genggamnya juga tidak tahu ada dimana. Sambil berpikir, Rere berjalan menuju kamar mandi. Mungkin Albie akan menyadarinya kalau dia melihat mobil Rere masih terparkir di pelataran sekolah. “Ya, pasti Albie datang menolong lagi…” Rere berusaha menghibur dirinya sendiri.
Rere membuka kran air dan menutup sumbat di bathup. Dia mengisinya dengan air hangat… membuka pakaiannya dan meletakkan tubuh telanjangnya ke dalam bathup yang sudah setengah terisi. “hangat…” katanya dalam hati. Serasa dia lupa sedang berada dimana, dia menikmati tubuhnya terendam air hangat dan menikmati bath time-nya, Rere memejamkan mata dan mulai tertidur ketika tiba-tiba ada tangan yang menyentuh bahunya. Rere terlonjak kaget. Ketika membuka matanya dia melihat Ben sudah ada di sampingnya
“Kamu seksi deh kalau basah…” senyum Ben kembali menghiasi wajahnya. Rere benar-benar benci orang yang ada dihadapannya. Dia mencari handuk, tetapi tidak ditemukan. Dia mencoba mengambil seragamnya untuk menutup tubuhnya. Tetapi seragam itu tidak ada di lantai tempat dimana tadi dia meletakannya. Rere berusaha menutup tubuhnya dengan tangannya meskipun dia tahu tidak akan berhasil. Alhasil, dia hanya menutupi buah dadanya yang putih kenyal dan sangat menantang itu dengan melipat tangannya di daerah tersebut sementara kemaluan Rere tak kuasa untuk ditutupi.
Ben dengan santai mencoba untuk mencium bibir Rere. Tak diduga, Rere mendorong tubuh Ben menjauh dan keluar dari bathup. Ben pun terjatuh ke lantai kamar mandi yang licin. Dengan telanjang Rere berlari keluar dari kamar mandi menuju kamar, dia meraih pintu keluar, tetapi pintu itu terkunci. Rere menelusuri kamar dengan pandangannya mencoba mencari kunci untuk membuka pintu. Tepat ketika Rere berputar, Ben sudah ada di hadapannya dan langsung saja kembali Ben menampar keras Rere hingga Rere terjatuh terjerembab di lantai karpet. Ben memutar tubuh Rere agar terlentang dan menindihnya. Dia langsung menciumi gadis yang ada di bawahnya itu dengan nafsu yang tinggi. Rere masih saja berusaha untuk menghindar, melupakan rasa perih dan panas di pipinya dan berat tubuh lawannya.
“Jangan…please… gak mau… TOLOOOONG!!! TOLOOOONG…TOLLffmpph…” Ben menghentikan lolongan Rere yang keras dengan menerkam bibirnya, melumat dengan ganas. Lidahnya berusaha masuk ke dalam mulut Rere, bermain-main di dinding rongga mulutnya. Tangan Ben yang kuat membekap kedua tangan Rere ke atas, membuat tubuh Rere terlentang pasrah menantang lawannya. Sambil menahan tangan Rere, Ben menindih dan mencumbui bibir Rere. Entah kenapa permainan ini tidak bisa dinikmati Rere seperti waktu yang lalu. Pikirannya kalut, marah, takut dan bingung menjadi satu. Dia benar-benar tertekan. Cumbuan Ben sekarang turun ke buah dadanya. Lagi-lagi mulut Rere yang terbebas kembali berteriak, hal ini membuat Ben senewen. Dengan tidak melepaskan tindihannya. Kembali Ben menampar Rere.
“Diam!! Ato gue siksa lo pelan-pelan!!” Ancaman Ben ternyata membuat Rere ciut. Dia pun menjadi diam. Dia tidak mau disiksa, tetapi juga tidak mau diperkosa. Rere memilih diam walaupun dalam hatinya sangat memberontak.
Ben pun kembali meneruskan permainannya. Setelah mengetahui ancamannya berhasil, Ben melepaskan bekapan tangannya pelan pelan. Rere pun tidak berkutik lagi. Dia hanya diam terlentang tak bereaksi sama sekali. Matanya menatap ke langit-langit, hampa dan kosong. Beberapa tetes air mata menetes keluar tanpa reaksi. Sementara mulai membuka pakaiannya satu persatu, sehingga dengan hitungan detik, Ben sudah berbugil ria. Dia terus melumat tubuh Rere yang hanya pasrah menerima setiap cumbuannya. Ben mulai menuruni badan Rere menghadapkan wajahnya di selangkangan Rere. Ben membuka paha Rere dan membenamkan kepalanra di pangkalnya. Ketika lidah Ben menjilat klit daging kecil di sana, Rere menggelinjang sedikit. Bukan rangsangan tetapi perasaan tidak nyaman yang dirasanya.
Rere sama sekali tidak menikmati pergelutan kali ini. Dia merasa seperti di sangkar burung emas yang mengurungnya. Ketika dirasakan batang kemaluan Ben mulai menekan liang sanggamanya. Rere berusaha mendorong tubuh Ben dari atasnya. Tetapi Ben tak bergeser sedikitpun. Dia semakin bernafsu mendengar Rere mengerang kesakitan. Tepat ketika dirasakan posisi batang kejantanannya tepat di pintu sanggama Rere, tanpa peringatan, Ben langsung menusukkannya jauh ke dalam. Rere menjerit kesakitan. Kemaluannya yang kering tidak siap untuk dimasuki benda apapun membuatnya sangat menderita. Ben sama sekali tidak memperdulikannya, dia mulai menggenjot tawanannya. Semakin lama semakin cepat sehingga dorongan-dorongannya yang kuat membuat badan Rere terdorong maju mundur.
“Enak banget sih say punya kamu… uuggh…” Ben meracau ditelinga Rere. Kembali air mata rere mengalir tak terasa. Dia tidak mengisak juga tidak bereaksi sama sekali.
“Aku emang sengaja engga make kamu waktu itu… biar aku jadi orang yang terakhir yang make kamu sampai selamanya…“ Rere tidak mendengarkan celoteh Ben. Dia sedikit meringis ketika genjotan Ben semakin dalam dan cepat.
Tiba-tiba Ben mencabut batang kemaluannya dari kemaluan Rere. Sedetik kemudian dia mengangkat kedua kaki Rere ke atas sehingga Rere merasakan kedua lututnya tepat menempel kuat di masing-masing buah dadanya membuat selangkangannya lebih terbuka menantang. Ben menahan kedua kaki Rere dan mengarahkan batangnya ke selangkangan Rere. Tetapi bukan kemaluan Rere yang dicoba ditusuknya, melainkan saluran pembuangan belakang Rere. Rere pun terlonjak kaget ketika dirasakan anusnya diraba oleh kepala kemaluan Ben. Dia memberontak kuat menolak keras maksud dan tujuan Ben.
“Jangan!!! Jangan di situ…Jangan!!!! gak mau… jangan!!“ Rere memberontak. Dia menggoyang-goyangkan tubuhnya keras berusaha memelesetkan kepala kemaluan Ben di lubang duburnya. Tetapi sekali lagi usahanya sia-sia. Ben mengunci mati tubuh dan kaki Rere tak berkutik. Dia pun menusukkan kepala batangnya ke lubang belakang Rere. Sedikit demi sedikit batang itu menerobos masuk ke dalam. Rere menggigit bibirnya sendiri. Serasa sesuatu merobek tubuhnya. Kali ini dia mengerang keras ketika Ben menggenjot lubang belakangnya. Ben tahu itu bukan karena kenikmatan, tetapi dia semakin bersemangat memompa dubur Rere.
“Aku kan gak merawanin depan kamu waktu itu… Boleh donk aku merawanin belakang kamu…“ Ben berbisik pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke telinga Rere.
Rere sungguh tersiksa dengan anal seks ini. Sungguh mati dia tidak membayangkan dirinya beranal dengan pria manapun. Ketegangan dan kesakitan melanda tubuh Rere. Keringatnya sekarang mengucur menahan sakit bercampur dengan air matanya. 5 menit pergelutan itu berlangsung. Rere sungguh tidak kuat lagi. Akhirnya Ben mempercepat genjotannya di dalam dubur Rere. Beberapa detik kemudian Rere merasakan batang yang tertanam ditubuhnya berdenyut kuat dan tak lama sesudahnya Ben menyemprotkan cairan spermanya di dalam tubuh Rere.
Ben tidak menunggu batangnya mengecil terlebih dahulu, dia langsung mencabut kejantanannya dari dalam tubuh Rere. Dilihatnya spermanya mengalir keluar bercampur cairan sedikit berbusa berwarna pink. Ben tahu itu adalah darah Rere. Dia sadar telah memerawani anus Rere. Ben pun tersenyum.
We’re going to have the greatest days everyday honey…” katanya sambil mengecup kening Rere. Rere memalingkan mukanya. Dia melingkarkan tubuhnya dilantai karpet, memeluk lututnya dan mengisak mengucurkan air mata. Sementara Ben berjalan meninggalkan Rere menuju kamar mandi. Sedetik kemudian Rere mendengar bunyi gemericik air mengalir dari kamar mandi. Dia tahu Ben pasti sedang membersihkan badannya. Dia sungguh-sungguh benci orang itu.
Lima menit kemudian Ben keluar dari kamar mandi. Dia melilitkan handuk kecil di pinggangnya. Rere pun masih bersimpuh di lantai karpet. Ben menghampiri Rere, berjongkok di sebelahnya sambil membelai rambut Rere.
“Say… Mending kamu mandi deh…biar seger… tar lagi makanan dateng…aku tungguin makanan di luar ya… ntar lagi aku ke sini… “ katanya mesra. Rere sungguh tidak menggubris pesan Ben. Dia terus melingkarkan tubuhnya di lantai karpet tempat dimana pergelutan terjadi beberapa menit yang lalu. Ben pun bangkit dengan tak lupa mengecup rambut Rere. Dia berputar menuju pintu, membuka dan berjalan keluar ruangan. Sekali lagi Rere mendengar bunyi klik tanda pintu kembali terkunci.
Rere berpikir sampai kapan dia akan mengalami nasib seperti ini. Dia sekarang putus asa. Sia-sia sudah air matanya mengalir di pipi, tetapi tidak bisa meluluhkan perasaan Ben yang sekuat baja. “Mama…” katanya menangis tersedu. Seandainya dia bisa bertemu mamanya sekarang, mungkin hatinya akan tenang. Tetapi hal itu tidak mungkin. Dia benar-benar tidak tahu ada di mana sekarang. Menunggu dan menanti apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya.
Part 2
Rere sedang terduduk di kursi malas sambil membaca-baca tabloid gossip seputar selebritis. Nana Mirdad sekarang sedang hamil tua. Kok secepat itu ya? Apakah memang dia betul-betul MBA (married by accident) seperti yang orang-orang gosipin?. Rere terus membalik-balikkan lembaran demi lembaran tabloid ketika seseorang membuka pintu, dilihatnya Ben menghambur masuk ke kamarnya. Sosok laki-laki tampan, tinggi dan putih tetapi sangat di Benci Rere, kenapa ada disini? Kenapa dia bisa masuk ke kamarnya sementara mama-papanya saja harus mengetuk dahulu dan meminta ijinnya sebelum masuk ke kamarnya.
“Hallo sayang…” Ben menyapanya sambil mengecup keningnya. “Kamu dah makan belum?” Seolah tanpa salah, Rere mengelak kecupan di keningnya itu.
“Ngapain Lo ke sini?!… Ngapain Lo ke kamar gue!!… PERGI LO!!! KELUAR DARI KAMAR GUE!!!… PERGIIIIIIIII!!!” Teriak Rere kasar. Dia masih ingat ketika Ben dan ketiga kawannya memperkosanya beramai-ramai di sekolah.
“Kamu ngomong apa sih sayang???? Ini kan kamar kita berdua, jadi ini kamar aku juga” Jawab Ben kelihatan khawatir dengan sikap Rere.
“JANGAN MIMPI LO!!!! PERGI LO SANA!! KELUAR DARI KAMAR GUE!!” teriak Rere histeris.
“Kamu kenapa sih Re?? Ini aku Ben… Suami kamu… Kamu kenapa? Kamu demam ya?“ Ben berusaha meraba kening Rere, tetapi Rere dengan cepat mengelak.
“APA?! SUAMI?! CUIH! MANA BISA LO JADI SUAMI GUE!!! SAMPE MATI GUE GAK MAU JADI ISTRI LO!! JANGAN MIMPI LO!!” masih dengan nada tinggi, Rere seakan mendengar suaranya melengking saking marahnya.
“Re, kamu ngomong apa? Jangan gitu!! Ingat kamu lagi hamil tua… itu anak kita… anak aku, suami kamu…“ Ben berusaha menjelaskan dan menenangkan Rere. Tetapi setelah mendengar perkataan Ben, Rere bukannya tenang melainkan bingung. Suami? Hamil? Anak?? Spontan dia melihat ke bawah. Dilihatnya gelembung besar di daerah perutnya. Rere meraba perutnya. Memang dia sedang hamil. Hamil besar. Apakah ini hasil dari pemerkosaan waktu itu? Dia tidak mau anak ini. Lalu dengan keras dia memukul perutnya, mencoba membunuh mahluk hidup yang ada di dalamnya. Rere kesakitan. Sakit tepat ketika dia memukul perutnya. Sekejap kemudian dia terbangun dari kursi malasnya.
Alih-alih kursi malas, ternyata Rere masih tergeletak di suatu ruangan. Rupanya dia tadi bermimpi. Dilihat sekelilingnya gelap gulita, didapati dirinya masih telanjang bulat. Perutnya sakit akibat pukulan tanpa sadar di mimpinya sendiri. Tubuhnya basah bermandikan keringat. Rere berusaha memfokuskan pandangannya yang buram. Dia meraba sesuatu di sebelahnya. Dilihatnya samar-samar, itu Albie. Rere terkejut ketika melihat Albie pun tertidur telanjang bulat seperti dirinya. Rere melihat sekelilingnya. Sepertinya dia kenal ruangan ini. Rere bangkit berdiri. Tetapi tiba-tiba kakinya sakit luar biasa. Sekujur tubuhnya sakit. Selangkangannya terasa perih dan panas.
Akhirnya Rere ingat. Dia masih diruangan BP sekolahnya. Kembali dia tersadar atas apa yang baru saja menimpanya. Tertatih-tatih Rere berjalan sambil mencoba meraba ke tembok-tembok berusaha meraih electricity outlet untuk menghidupkan lampu atau mencari penerangan. Ditemukan electricity outlet dan dihidupkan lampu. Ketika ruangan sudah terang, dilihatnya ruangan itu, masih segar dalam ingatannya ketika Albie merenggut keperawanannya di sofa sana , juga ketika Ben, Dave, Sam dan Zack yang menyetubuhinya beramai-ramai. Dan Rere juga teringat karena merekalah dia jatuh pingsan. Dilihatnya jam yang ada di tangannya. “Jam 9 malam…” katanya dalam hati. Pasti mama sudah mencari-carinya. Mungkin sudah menelepon ke HPnya untuk menyuruh pulang.
Rere tidak ingat dimana tasnya, dimana semua barang-barang bawaannya. “dingin…” Rere berseru pelan kepada dirinya sendiri. Rere berusaha mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Tetapi setelah dia sadar bahwa tidak ada sehelai Benang pun untuk menutupi keterlanjangannya, Rere pun merosot terduduk. Jongkok sambil memeluk kakinya. Membenamkan wajahnya di kedua lututnya yang masih sakit, terisak-isak menangis.
Rere tak tahu sudah berapa lama dia tersedu-sedu ketika didengarnya disudut ruangan Albie mengerang pelan. Rupanya Albie sudah sadarkan diri. Rere melihat Albie memegangi kepalanya yang beberapa jam lalu dihantam keras oleh Sam sampai dia jatuh pingsan. Beberapa saat kemudian Albie pun menyadari sesenggukan Rere di tempat Rere membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Albie bangkit berdiri dan menghampiri Rere.
“Re… kamu masih disini? Aku pikir kamu udah dibawa mereka… Kamu gak apa-apa kan?” Albie membelai rambut Rere yang sudah awut-awutan itu.
“Apanya yang gak apa-apa Bie??“ seru Rere sambil menangis. “Kamu udah liat apa yang terjadi!!“
“Sorry Re, aku gak tahu… si bangsat itu mukul aku dari belakang… Apa yang terjadi Re??“ tanya Albie sambil terus membelai rambut Rere, berusaha menenangkan suaranya meskipun dia bisa menebak apa yang akan dijawab Rere.
“AKU DIPERKOSA BIE!!!!“ Rere menepis tangan Albie dari kepalanya. “ABIS KAMU PINGSAN AKU DIPERKOSA RAME-RAME SAMA MEREKA!!“ teriak Rere histeris, seolah itu adalah kesalahan Albie. “MEREKA MENGGILIR AKU BIE!! MEREKA MAKE AKU RAME-RAME… DI SANA! MEREKA BUANG DI DALAM PERUT AKU BIE!!“ sambil menunjuk sofa tempat perbuatan maksiat itu terjadi. Albie pun tahu, ketika melihat tempat yang ditunjuk Rere, dilihatnya darah kering tercetak di cover sofa itu. Albie sadar itu adalah darah perawan Rere yang sudah diteguknya.
“Ok Re, aku minta maaf… aku terpaksa… aku dipaksa mereka…“ Albie seolah kehabisan kata-kata, menyadari kesalahan itu pantas dibebankan kepada dirinya. Bingung harus berbuat apa-apa, Albie pun memeluk erat Rere yang masih terduduk di lantai.
“Seperti kata-kataku tadi, aku mau tanggung jawab Re, aku gak akan meninggalkan kamu.. Aku akan terus berada disisi kamu… Swear! Aku janji… Aku akan terus menyayangi kamu apa adanya…“
“Aku…aku takut Bie… Aku takut…“ Rere membalas pelukan Albie, dia menggigil hebat. Menggigil kedinginan atau ketakutan? Albie tidak bisa mengenalinya. Sekejap kemudian Albie beranjak dari pelukan Rere, mencoba mencari pakaiannya, tapi tidak ditemukannya.
Rupanya Albie tidak kehilangan akal. Dia segera menuju meja di dalam ruangan itu. Membuka lacinya dan merogoh-rogoh mencari sesuatu. Rere melihat Albie mengeluarkan gunting besar dari laci itu. Lalu Albie berjalan menuju Sofa panjang. Diguntingnya sofa tersebut mencoba mengambil kulit penutupnya. Setelah itu di gunting menjadi dua. Salah satu dari kain bahan sofa itu diselimutkan ke Rere, dan yang lainnya dililitkan ke tubuhnya menutupi setengah bagian bawah tubuh Albie.
“kamu mau ke mana Bie?“ Tanya Rere ketika dilihatnya Albie memegang daun pintu dan membukanya.
“Aku mau cari sesuatu buat kamu pakai Re, biar kita pergi dari tempat ini…mungkin di ruang laboratorium ada seragam workshop…“ jelas Albie.
“laboratorium pasti udah dikunci Bie… Di mobil ku ada baju serep… tapi aku gak tau kuncinya ada di mana…” Rere berfikir keras dimana dia meninggalkan tas sekolahnya. Apa masih di dalam kelas? Tidak mungkin! Tadi ketika dia keluar dari kelas, dia sudah menjinjing tas sekolahnya. Juga ketika dia ijin kepada Ika untuk ke toilet, dia juga masih bawa tas sekolahnya itu.
Tiba-tiba Rere ingat, Ben membuang tas sekolahnya ketika dia berusaha meraih Hpnya.
“Toilet perempuan… Bie, tas aku ada di toilet anak perempuan…”
“OK Re, aku ambilin. Kamu tunggu di sini…”
“Enggak Bie, aku takut… aku ikut kamu aja… aku gak mau ditinggal sendiri…“
Albie pun melilitkan kain bahan sofa ke tubuh Rere. Ketika Rere mengangkat tubuhnya sendiri untuk mencoba berdiri, Albie melihat buah dada Rere yang ranum dan putih menggantung indah. Dan ketika Rere berusaha berdiri dan tertatih menahan berat tubuhnya dengan satu kakinya yang masih sehat, buah dada itu bergoyang-goyang dengan indahnya, membuat darah Albie berdesir, berputar di otaknya turun ke bawah menghantarkan darah hangat ke selangkangannya. Albie berusaha untuk tetap berkonsentrasi menguatkan akal sehatnya. Tetapi ketika Rere berdiri, dia juga melihat kemaluan Rere yang terpampang dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya membuatnya tidak bisa menahan ereksinya.
“Ayo Re, aku bantuin jalan…“ tawar Albie mengalihkan perhatiannya.
Mereka berjalan dalam kegelapan gedung sekolah menuju ke lantai dua tempat toilet perempuan dimana Rere meninggalkan tas sekolahnya. Pikiran Albie terus melayang kepada pandangannya beberapa menit lalu. Tubuh telanjang Rere yang indah terus menari-nari didalam pikirannya sementara dia membopong Rere menaiki tangga. Tiba di toilet perempuan mereka langsung mendapatkan tas sekolah Rere yang tergeletak berantakan di ujung sudut pojok koridor. Langsung saja Rere meraih tasnya sendiri dan mereka bergegas ke pelataran parkiran sekolah.
Rere langsung membuka kunci mobilnya dan berjalan untuk membuka pintu belakang. Albie membantunya masuk ke back seat mobil. Memang menurut Albie Honda Jazz Rere seperti ’mobilku, rumahku’ dimana bangku belakangnya sangat berantakan. Baju Rere berserakan dimana-mana, tetapi anehnya hal itu tidak di anggap ’messy’ oleh Albie. Malah, ada perasaan aneh terlintas dipikiran Albie. Celana pendek, baju you can see, tanktop bahkan Bra Rere pun tergeletak sembarangan di bangku belakang. Boneka bantal Winnie The Pooh besar menghiasi bangku belakangnya. Hal ini membuat Albie merasa seperti berada di ’kamar’ Rere. Sekejap saja, hal ini membuat darah Albie kembali berdesir apalagi melihat kekasihnya setengah telanjang terbaring lemah tak berdaya dengan bercucuran keringat dan sedikit bekas darah di pinggir bibirnya.
Albie mengambil tissue yang terletak di dashboard mobil dan air mineral di botol yang ada di bangku depan. Di basahkannya tissue itu dengan air sebelum Albie membasuh wajah Rere.
“Aku bersihin dulu Re, baru kamu pake bajunya… biar seger dikit…“ Albie mengelap wajah Rere, membersihkan sisa darah yang mengering, kening dan lehernya pun di basuh. Tetapi ketika Albie membasuh leher Rere yang jenjang, putih dan mulus itu, dia tidak bisa menahan untuk tidak mengecupnya. Tanpa sadar Albie mendekatkan bibirnya ke leher Rere, memberikan kecupan lembut di sana. Rere sedikit terkejut. Refleks Rere mengelak dan mencoba menghindar. Hal ini membuat lilitan bahan sofa yang ada di tubuhnya mengendur dan terbuka.
Waktu seperti terhenti, kurang lebih semenit mereka hanya berpandangan. Dengan dada yang terbuka, Albie bisa melihat dengan jelas tanpa gangguan keempat orang beberapa saat lalu bahwa buah dada Rere sungguhlah indah dan ranum. Bra ukuran 34 B yang beberapa jam yang lalu menopangnya, sekarang tidak tahu ada di mana. Kencang dan sangat merangsang. Menantang orang yang melihatnya untuk menjamahnya atau paling sedikit menyentuhnya. Albie ingin sekali menyentuhnya lagi, menciuminya lagi. Hasratnya menunjukkan untuk mendekatkan wajahnya ke buah dada Rere, tetapi hatinya mengatakan bahwa Albie seharusnya memulai dari atas dulu.
Perlahan tetapi pasti Albie mendekatkan wajahnya ke wajah Rere, memiringkan mukanya sedikit ke kanan dan entah perasaannya atau bukan, dilihatnya Rere juga memiringkan wajahnya ke arah sebaliknya mendekatkan wajahnya ke wajah Albie.
Bibir mereka bertemu, saling melumat satu sama lain. Sekarang Rere membuka bibirnya, Albie tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan lembut dia menyapu dinding-dinding rongga mulut Rere dengan lidahnya. Mecoba melilitkan lidahnya dengan lidah Rere.
Di lain pihak, Rere merasa ciuman ini adalah ciuman rasa terima kasihnya ke Albie karena sudah menolongnya. Rere berpikir sekarang dia sudah aman dan bisa pulang. Atau memang dia menginginkan ciuman itu? Tetapi Rere Benar-Benar sadar ketika dia mengalungkan lengannya melingkar di leher Albie. Menikmati pagutan mesra di bibirnya. Albie pun sekarang memulai mengaktifkan tangannya. Di peluk mesra gadis di depannya itu. Dibukanya lilitan bahan sofa dari tubuh Rere yang membuat Rere sekarang kembali telanjang bulat. Tanpa melihat dan sambil berciuman, Albie meremas kedua buah dada Rere. Dia semakin bersemangat dan terangsang ketika didengarnya Rere mendesah pelan dan bernafas berat di wajahnya.
Ciuman berpindah dari bibir turun ke leher. Albie merasa tanpa perlawanan Rere yang berarti menjelaskan bahwa Rere pun menikmatinya. Kembali Albie mencoba turun lebih ke bawah lagi. Kali ini remasan di dada Rere berubah menjadi jilatan dan gigitan kecil yang merangsang Rere menjadi tinggi. Rere memejamkan matanya. Tangannya meremas rambut Albie yang ada di dadanya. Merasa puas menggumuli buah dada Rere, dengan hati-hati Albie merebahkan Rere di bangku. Winnie The pooh sekarang berubah menjadi bantal, menahan baringan tubuh Rere di atasnya. Albie turun lebih ke bawah lagi menuju selangkangan Rere. Menjilat dan menekan-nekan tonjolan kecil di sana. Rere terkejut hebat dan menggelinjang tetapi di saat yang sama dia merasakan sensasi yang luar biasa di tubuhnya. “Aaacchhhhh… Bie…“ racau Rere terangsang berat. Cairan Bening kental mulai keluar dari lubang kemaluan Rere. Albie terus menjalankan jurusnya di selangkangan Rere. Jilatan di segitiga Rere sekarang berubah menjadi hisapan kecil. Masing-masing hisapan Albie di kemaluannya membuat Rere tak bisa menahan rangsangan yang bergejolak di tubuhnya.
“Aaaaccchhhhhhhhhhh… Bie… masukin Bie… Aku udah gak tahan…“ Rere heran mendengar dirinya berkata seperti itu. Tetapi itu bukan dirinya yang bicara. Tetapi perasaan hawa nafsu di luar kendali Rere. Albie pun mengambil posisi. Seakan lupa dengan luka di sekujur tubuhnya dan sakit di perutnya, Rere membuka kakinya memberikan posisi mudah Albie untuk berpenetrasi di dalam rongga kewanitaannya.
Peluh keringat menetes di dada Rere ketika jatuh dari dahi Albie saat dia berusaha menaikinya. Kembali mereka berciuman mesra sambil berpelukan seolah badan mereka serasa ingin menyatu. Albie menuntun batang kemaluannya di mulut kemaluan kekasihnya. Menusuk pelan-pelan agar sensasi yang didapatkannya dapat dinikmatinya. Jepitan demi jepitan di setiap inci batangnya sungguh terasa luar biasa. Permainan kali ini betul-betul lepas buat Albie. Respons luar biasa dari Rere pun membuatnya terangsang lebih tinggi.
Habis tertelan kemaluan Rere, Albie mulai menggenjotnya naik turun. Seperti tanpa lelah, ritme kali ini betul-betul teratur. Perlahan tapi pasti, dorongan-dorongan dikemaluan Rere semakin cepat dan sensasional. Rere hampir menggigit bibir Albie yang menempel di bibirnya. Pelukannya semakin kencang seakan tak mau menyudahi kejadian ini. Tak lama kemudian Rere merasakan otot pada batang yang ada di dalam kemaluannya semakin kencang dan berdenyut keras. Tak berapa lama kemudian, Albie menyemprotkan spermanya, dia berejakulasi di dalam kemaluan Rere. Sengaja tertanam lebih dalam, Albie membiarkan batangnya tertelan beberapa saat sampai batang itu mengecil dengan sendirinya. Menyudahi dengan mengecup kening Rere, Albie mencabut kemaluannya di ikuti aliran spermanya yang mengalir keluar dari kewanitaan Rere.
“Re…” Albie tak tahu harus bicara apa, “Makasih ya…”
Rere pun hanya diam saja. Bahkan ketika dia memakai celana pendek dan memungut baju ’serep’ dari jok mobilnya, dia diam seribu bahasa saat memakainya. Albie tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Tetapi dengan mantap dia kembali melilitkan bahan sofa yang tadi terlepas ke bagian bawah tubuhnya.
“Kamu tunggu sini ya… Aku mau cari kunci gerbang dulu. Mungkin aku bisa cari di tempat pak somad…“ Kembali Rere diam seribu bahasa, tetapi dia menganggukan kepalanya tanda setuju.
Albie pun keluar dan berlari kecil menuju belakang sekolah. Rere terus melihatnya sampai Albie menghilang tertelan gelapnya gedung sekolah.
Tidak sampai 10 menit berlalu Albie kembali dengan mimik lega. Sepertinya dia berhasil menemukan kunci yang dimaksud. Tidak langsung menghampiri Rere, Albie menuju gerbang sekolah, membiarkannya terbuka lebar dan menghampiri Rere.
“Ayo kita ke pergi dari sini…” Katanya sambil membopong Rere pindah ke bangku depan mobil. Rere pun mengangguk kuat seakan kata-kata itulah yang ditunggunya sejak bel pulang sekolah berbunyi.. Albie menstater mobil dan meluncurkannya keluar dari pelataran sekolah menuju keramaian di luar sana.
“Kita ke dokter dulu ya Re… kamu harus periksa luka kamu…“Albie menyarankan. “Apanya yang sakit?” tanya Albie kembali.
“Tadi perut aku sakit banget, but it’s ok now tapi My leg is killing me right now… gak tau, mungkin patah atau apa… hidung aku juga gak jelas patah ato enggak…” jawab Rere. Hal ini melegakan Albie. Menandakan dengan menjawab itu berarti Rere sudah tenang dan tidak marah kepadanya.
“Kok kamu bisa datang ke sini??“ Tanya Rere tiba-tiba ditengah-tengah perjalanan mereka.
“Aku emang belum niat pulang… suntuk banget abisnya. Tadi pulang sekolah aku sengaja tunggu kamu di kios samping sekolah. Aku masih liat mobil kamu di parkiran… jadi aku tungguin aja sambil ngobrol sama si Gondrong yang jaga kios…“
“Trus, kok bisa masuk ke dalam kan ke kunci…?“ selidik Rere tiba-tiba.
“aku manjat tembok…Aku emang niat belum pulang dulu sebelum liat kamu pulang trus selamat sampe rumah. Aku pikir kamu ada tugas penting di sekolah sampe lama belum pulang. Kirain juga kamu lagi ngerjain apa di Lab biologi ato di lab komputer gitu…“ “Sampe aku denger ada yang gedor-gedor gerbang trus denger kamu teriak minta tolong…“ “si Gondrong bilang itu cuma halusinasi aku aja karena aku kelewat khawatir and tergila-gila ama kamu…“ jadi aku ngecek sendiri ke sekolah, aku liat kamu udah mulai di tindihin sama si bangsat itu… jadi otak udah gak mikir panjang langsung aku manjat tembok…“ Gerutu Albie ketika mengingat bagaimana gadis impiannya di perlakukan oleh Ben dan teman-temannya.
Rere sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dia sungguh takjub mendengar bahwa Albie setiap hari selalu memastikannya selamat sampai rumah sebelum dia sendiri pulang ke rumahnya. Entah apa yang akan terjadi kalau Ben tidak datang pada saat itu. Mengulur waktu sebelum Ben dan kawan-kawan memperoksanya? Toh akhirnya dia juga diperoksa beramai-ramai. Tetapi setidaknya dia memberikan sesuatu yang berharga miliknya kepada orang yang disayanginya. Dan perasaan lega ketika dia mengetahui bahwa bukan Albie yang menjebaknya. Tetapi siapa? Ika? Tetapi kenapa Ika bisa setega itu? Salah apa dia sama Ika?
Sesaat dia memikirkan bagaimana persahabatannya dengan Lola. Mungkin sekarang saatnya dia mengesampingkan persahabatan dan mulai mengutamakan perasaan hatinya. Mungkinkah?
——————————–
A little preview:
Biodata Rere:
Full Name : Renata Bargen
Nick name : Rere
Nama Ayah : Andy Bargen
Nama Ibu : Kinanti
Nama sahabat : Lola
Umur : 16 tahun
Tinggi / berat : 168 cm / 50 kg
Ukuran Bra : 34 B
Hobby : Hanging out, music, movie (any things involved in entertainment).
Ciri-ciri : Rambut lurus panjang di bawah bahu (toning burgundy mengikuti fash)
Hidung mancung mungil (mixed ibu dan ayah), mata bulat sedikit besar, bibir mungil berisi, kulit putih mulus terurus. (gorgeous).
——————————–
Rere dijebak temannya Ika sehingga dia perkosa oleh empat pemuda berseragam putih abu-abu (tidak tahu dari sekolah mana) Ben, Zack, Sam dan Dave. Dengan segala perlawanannya, Rere berusaha untuk menyelamatkan diri sehingga menyebabkan beberapa luka di sekujur tubuhnya.
Albie laki-laki yang disukainya ternyata juga disukai sahabatnya. Datang menolong pada saat Rere betul-betul tidak berkutik lagi. Tetapi akhirnya pemerkosaan terus berlangsung dengan Albie memetik keperawanan Rere lebih dahulu.
“Pak Somad masih pingsan… tapi aku pikir besok dia udah sadar…“ kata Albie tiba-tiba membuyarkan lamunan Rere.
“Ooo…“ seru Rere sekenanya, dia jadi teringat bahwa pak Somad memang tak sadarkan diri ketika dia meminta pertolongannya.
Honda Jazz Rere meluncur ke kawasan perumahan di daerah Bintaro. Rere tahu itu adalah jalan menuju rumah Albie. Tiba di sana Albie memarkirkan mobilnya di depan rumah.
“kamu tunggu sini ya Re, aku ganti baju dulu“ katanya sambil melirik sepotong bahan yang melilit di pinggangnya. “Abis itu aku anterin kamu ke dokter…” Rere mengangguk pelan dan Albie pun langsung keluar dari mobil masuk ke rumahnya. Rere memperhatikan kompleks di perumahan tersebut memang sangat sunyi. Dia tahu Albie memang tinggal sendiri di rumahnya, seorang anak tunggal yang ditinggal kerja kedua orangtuanya di luar kota. Rumah Albie besar, tetapi sedikit tak terurus. Banyak rumput liar tumbuh lebih panjang di sekitar halaman depan rumahnya. 3 menit kemudian Albie muncul dari dalam rumah mengenakan pakaian lengkap. Jeans biru dan kaus denim warna merah ditutupi jacket jeans berwarna cream.
Mereka pun langsung meluncur kembali ke jalan besar. Albie membelokkan mobil tepat ketika Rere melihat gedung sedang yang berplang tertulis ’klinik 24 jam’.
“Cuma sedikit memar di pelipis dan bibir robek sedikit…“ demikian kata dokter jaga yang memeriksa Rere di klinik tersebut. “Ini tulang kering sepertinya tidak patah, cuma sedikit retak saja… ringanlah, tapi kamu harus istirahat dan pakai gibs sampai kurang lebih 1 seminggu… gimana? kok bisa jatuh sih? Kecelakaan di mana?“ selidik dokter.
“Cuma jatuh dari tangga aja kok dok, saya kepeleset abis tangganya licin…“ Rere berbohong kepada dokter, rupanya dia dan Albie sepakat untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya. Ada nada lega di setiap kata-kata Rere, mengetahui bahwa dia tidak mengalami patah tulang. Bagaimana nantinya kalau tulangnya patah nanti…
Setelah menyelesaikan segala sesuatu di klinik, Albie mengantar Rere pulang ke rumahnya. Rere juga berencana untuk membohongi orangtuanya dengan cerita yang sama yang diceritakan ke dokter. Dan Albie pun langsung mengemudikan mobil Rere menuju ke rumah sang pemilik.
*********
Seminggu setelah kejadian yang menyedihkan itu, Rere akhirnya kembali masuk sekolah. Desas-desus di sekolah selama Rere istirahat di rumah mengatakan bahwa (dari versi pak Somad) ada sekawanan pelajar dari sekolah lain yang menyerbu sekolah. Mereka (masih versi pak Somad) rupanya rival dari sekolah ini, mau menghancurkan sekolah dengan mengacaukan ruangan sekolah. Merusak apa saja yang mereka lihat dan karena hanya salah satu ruang kelas saja yang terbuka dan juga ruang BP yang kebetulan pada saat itu tidak terkunci.
Tidak ada yang mencurigai kenapa Rere harus istirahat selama seminggu dan datang dengan menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Rere pun juga bungkam seribu bahasa. Dia sudah memperingatkan Albie untuk merahasiakannya juga. Albie bersikeras untuk meminta Rere melaporkan ke pihak yang berwajib. Tapi entah karena hal apa, Rere lebih memilih diam. Mungkin dalam pikirannya, jika semua khalayak sekolah mengetahui kejadian itu, apa tanggapan mereka. Kasihankah? Jijikkah? Support positifkah? Atau malah melecehkan dia karena sudah di ’pake’ beramai-ramai. Tetapi siapapun yang menjebaknya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda. Ika juga sungguh tidak tahu mengenai air mineral itu. Dia sendiripun meminumnya dan pingsan di mobil tepat ketika supirnya mengantarkan pulang. Rere juga mendengar bahwa teman sekelasnya itu di bawa ke rumah sakit dan dokter memprediksinya hanya kebanyakan minum obat tidur saja.
Lola masih tidak mau di ajak bicara, Rere berfikir kenapa dia cepat sekali menghilang. Lola terlihat semakin menjauhi Rere ketika dilihatnya Albie semakin dekat dengan Rere. Rere sendiri juga sungguh merana, semenjak kejadian itu dia jadi sangat pendiam. Selalu murung dan tidak pernah meninggalkan bangku kelasnya selain bel sekolah yang memulangkan semua siswa. Tetapi sekali-sekali Rere masih menyempatkan diri untuk meng-sms Lola, mungkin suatu saat dia mau mereplynya. Sepertinya usaha Rere sia-sia, dia semakin merana. Rere merasa bahwa hari-harinya di sekolah semakin membosankan saja. Dia merasa sangat kesepian. Kecuali Albie (yang terus memperhatikannya), Rere merasa tidak punya hiburan sama-sekali. Dia mau Lola ada di sampingnya, hang out bersama, nonton bersama atau tertawa-tawa bersama seperti dulu lagi.
Kesepian Rere semakin menjadi ketika papa dan mamanya harus pergi ke Glasgow, Scotlandia untuk tugas kantor, “maybe three years, or four… We don’t know… depends on the duty dear…” papanya menjelaskan. “But, we’re going to pick you up right on your graduation, sweetheart...” Orang tuanya memang menyarankan Rere untuk menyelesaikan sekolahnya lebih dahulu di Jakarta . Dan mereka akan memboyongnya untuk kuliah di sana .
Sebenarnya Rere ingin ikut papa-mamanya, tetapi memang dia harus menyelesaikan pendidikannya dulu yang tinggal dua semester lagi. Sudah empat minggu berlalu Rere tinggal sendiri di rumah hanya di temani pembantunya. Sekarang dia sudah pulih seperti semula, tidak perlu menggunakan tongkat lagi. Albie pun sering berkunjung kerumahnya hampir setiap hari. Rere tidak mengerti, sekarang semenjak dia hidup mandiri, kehidupan seks sepertinya sudah menjadi hal yang biasa saat Albie berkunjung. Mereka pasti melakukannya jika ada kesempatan. Rere pun tidak kuasa menolaknya. Sebenarnya Rere juga tidak kuasa menolak kehadiran Albie ke rumahnya. Kadang dia merasa jenuh padanya. Tetapi sekali lagi, dia memutuskan untuk menjalaninya pelan-pelan.
*********
Hari ini cuaca panas sekali. Di dalam kelas pun Rere merasakan udara pengap yang luar biasa. Dia berharap pelajaran cepat selesai dan segera menuju mobilnya untuk menghidupkan ACnya dan mungkin alunan coldplay bisa mendamaikannya. Tetapi saat yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Lagi-lagi Pak Burhan tak henti-hentinya menerangkan sejarah tentang The Great War (War World One), War World Two dan prediksinya tentang War World Three semenjak kejadian 11 September di Twin Towers WTC, US. Rere sungguh bosan luar biasa. Entah kenapa dia paling Benci pelajaran sejarah walaupun dia tahu suatu saat pasti ada manfaatnya. “Who cares…” katanya dalam hati. Bell berbunyi tepat ketika pak Burhan menceritakan tentang kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan para pengamat dan peneliti dunia saat kejadian 11 September tersebut. Sebenarnya hal ini mungkin bisa dibilang menarik. Tetapi rupanya bukan hanya Rere yang merasa bosan, teman-teman sekelasnya pun langsung membenahkan buku-buku mereka dan segera berhambur keluar. “Kita sambung minggu depan…” teriak pak Burhan agak keras. Memang suaranya kalah keras dengan kebisingan aktivitas siswa-siswi pasca bell pulang.
Seperti yang dilamuni Rere, dia segera menuju pelataran parkir sekolah untuk menghidupkan AC dan menyetel musik di mobilnya. Rere tahu, Albie pasti lagi main basket bersama teman-temannya. Seakan tak perduli karena panas yang menyengat, Rere sedikit berlari menuju mobilnya. Dia sedang merogoh tasnya untuk mencari kunci mobil ketika tiba-tiba mobil Carry hitam berhenti mendadak di depannya hampir menyerempetnya, menggeser pintunya terbuka dan seorang pria tak di kenal mencondongkan badannya, mendekap mulut Rere dan menariknya masuk ke dalam mobil. Rere tidak menyangka hal ini akan terjadi. Kejadiannya begitu cepat, sampai dia tak sempat untuk berteriak. “Now what…” gerutunya dalam hati. Sampai di dalam mobil mereka langsung melaju mobil dengan kecepatan sedang sehingga tidak ada orang yang curiga.
Rere hanya melihat 2 orang ketika dia terduduk di dalam mobil, satu memegang kemudi dan yang satu lagi duduk di bangku tengah sebelahnya yang tadi membekap Rere. Dia tidak bisa melihat siapa yang mengemudi. Tetapi rasanya dia pernah melihat mata yang balik menatapnya dari kaca di dalam mobil. Rere juga tidak bisa mengenali orang yang duduk di sebelahnya, dia sungguh besar, dengan kulit coklat dan beberapa brewok yang tak tercukur rapi. Jantung Rere berdegup kencang.
Rere berusaha kabur tetapi Carry ini hanya mempunyai satu pintu samping yang di geser dan di jaga oleh orang di sebelahnya.
“Siapa lo??!! Ngapain lo bawa gue!!! Buka pintunya!!” Teriak Rere sambil mencoba meraih pintu mobil untuk menariknya terbuka. Tetapi tubuh lawan di depannya sungguhlah kuat. Dia menghadang dan membekap Rere yang melawannya.
“Hallo Re…pa kabar…” sapa tiba-tiba orang di depannya. Rere terkejut melihat sosok yang sekarang menghentikan mobil dan memalingkan wajahnya ke belakang untuk menyapa Rere. “Ben…” seru Rere dalam hati. Spontan Rere menjadi pucat, teringat kembali bayangan-bayangan menyakitkan yang terjadi 2 bulan yang lalu.
“Mau kemana sih? Kok buru-buru banget??” senyum Ben masih sama seperti dulu. Sinis dan menakutkan. Senyum itu membuat wajah tampannya menjadi tak berarti sama sekali.
“Ben…” Rere menyerukan nama itu tanpa sadar.
“Masih inget ya say… aku pikir kamu udah lupa… Oia, kenalin tuh namanya Tony… aku minta bantuan dia buat ngambil kamu…” seakan hal ini sudah biasa, Ben mengenalkan temannya yang langsung tersenyum sinis pada Rere.
“Gue pikir semuanya udah selesai Ben… Lo mau apa lagi?? Lo udah dapetin semua!!! Kenapa lo ganggu gue lagi!!?“ Teriak Rere hampir menangis.
“Tadinya emang gitu say… tapi engga tau kenapa, semenjak kejadian itu aku kebayang-bayang kamu terus…, kok kayaknya aku jatuh cinta ya…” Rere merasa nada itu seakan melecehkannya. “Sayang ya papa-mama kamu lagi di luar negeri… kalo enggak kan aku bisa dateng ngapelin kamu… kali aja bisa ngelamar kamu… he..he..he…” spontan Rere terkejut bukan main. Dia tahu itu kalimat sindiran. Dari mana Ben tahu kalo orangtuanya memang sudah pindah keluar negeri.
“Ngomong apa sih lo… Bokap-nyokap gue ada di rumah. Kalo mereka tau gue gak pulang mereka akan lapor ke polisi. Gue udah ceritain semuanya sama mereka, kalo ada apa-apa sama gue, gue udah mastiin ke mereka kalo lo yang ngapa-ngapain gue!!” Rere berbohong. Dia berharap Ben mempercayai kata-katanya dan melepaskannya sehingga kejadian ini tidak akan terjadi lagi.
“Aduuuh, kamu gak cocok banget ya kalo ngebo’ong…” balas Ben. “Aku tau papa-mama kamu udah pindah ke luar negeri. Aku kan tiap hari ngawasin kamu!! Lagian kalo emang bener cerita kamu. Emang orangtua kamu tau siapa aku?? Dari mana dia bisa ngelacak aku… say.. kalo mau bo’ong yang cantik donk…” celetuk Ben dengan nada malas dan kembali menyetir mobil tanpa memperhatikan reaksi Rere.
Seakan sudah di vonis mati, Rere terkejut bukan main. Kembali perasaan takut mengisi kepalanya. Spontan dengan segala upaya dia mendorong tubuhnya ke depan. Meraih kemudi dan membelokkannya ke kiri, ke tepi jalan berharap mobil ini akan menabrak sesuatu dan orang-orang sekitar akan menolongnya “Lepasin gue!!!” teriaknya. Tetapi rupanya Ben lebih tanggap. Dia segera menahan kemudi yang tak kalah kuatnya dengan tarikan Rere. Tony pun langsung beriisiatif untuk menarik Rere ke belakang dan menahannya.
“Lepasin gue lo bajingan!!! Lepasin gue!!!!“ Rere meronta dalam dekapan Tony yang kuat. Kakinya menendang-nendang Ben di depan, tangannya menggedor-gedor kaca berharap kaca itu akan pecah sehingga dia bisa berteriak minta tolong. Tetapi ketika dia berupaya dengan sekuat tenaga dari arah depan Rere merasa hidungnya ditutup dengan saputangan. Seakan dunia tidak berudara. Rere sulit bernafas. Bau obat bius sangat menyengat langsung mengalir masuk ke otaknya. Membuat dia pusing bukan kepalang. Rere melihat seakan-akan seluruh isi di dalam mobil berputar-putar di kepalanya dan tiba-tiba kepalanya berat luar biasa. Tubuhnya lemas tak berdaya, dan akhirnya Rere jatuh terkulai tak sadarkan diri.
Rere tidak bisa mengingat berapa lama dia pingsan, tetapi ketika dia tersadar, dia berada di ranjang besar dan empuk berkerangka besi ukiran yang indah di tata dengan beberapa bantal besar diselimuti bed cover. Spontan Rere meraba tubuhnya. Lega, pakaiannya masih lengkap. Sejenak dia memperhatikan ruangan sekitarnya. Sungguh mewah ruangan ini, dengan home theatre lengkap di sudut ruangan beserta koleksi dvd bertumpuk-tumpuk di sebelahnya. Dia bangkit turun dari tempat tidur berjalan mengitari kamar berusaha mencari pintu untuk pergi dari tempat ini. Ada beberapa pintu di sana. Rere menarik daun pintu dari salah satu pintu itu. Ketika terbuka, ruangan disebelahnya adalah kamar mandi besar dilengkapi dengan shower dan bathupnya. Hal ini biasa, yang membuat unik kamar mandi ini dilengkapi dengan jacuzzi bulat dengan gelembung air menguap dari bawah tak henti-hentinya. Rere menutup kembali pintu itu. Dia sedang tidak ingin mandi meskipun dia tergoda untuk mencoba menenggelamkan dirinya di jacuzzi itu, untuk menghilangkan penatnya.
Kembali dia membuka salah satu pintu yang lain. Ternyata pintu itu adalah pintu lemari pakaian dan sepatu. Bertumpuk-tumpuk sepatu tersusun rapi di raknya. Baju-baju, kemeja dan kaos terlipat dan tergantung rapi di salah satu sudut. Rere menyadari. Semua itu adalah ukuran dan model untuk laki-laki. Berarti dia ada di kamar laki-laki. Tetapi kamar siapa? Ben?
Rere menutupnya lagi dan membuka satu pintu yang tersisa. “Terkunci!!” hatinya melengos. “Di mana ini…” kembali dia mencoba untuk melihat sekelilingnya. Rere berkomentar kenapa kamar sebagus dan semewah ini tidak mempunyai jendela satupun. Tiba-tiba dari pintu yang terkunci terbuka menjeblak mengagetkan Rere yang terbengong takut di dalamnya. Ben muncul dan masuk ke dalam kamar. Menutup kamar dan menguncinya dari dalam.
“Udah bangun ya say… enak tidurnya??” Sapa Ben ramah. Rere tidak percaya dengan mimik Ben. Spontan dia mundur berusaha menjauh dari Ben. Rere melihat Ben hanya mengenakan celana pendek selutut dengan kaos oblong warna putih dengan sebatang rokok yang menyala dan asbak di tangan kanan, sementara di tangan kirinya dia menenteng paper bag besar yang Rere tidak tahu apa isinya. Ben menghampiri Rere, tetapi Rere lagi-lagi menjauhinya.
“Kamu kok kaya orang jauh aja sih say… takut?… apa malu? Gak usah malu dong say…kita kan udah kenal luar dalem…” Ben tersenyum, tetapi entah kenapa Rere tidak merasakan kesan manis di senyum itu.
“Pergi lo dari gue!!!! PERGI!!!!… TOLONG…TOLONG…TOLONG…!!” Rere berteriak ke dalam tembok. Berharap suara itu bisa menembus tembok dan memanggil orang dari luar. Tetapi dengan tenang Ben menghisap rokoknya, menghembus asapnya dan berjalan menuju tempat tidur, meletakkan paper bag yang dibawanya tadi di atasnya.
“Percuma say, kamu mau teriak sekencang apa juga gak bakal ada yang denger… Sekarang kita lagi ada di villaku, letaknya jauh dari perumahan… tapi jangan kebanyakan teriak… Aku pusing dengernya…” lagi-lagi Rere merasakan nada dingin yang mengancam di setiap kata-kata Ben.
“Di dalam paper bag itu ada baju ganti buat kamu… baru sebagian sih… ntar aku beliin lagi…mulai sekarang kamu tinggal disini sama aku sampai kita pindah ke tempat lain…” Ben bicara lantang seraya berjalan ke arah pintu seakan tak peduli dengan tawanannya. Rere tahu Ben mau keluar dari kamar ini. Dia sendiri heran dengan apa yang akan dilakukannya. Dia berlari ke arah pintu. Menghadang Ben di depan pintu tepat ketika Ben akan menarik gagangnya.
“A..aa..Apa maksud lo…? Selamanya? Disini…? Sama lo??” Rere gugup dan bingung dengan pertanyaannya.
“Denger ya re…” sambil mengapit dagu Rere dengan punggung telunjuk dan ibu jari tangan kanannya, Ben menengadahkan wajah Rere ke arahnya dan mendekatkan hidungnya tidak lebih dari seinci dengan hidung Rere. “Gue selalu ngedapetin apa yang gue mau… kalo gue bilang gue mau lo… gue pasti ngedapetin lo walaupun dengan cara apapun… mendingan lo mandi sana ganti baju biar seger… gue males maen sama orang yang loyo…” Rere merasakan tangan Ben di dagunya dingin sedingin kata-katanya. Tetapi bukan saatnya buat Rere untuk melempem. Dengan masih menghadang Ben di pintu Rere berusaha bicara dengan lantang.
“Gue gak takut sama lo Ben…ato siapapun nama lo!!…Lo lepasin gue sekarang ato gu…” belum sempat Rere menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba ‘PLAK’
Dengan Rokok dan asbak di tangan kiri, Ben menampar keras Rere dengan tangan kanannya dan langsung mencekik leher Rere yang jenjang. Spontan Rere tidak bisa apa-apa lagi. Tanpa sadar Rere memegang tangan Ben dengan kedua tangannya seolah ingin melepaskan cekikan Ben yang ternyata sangat kuat. Wajahnya yang putih lambat laun menjadi kemerahan. Matanya berair menahan nafas yang rasanya sudah 1 jam lamanya seiring dengan cekikan Ben di lehernya.
“Jangan pernah lo ngancem gue… Lo gak tau siapa gue!!! Mulai sekarang gue yang nentuin apa yang boleh and yang gak boleh lo lakuin!! Mulai sekarang lo harus nurutin semua perkataan gue… mulai sekarang nasib lo ada di tangan gue…” sungguh-sungguh Ben berbicara seakan ingin menunjukkan ke gadis ditangannya bahwa dia tidak main-main. Sambil mencekik leher Rere, Ben menarik Rere menjauh dari pintu. “mendingan lo mandi sekarang…” Ben melepaskan cekikannya, spontan Rere langsung terjatuh bersimpuh di lantai karpet, lepas keseimbangan dan terbatuk-batuk seakan udara yang masuk ke paru-parunya terasa sesak dan sedikit.
Ben kembali menghisap rokoknya dengan tenang. “Gue mau pesen makanan… sebentar lagi gue kesini… jangan pernah lo berani macem-macem…” kembali ucapan Ben dingin seperti es bagi Rere. Akhirnya Ben membuka pintu dan berjalan keluar. Rere tidak melihat Ben menutup pintunya, tetapi dia mendengar tanda klik arti pintu kembali terkunci. Tanpa sadar Rere mengisak, air matanya menetes di kedua pipinya yang putih mulus, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Bagaimana nasibnya nanti. Apakah Albie menyadari kalau dirinya sudah pergi ke tempat yang Rere gak tahu ada dimana. Tas sekolah dan telepon genggamnya juga tidak tahu ada dimana. Sambil berpikir, Rere berjalan menuju kamar mandi. Mungkin Albie akan menyadarinya kalau dia melihat mobil Rere masih terparkir di pelataran sekolah. “Ya, pasti Albie datang menolong lagi…” Rere berusaha menghibur dirinya sendiri.
Rere membuka kran air dan menutup sumbat di bathup. Dia mengisinya dengan air hangat… membuka pakaiannya dan meletakkan tubuh telanjangnya ke dalam bathup yang sudah setengah terisi. “hangat…” katanya dalam hati. Serasa dia lupa sedang berada dimana, dia menikmati tubuhnya terendam air hangat dan menikmati bath time-nya, Rere memejamkan mata dan mulai tertidur ketika tiba-tiba ada tangan yang menyentuh bahunya. Rere terlonjak kaget. Ketika membuka matanya dia melihat Ben sudah ada di sampingnya
“Kamu seksi deh kalau basah…” senyum Ben kembali menghiasi wajahnya. Rere benar-benar benci orang yang ada dihadapannya. Dia mencari handuk, tetapi tidak ditemukan. Dia mencoba mengambil seragamnya untuk menutup tubuhnya. Tetapi seragam itu tidak ada di lantai tempat dimana tadi dia meletakannya. Rere berusaha menutup tubuhnya dengan tangannya meskipun dia tahu tidak akan berhasil. Alhasil, dia hanya menutupi buah dadanya yang putih kenyal dan sangat menantang itu dengan melipat tangannya di daerah tersebut sementara kemaluan Rere tak kuasa untuk ditutupi.
Ben dengan santai mencoba untuk mencium bibir Rere. Tak diduga, Rere mendorong tubuh Ben menjauh dan keluar dari bathup. Ben pun terjatuh ke lantai kamar mandi yang licin. Dengan telanjang Rere berlari keluar dari kamar mandi menuju kamar, dia meraih pintu keluar, tetapi pintu itu terkunci. Rere menelusuri kamar dengan pandangannya mencoba mencari kunci untuk membuka pintu. Tepat ketika Rere berputar, Ben sudah ada di hadapannya dan langsung saja kembali Ben menampar keras Rere hingga Rere terjatuh terjerembab di lantai karpet. Ben memutar tubuh Rere agar terlentang dan menindihnya. Dia langsung menciumi gadis yang ada di bawahnya itu dengan nafsu yang tinggi. Rere masih saja berusaha untuk menghindar, melupakan rasa perih dan panas di pipinya dan berat tubuh lawannya.
“Jangan…please… gak mau… TOLOOOONG!!! TOLOOOONG…TOLLffmpph…” Ben menghentikan lolongan Rere yang keras dengan menerkam bibirnya, melumat dengan ganas. Lidahnya berusaha masuk ke dalam mulut Rere, bermain-main di dinding rongga mulutnya. Tangan Ben yang kuat membekap kedua tangan Rere ke atas, membuat tubuh Rere terlentang pasrah menantang lawannya. Sambil menahan tangan Rere, Ben menindih dan mencumbui bibir Rere. Entah kenapa permainan ini tidak bisa dinikmati Rere seperti waktu yang lalu. Pikirannya kalut, marah, takut dan bingung menjadi satu. Dia benar-benar tertekan. Cumbuan Ben sekarang turun ke buah dadanya. Lagi-lagi mulut Rere yang terbebas kembali berteriak, hal ini membuat Ben senewen. Dengan tidak melepaskan tindihannya. Kembali Ben menampar Rere.
“Diam!! Ato gue siksa lo pelan-pelan!!” Ancaman Ben ternyata membuat Rere ciut. Dia pun menjadi diam. Dia tidak mau disiksa, tetapi juga tidak mau diperkosa. Rere memilih diam walaupun dalam hatinya sangat memberontak.
Ben pun kembali meneruskan permainannya. Setelah mengetahui ancamannya berhasil, Ben melepaskan bekapan tangannya pelan pelan. Rere pun tidak berkutik lagi. Dia hanya diam terlentang tak bereaksi sama sekali. Matanya menatap ke langit-langit, hampa dan kosong. Beberapa tetes air mata menetes keluar tanpa reaksi. Sementara mulai membuka pakaiannya satu persatu, sehingga dengan hitungan detik, Ben sudah berbugil ria. Dia terus melumat tubuh Rere yang hanya pasrah menerima setiap cumbuannya. Ben mulai menuruni badan Rere menghadapkan wajahnya di selangkangan Rere. Ben membuka paha Rere dan membenamkan kepalanra di pangkalnya. Ketika lidah Ben menjilat klit daging kecil di sana, Rere menggelinjang sedikit. Bukan rangsangan tetapi perasaan tidak nyaman yang dirasanya.
Rere sama sekali tidak menikmati pergelutan kali ini. Dia merasa seperti di sangkar burung emas yang mengurungnya. Ketika dirasakan batang kemaluan Ben mulai menekan liang sanggamanya. Rere berusaha mendorong tubuh Ben dari atasnya. Tetapi Ben tak bergeser sedikitpun. Dia semakin bernafsu mendengar Rere mengerang kesakitan. Tepat ketika dirasakan posisi batang kejantanannya tepat di pintu sanggama Rere, tanpa peringatan, Ben langsung menusukkannya jauh ke dalam. Rere menjerit kesakitan. Kemaluannya yang kering tidak siap untuk dimasuki benda apapun membuatnya sangat menderita. Ben sama sekali tidak memperdulikannya, dia mulai menggenjot tawanannya. Semakin lama semakin cepat sehingga dorongan-dorongannya yang kuat membuat badan Rere terdorong maju mundur.
“Enak banget sih say punya kamu… uuggh…” Ben meracau ditelinga Rere. Kembali air mata rere mengalir tak terasa. Dia tidak mengisak juga tidak bereaksi sama sekali.
“Aku emang sengaja engga make kamu waktu itu… biar aku jadi orang yang terakhir yang make kamu sampai selamanya…“ Rere tidak mendengarkan celoteh Ben. Dia sedikit meringis ketika genjotan Ben semakin dalam dan cepat.
Tiba-tiba Ben mencabut batang kemaluannya dari kemaluan Rere. Sedetik kemudian dia mengangkat kedua kaki Rere ke atas sehingga Rere merasakan kedua lututnya tepat menempel kuat di masing-masing buah dadanya membuat selangkangannya lebih terbuka menantang. Ben menahan kedua kaki Rere dan mengarahkan batangnya ke selangkangan Rere. Tetapi bukan kemaluan Rere yang dicoba ditusuknya, melainkan saluran pembuangan belakang Rere. Rere pun terlonjak kaget ketika dirasakan anusnya diraba oleh kepala kemaluan Ben. Dia memberontak kuat menolak keras maksud dan tujuan Ben.
“Jangan!!! Jangan di situ…Jangan!!!! gak mau… jangan!!“ Rere memberontak. Dia menggoyang-goyangkan tubuhnya keras berusaha memelesetkan kepala kemaluan Ben di lubang duburnya. Tetapi sekali lagi usahanya sia-sia. Ben mengunci mati tubuh dan kaki Rere tak berkutik. Dia pun menusukkan kepala batangnya ke lubang belakang Rere. Sedikit demi sedikit batang itu menerobos masuk ke dalam. Rere menggigit bibirnya sendiri. Serasa sesuatu merobek tubuhnya. Kali ini dia mengerang keras ketika Ben menggenjot lubang belakangnya. Ben tahu itu bukan karena kenikmatan, tetapi dia semakin bersemangat memompa dubur Rere.
“Aku kan gak merawanin depan kamu waktu itu… Boleh donk aku merawanin belakang kamu…“ Ben berbisik pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke telinga Rere.
Rere sungguh tersiksa dengan anal seks ini. Sungguh mati dia tidak membayangkan dirinya beranal dengan pria manapun. Ketegangan dan kesakitan melanda tubuh Rere. Keringatnya sekarang mengucur menahan sakit bercampur dengan air matanya. 5 menit pergelutan itu berlangsung. Rere sungguh tidak kuat lagi. Akhirnya Ben mempercepat genjotannya di dalam dubur Rere. Beberapa detik kemudian Rere merasakan batang yang tertanam ditubuhnya berdenyut kuat dan tak lama sesudahnya Ben menyemprotkan cairan spermanya di dalam tubuh Rere.
Ben tidak menunggu batangnya mengecil terlebih dahulu, dia langsung mencabut kejantanannya dari dalam tubuh Rere. Dilihatnya spermanya mengalir keluar bercampur cairan sedikit berbusa berwarna pink. Ben tahu itu adalah darah Rere. Dia sadar telah memerawani anus Rere. Ben pun tersenyum.
We’re going to have the greatest days everyday honey…” katanya sambil mengecup kening Rere. Rere memalingkan mukanya. Dia melingkarkan tubuhnya dilantai karpet, memeluk lututnya dan mengisak mengucurkan air mata. Sementara Ben berjalan meninggalkan Rere menuju kamar mandi. Sedetik kemudian Rere mendengar bunyi gemericik air mengalir dari kamar mandi. Dia tahu Ben pasti sedang membersihkan badannya. Dia sungguh-sungguh benci orang itu.
Lima menit kemudian Ben keluar dari kamar mandi. Dia melilitkan handuk kecil di pinggangnya. Rere pun masih bersimpuh di lantai karpet. Ben menghampiri Rere, berjongkok di sebelahnya sambil membelai rambut Rere.
“Say… Mending kamu mandi deh…biar seger… tar lagi makanan dateng…aku tungguin makanan di luar ya… ntar lagi aku ke sini… “ katanya mesra. Rere sungguh tidak menggubris pesan Ben. Dia terus melingkarkan tubuhnya di lantai karpet tempat dimana pergelutan terjadi beberapa menit yang lalu. Ben pun bangkit dengan tak lupa mengecup rambut Rere. Dia berputar menuju pintu, membuka dan berjalan keluar ruangan. Sekali lagi Rere mendengar bunyi klik tanda pintu kembali terkunci.
Rere berpikir sampai kapan dia akan mengalami nasib seperti ini. Dia sekarang putus asa. Sia-sia sudah air matanya mengalir di pipi, tetapi tidak bisa meluluhkan perasaan Ben yang sekuat baja. “Mama…” katanya menangis tersedu. Seandainya dia bisa bertemu mamanya sekarang, mungkin hatinya akan tenang. Tetapi hal itu tidak mungkin. Dia benar-benar tidak tahu ada di mana sekarang. Menunggu dan menanti apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya.
Detail
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Jav Pro Sex - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger